Puan Minta Maaf? Gundulmu Kuwi

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Bagaimana cara kita berpersepsi bila Balitbang Kementerian Agama RI, dalam laporan akhir tahun 2018 menempatkan Sumatera Barat pada urutan ke 32 propinsi yang tingkat toleransinya mencemaskan?

Demikian pula bila Hasil survey tentang indeks Kerukunan Umat Beragamanya pada tahun 2019 menempatkan Sumbar dan Aceh pada urutan buntut?

Seharusnya itu bukan tentang tuduhan tak berdasar. Ini adalah tentang data dan sudah selayaknya kita mengelus dada. Hari gini, masih ada cerita seperti ini.

Trus ketika Puan bicara "Untuk Provinsi Sumatera Barat, rekomendasi diberikan kepada Ir. Mulyadi dan Drs. H. Ali Mukhni. Merdeka! Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila," dan kemudian mereka ngamuk??

Sikap bijak bila agama adalah bagian melekat masyarakat Sumbar, seharusnya tentang tengoklah kedalam sebelum bicara, bukan ledak murka dan amuk saat mulut terbuka.

Bukan itu milik baik agama patut dibanggakan apalagi Tuhan.

Tampak jelas bahwa Puan membawa data valid atas apa yang diucapkannya. Puan tidak asal bunyi. Dia mengungkapkan rasa prihatin serta harapan baik itu kepada masyarakat Sumbar.

Burukkah? Bahwa kemudian justru ada yang kemudian melaporkannya, jelas mereka bukan sedang tersinggung, mereka sedang merasa punya momentum. Untung-untungan mereka lapor. Diterima bonus, ga diterima, alasan demo berjilid-jilid dan menuduh aparat berpihak memiliki legalitas. Dan, akan terus seperti itu.

Ya...,Sumbar memang darurat toleransi bila Pancasila adalah ukurannya.

Bahkan, The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) atau The Institut Analisis Kebijakan Konflik, pernah memperingatkan Pemerintah Republik Indonesia, untuk mewaspadai jaringan ISIS yang memiliki hubungan dengan jaringan teroris Afganistan di wilayah Provinsi Sumatera Barat.

Dang ding..???

Hal itu pernah terungkap dalam rilis IPAC berjudul: “Learning From Extremists in West Sumatra” atau “Belajar Dari Ekstremis di Sumatra Barat”, Jakarta, Jumat, 28 Februari 2020.
https://independensi.com/…/ipac-sebut-ada-jaringan-isis-di…/

Ehh...,jadi inget tanggal 21 sampai dengan 27 Juli 2020, telah dilakukan penegakkan hukum terhadap 9 tersangka tindak pidana terorisme kelompok JAD Padang, Sumatera Barat oleh Densus 88.

JAD? Teroris itu? Nah kann...,bukan tanpa data kan Puan?

Pernah dengar pelarangan aplikasi Injil alkitab Kristen berbahasa Minang?

Kalau otak beres, ga mungkin ide super norak itu muncul. Lha bahasa koq dikaitkan sama agama? Bahasa koq seolah ikut memeluk agama? Pasti ada yang ga beres dengan nalar bahkan mungkin emosi yang labil.

Injil dalam bahasa Arab, bahasa yang lebih islami bila itu adalah ukurannya, dia tersebar dan dibaca dimana-mana dan tak ada satupun umat islam di Arab yang bereaksi seperti itu bukan?

(Sesekali boleh juga sie coba bawain salib di depan mereka, kalau kepanasan pasti...

Ini bukan tentang islami atau tidak, ini tentang racun toleransi yang digagas dan terus dibangun. Ini sengaja terus digaungkan dengan sistematis.

Dengan mudah kita tebak, ujung-ujungnya nya pasti, tentang menunggangi agama demi perut buncit tak pernah kenyang.

Pengecut? Ga bisa bersaing tanpa ngumpet dalam dogma agama? Kenapa tidak, bila itu jalan lebih mudah mendapat dukungan mereka yang tak paham?

Ingat pulakah larangan merayakan Natal warga Nasrani di Kabupaten Dharmasraya dan Kabupaten Sijunjung tahun lalu? Dan kita, seluruh rakyat Indonesia dipermalukan dan dicap seolah demikianlah adanya Indonesia bukan?

Partai Sapi memang hebat, memang jagoannya bila hal-hal seperti ini adalah targetnya. Partai yang masih tanda tanya, partai yang masih abu-abu bila Pancasila adalah dasarnya.

"Zonk kenapa ikutan?"

Buntelan krupuk ma ga usah direken. Buang waktu aja. Maless!

Sejarah mencatat bahwa dari Sumatra Barat banyak lahir tokoh nasional. Ada proklamator, Bung Hatta, PM Syahrir, Agus Salim dan Tan Malaka

Disana juga ada catatan bahwa orang Minang dikenal masyarakat dengan toleransinya yang tinggi. Itu terlihat dengan jelas di pusat kotanya.

Daerah dengan nama kampung Cina bukan mengada-ada. Ada pula kampung Jawa, kampung Nias, dan kampung dengan nama etnis lainnya sebagai bukti pernah ada penerimaan terhadap keragaman dan toleransi. Pernah ada hubungan sosial budaya serta ekonomi dan pembauran.

Namun sejak Sumatera Barat jatuh ke tangan gubernur partai sapi itu, wajah Sumatera Barat berubah. Muram dan seolah tak lagi ada gairah alamiah bagi sebuah kewajaran.

Paling tidak, itu sangat terlihat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Kebijakan dan aksi intoleransi hingga gerakan anti Pancasila tiba-tiba merebak di wilayah ini.

"Berarti, Puan ga salah omong dong? Ga perlu dong kudu minta maaf?"

Mosok banteng minta maaf sama sapi dan pengikutnya? Mikirrr..! Kata cak Lontong.

Bahwa kemudian Mulyadi dan H. Ali Mukhni pasangan dukungan PDIP itu kemudian justru ambil panggung dengan mengembalikan dukungan PDIP, percaya deh, mereka berdua itu tak lebih dari orang yang senang nebeng dan menari pada gendang orang lain. Tak lebih hanya oportunis, seperti kebanyakan dari kita bila suara sedang dijaring.

Hanya masalah waktu saja Sumbar pulang pada jati dirinya. Tak mungkin orang berbetah ria dengan masalah yang sama dan terus menerus. Di luar sana, terlalu banyak orang baik dari Sumbar yang sangat nasionalis dan apalagi Pancasilais akan membebaskan daerahnya dari kungkungan kaum antah berantah itu.

Hari ini, seolah masih tak puas telah berbuat koplak dengan memecat Armando dari sukunya, kini memusuhi Puan mereka lakukan demi benci yang bukan sifat milik kakek nenek mereka.

Ingat, ada darah Sumbar mengalir pada diri Puan. Karma akan mengejar mereka yang menista dan mengkhianati leluhurnya sendiri.

Bak lonjak labi dibanam, umpamo kacang diabuih ciek. Terlalu tinggi sekelompok orang marah itu berharap maaf Puan.
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Wednesday, September 9, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: