Puasa, Korupsi itu Kere(n)

Ilustrasi

Oleh Thamrin Sonata

KORUPSI itu maling uang rakyat sekaligus merapoknya. Dan itu, tak mengenal siapa dari golongannya dan kapan waktunya. Jiwanya memang di situ: berkilat-kilat (hijau) matanya apabila melihat uang merah – nominal paling besar uang kertas di negeri ini. Meski bisa juga simbol tokoh besar dalam bentuk dollar.

Perihal kapan waktunya, termasuk ketika pengerat tikus uang ini tak mengenal bulan apa. Saat ajaran dan sekaligus larangan untuk menjaga kesucian dari perbuatan nista. Nista! Kok berani-beraninya merampok uang bukan miliknya di bulan puasa.

Sekarang, mau bilang apa? Kalau ia tertangkap tangan alias Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK. Yang boleh jadi jiwa pengeratnya memang di situ. Dan bukan ia saja. yang kebetulan maunya disebut orang terhormat sebagai wakil rakyat. Atau cumalah seorang pencatat (panitera) perkara hukum yang semestinya tidak susah-susah amat mengerjakannya. Kecuali, boleh jadi, ia sudah satu geng dengan atasannya. Lha, ndak kapok-kapok seorang panitera main curang. Sementara temannya, (Royani) seorang sopir di lingkungan MA ndak ketahuan rimbanya. Lembaga terhormat ini seperti ingin melindungi sopir maling itu.

Namanya boleh I Putu Sudiartana anggota komisi III DPR. Dan partainya bisa Demokrat yang sudah menghasilkan sejumlah anggotanya menjadi maling uang kita dan masuk penjara. Ya, penjara yang tak membuat mereka jera. Namanya boleh Dewie Yasin Limpo, dan partainya Hanura. Ya, Hati Nurani Rakyat! Tapi kan bejat-bejat juga soal mentalnya. Karena orang partai pemenang semisal Damayanti Wisnu Putranti pun ikut-ikutan tak elok perbuatannya. Nama, etnis dan jenis kelaminnya bisa apa saja. tetapi begitulah adanya: untuk mengkorupsi uang negeri ini.

Lalu kita bisa terakan orang-orang di lingkungan Hukum. Bisa nama Edy Nasution atawa yang akan mengikutinya Sekretaris MA Nurhadi – berulangkali diperiksa KPK. Atau pula seorangnya sopir petingginya yang menghilang itu. Semua sama saja. Korup-korup juga. Pengerat-pengerat uang rakyat juga.

Jika saja bulan puasa bisa meredam hasrat berlapar-lapar sebagai ajaran baik dan benar, mestinya mereka yang merasa orang terhormat tidak melakukan perbuatan tercela. Ya, tercela. Sebagai maling uang. Ini, jelas, bukan perbuatan keren. Tapi perbuatan kere!

Itu saja!

(Kalau mau ditambahi, ketika rakyat mudik untuk berlebaran dengan uyel-uyelan di angkutan umum, dan setelah berkeringat di Jakarta, pulang kampung pun bersusah-payah. Namun bagus. Karena mereka tidak pulang ke penjara seperti pengerat laknat itu).

Kompasiana

Sunday, July 3, 2016 - 12:30
Kategori Rubrik: