Puasa, Haji dan Yaman

 

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Tahun ini adalah tahun tdk baik buat saya dlm menjalankan ibadah dibulan ramadhan. Saya kecewa kpd orang-orang yg harusnya menjaga amanah dan jujur dlm menjalankan operasional masjid dan lingkungan, bkn seenaknya memakai uang tanpa kejelasan. Ini fenomena setan yg sdg berjalan. Kondisi ini membuat sy enggan ke masjid, krn sy tak sanggup berbasbisbus kpd org munafik.

Diluar itu semua, sy merenung membaca artikel seorang Yahudi yg lbh memilih memutar uang di bursa saham daripada membangun villa mewah, membeli mobil yg wah, serta menambah harem yg terus ditambah. Artinya, kalimat Rasullulah yg mengatakan sebaik-baik manusia adalah manusia yg bermanfaat utk orang lain. Nah, ternyata kalimat itu diaktualisasikan oleh sang Yahudi, yg selalu kita caci maki. Kalau disini, orang Cinalah yg jd sasarannya, tapi dari si Cina pula jutaan tenaga kerja dipekerjakan dan isi perutnya diisi oleh usaha yg dipikirkan oleh si Cina, kemana kita? Itu pertanyaannya.

 

Artikel yg lain adalah ribuan nyawa yg mati dan ribuan perut tanpa isi di Yaman, wilayah itu hanya berjarak seperti Surabaya- Jakarta dari Makkah, dimana baitullah yg setiap tahun dikunjungi jutaan manusia berhaji dgn sejuta doa. Minta ampun, minta kaya, minta naik pangkat, minta jodoh, dan minta apa saja. Sudut-sudut tempat yg mustajabah penuh sesak, raudah menjadi tempat jujukan berdoa, saking panjangnya doa sampai lupa gantian tempat berdoanya di tgg orang lain. Ini yg sy katakan berdoa saja serakahnya nemen.

Katanya berhaji tak sah kl jarak 40 rmh dari rumahmu msh ada org lapar, dan org yg bth bantuan. Tidak ada gunanya puasa kl msh ada tetanggamu yg lapar, puasamu 30 hr tdk bs menggantikan satu perut saudaramu yg kelaparan. Bagaimana puasa kita, bagaimana haji kita, saat kita tawaf dibarengi ribuan anak Yaman meregang nyawa disebelah sana, sementara tiap tahun kita nyetor devisa ke Arab Saudi tak kurang dari 50 triliun utk biaya haji dan umroh. Arab Saudi bs mengeruk uang jamaah lebih dari 500 Triliun trmsk belanja dan penginapan, dan Arab Saudi termasuk yg mengebom Yaman. Uang menjual baitullah dibuat membunuh hamba Allah.

Ah, gak gampang melepaskan yg kita nikmati utk bisa berbagi, padahal janji Allah semua jelas dalam perbuatan baik pasti ada kembalian yg lebih baik, hanya sulitnya krn tak kelihatan imbalan seketika. Kenapa beribadah ramai saat ramadhan, kenapa berhaji ramai kdg sampai dipaksakan, ya karena imbalan yg dijanjikan dari Tuhan, sampai kita lupa ada syarat imbalan, tidak bs asal terkam bak harimau menyantab ayam. Puasa yg diterima hrs yg paripurna, haji yg mabrur hrs yg jujur. Jangan buka dan makan sahur makanan memenuhi meja uangnya dari menerima imbalan jual jabatan, jangan berhaji berkali-kali ongkosnya dari uang ngakali dan korupsi. Awas setan paling suka masuk melalui jalur ibadah, jangan ibadahmu diindahkan oleh kehadiran setan.

Yaman, sebuah negeri berbatasan dgn Arab Saudi yg sangat kontras menerima perlakuan kemanusiaan. Jangan kata membantu, bahkan meliriknya saja penuh kejijikan yg mendalam, entah politik apa yg sdg dijalankan, sampai tetangganya selalu dikirimi bom sbg makanan keseharian.

Jangan tanya ttg agama disana, bahkan mungkin anjing akan lebih mulia menjaga tuannya, namun Arab Saudi seolah tak ingin punya tetangga. Dia takut membagi kekayaannya kepada manusia dhuafa, even hanya sebutir kurma.

Tuhan punya himbauan, Tuhan pula yg punya catatan. Entah siapa yg menerima kemuliaan dialam yg mana Tuhan menyiapkan. Apakah didunia atau dialam baqa, Tuhanlah yg punya kuasa. Kita hanya berbuat, catatkanlah perbuatan baikmu walau sebesar biji zarah, catatkanlah ibadahmu dalam ibadah yg sesungguhnya bkn gaya-gayaan, bahkan menyebut dirimu pembela Tuhan. 

Yaman, puasa, haji, dan hilangnya rasa kemanusiaan, hilang sudah aroma rahmatan lilalamin, bahkan kelak bekasnya akan terlihat direruntuhan negeri itu, bahwa disana, rahmat Allah terabaikan hanya karena manusianya memupuk kebejatan yg berkelanjutan. 

Bertakbirlah di Yaman, bertawaflah di Yaman, agar suara keagungan Tuhan bs direfleksikan, bukan sekedar diucapkan.

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)
Friday, May 17, 2019 - 00:00
Kategori Rubrik: