Puisi Wiji Thukul dan Titiek Soeharto

Oleh: Sunardian Wirodono
Kemarin ada foto demonstran yang membawa poster dengan puisi model-model Wiji Thukul: Mereka berdiri di bak mobil bertuliskan HMSI Riau. HMSI, ternyata kependekan dari. Himpunan Masyarakat Soehartonesia Indonesia. Soehartonesia, Bung! Baca itu!
Yang menarik, pengutipan puisi Wiji Thukul, walau secara serampangan. Kita bisa bandingkan dengan puisi berjudul ‘Peringatan” dari Wiji Thukul. Sekalipun cara penulisan mereka tak kalah keren, “tampa alasan” dan “dituduh supersip”. Supersip apa supersija? Hanya ada satu kata, tulisnya; “Lawan, ganyang PKI.” Tiga kata dong!
 
Subhanallah. Mengharukan. Mereka mengritik situasi sekarang ini yang dikatakan kritik dilarang dan suara dibungkam. Dan tiba-tiba, ‘Ganyang PKI!’ Itu komposisi aneh. Pakai mobil ormas pro Soeharto dan ngganyang PKI, masih bisa diterima. Tapi ngutip puisi Wiji Thukul? Seorang ahli strategi intrik mengatakan think-tanknya oke. Tapi ada yang bilang, itu think tank yang bodoh. Saya lebih percaya yang kedua.
Namun, betapa dahsyat apresiasi sastra kita. Sampai penyair garda sastra kontekstual (yang penggalan puisinya jadi kutipan favorit demonstran 1998 melawan Soeharto), kini dipakai balik oleh mereka yang pro-Soeharto. Bahkan oleh mereka yang menyebut diri Soehartonesia, Soeharto seolah negara itu sendiri, sepadan dengan Indonesia.
Ternyata bukan cuma puisi Sapardi Djoko Damono yang disukai cewek-cewek. Meski para cewek berkerudung di atas mobil HMSI Riau itu bukan remaja. Dari wajah dan bentuk tubuh, lebih meyakinkan sebagai mak-emak. Walaupun mak-emak bukan makhluk lemah. Jangan bias gender atau sexual harresment. Sekarang ada the power of emak-emak? Ape loe! Ape loe!
Tentu mengutip puisi Wiji Thukul bukan mionopoli demonstrans. Bahkan, lebih dahsyat lagi Titiek Soeharto, yang ternyata penasihat dan pelindung HMSI tadi. Dalam akun instagramnya, pun juga mengutip puisi Wiji Thjukul, “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”. Ia bahkan sudah mengutipnya Agustus 2017. Ketika itu, Ahok sedang jadi target.
Bener-bener dahsyat. Dunia literasi kita sangat membanggakan. Entah sekarang kita berada di urutan berapa, dari seluruh negara di dunia. Pasti banggalah, setidaknya pernah nomor dua, dari bawah. Diatas salah satu negara Afrika Selatan.
Belum lama lalu, dari kelompok PA-212, FPI, GNPF Ulama, dan sejenis gitu-gituan itu, mereka meneriakkan yel-yel membela Pancasila, NKRI. Bunyi poster mereka juga demikian mengharukan. Bahkan mereka berjuang mendirikan lembaga baru lagi, bernama ANAK-NKRI. NKRI harga matilah. Bukan lagi thogut atau negara yang dikutuk Allah, karena pantatgila sebagaimana ucapan sang imam yang kabur kanginan itu.
Hati ini meleleh melihatnya. Jauh lebih ambyar dari sekedar nonton Didi Kempot. Belum lagi ujaran mereka. Bahwa selama ini dari saudara-saudara mereka yang beragama Kristen, Hindu Buddha, mereka tak pernah dibully. Kalau membully? Hus! Bukan itu. Tapi ini lho pernyataan mereka: Justeru dari saudara-saudara sendiri yang segama, mereka dibully. Jahat to? Mangkanya kesimpulan mereka, yang ngebully mereka adalah komunis yang menyamar. Playing victim yang wagu.
Nah, soal menyamar ini, saya jadi ingat apa yang ditulis anak perempuan Wiji Thukul. Kemarin juga (26/6), ketika lagi bongkar kardus buku di bawah tangga, dia menemukan foto Wiji Thukul. Dengan kacamata, rambut rapi, baju putih, dan berdasi.
Penemuan foto yang tersimpan rapi selama lebih 20 tahun itu, sungguh menggetarkan. Kenapa mesti mengubah penampilan? Kenapa mesti menyamar? Penjelasan putrinya, itu penyamaran Wiji Thukul tahun-tahun 1996 – 1998, ketika ayahnya dikejar-kejar rezim Soeharto. Dan hingga kini tak ada kabarnya.
Senyampang itu, di atas bak mobil bertulis HMSI (pendukung Soehartonesia), juga di akun IG Titiek Soeharto, puisi Wiji Thukul dikutip-kutip. Mungkin mereka menduga Soeharto dulu jatuh antara lain karena puisi Wiji Thukul. Kini mereka juga ngarep Jokowi jatuh, karena puisi dari penyair yang sama? Lho, lha terus yang membela Pancasila dan Anak NKRI tadi, bijimana nasibnya?
Perubahan selalu sering mengharukan. Asu, eh, tisue, mana tisue,….!
 
(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)
Thursday, July 2, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: