PUBG, Pemilu Dan NU

ilustrasi

Oleh : Widhi Wedhaswara

Kalau bermain game PUBG, akan ada momen ketika bermain, tembakan sering membabi buta, sehingga tidak kena kemana mana malah menjadi backfire bagi diri sendiri dan tim, alhasil titel "Sir Miss A lot" atau "Wild Fire" tercantum di akun pemain ketika game usai, seperti yang sering saya lakukan. 

Ketika kita melihat perjalanan pemilu kali ini, saya melihat hal yang sama dari salah satu kandidat, Dibanding dengan adu gagasan dan program, upaya deligitimasi lebih sering dilakukan oleh kandidat atau pun pendukungnya dengan menembakkan random fire ke segala arah

Upaya - upaya untuk melemahkan atau membuat pemilu ini tidak sportif dilakukan oleh kelompok tertentu, mulai dari menembak KPU dengan hoax 7 kontainer agar terlihat lembaga penyelenggara tersebut tidak netral, Walau pelaku penyebaran hoax sudah ditangkap dan diklarifikasi bahwa berita tersebut bohong belaka, namun peredaran beritanya tidak semasif ketika menyebarkan hoax 7 kontainer.

Selain KPU, Pihak kepolisian juga menjadi sasaran mereka, mulai dari isu "Buzzer Sambhar" yang sekarang menghilang beritanya, sampai ceramah Haikal Hassan sang pakar lulusan S3 Israel yang mengatakan kepolisian harus netral dan mengayomi, Namun alih - alih melaporkan ketidaknetralan dengan bukti, mereka hanya mampu membuat gaduh dengan isu - isu yang mereka ciptakan sendiri.

Selain dua lembaga diatas, Lembaga survey juga menjadi sasaran tembak mereka, Lembaga Survey dengan status kredibilitas yang jelas mereka tidak percaya, namun mereka bersorak ketika ada lembaga survey yang memenangkan mereka, mungkin mereka ingin mengulangi sujud syukur seperti 2014 dengan lembaga survey hasil PKS yang ujung-ujungnya dibohongi dengan bukti 3 truk kontainer.

Terakhir mereka menembak Organisasi Nahdlatul Ulama, Mulai dari menghina Kyai dan Ulama, melangkahi makam pendiri NU, mencemooh banser, sampai hastag - hastag untuk melemahkan NU, namun ujung-ujungnya menyebarkan konten dengan logo NU catutan atau berpakaian ala Ansor untuk mendapatkan simpati Nahdliyin. Terakhir mereka sampai mengakui bahwa Hari santri diusulkan oleh salah satu petinggi partai mereka.

Ibarat pemain bola, ketika masih bertanding semua hal mereka lakukan, mulai dari diving dengan hoax nenek - nenek oplas (Tegas sih tapi ditipu ama nenek2), Sampai menyalahkan wasit, pemain hakim garis, sampai Ballboy bahkan Office Boy stadion mungkin akan disalahkan kemudian ramai - ramai berteriak #INAErectionObserverSOS, Iya erection karena ereksi mereka dengan syahwat dan napsu sehingga mereka merasa perlu untuk ditonton ala film - film Vivid Video.

Pesta demokrasi sejatinya adalah sebuah kegembiraan, Namun pemilu kali ini terasa berbeda, dengan ditunggangi ormas terlarang, gema - gema ganti sistem pemerintahan karena sistem demokrasi (pemilu) yang mereka anggap tidak sesuai dengan Alquran dan Hadis, Sampai didukung oleh orang - orang yang berafiliasi dengan teroris global ISIS.

Sebulan ke depan, dagelan - dagelan akan semakin sering diperlihatkan, sudah saatnya semua pihak jika memang ingin Petahana menang kembali, turun untuk menyuarakan. Jangan merasa lengah, ajak kembali pendukung ataupun silent majority untuk bergerak ke TPS - TPS terdekat pada tanggal 17 nanti demi kemenangan #01

Sumber : Status Facebook Widhi Wedhaswara

Saturday, March 23, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: