Psy War Ketahanan Pangan

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Beberapa hari terakhir kita diributkan oleh "diskoordinasi" antar dua Pembantu Presiden. Yaitu antara Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan. Yang satu mengatakan stok beras masih mencukupi hingga masa panen, sementara satunya tak mau ambil resiko dan tetap bersikukuh untuk impor beras pada akhir Januari nanti.

Anehnya, ada segelintir orang yang justru seperti "kegirangan" dengan adanya fenomena ini. Seolah mendapatkan angin segar untuk menyerang Pemerintah. Bahkan ada yang dibumbui Teori Konstipasi, eh! Konspirasi bahwa ada aroma fee dibalik rencana impor ini. Mirip2 sama aroma "penyelamatan aset" di balik gugatan perceraian Ahok yang dihubungkan dengan Kasus Sumber Waras. Maklum saja, mungkin yang ngomong masih belum waras dan tidak paham bahwa lingkup Pidana dan lingkup Perdata kamarnya berbeda.

Begitu juga dengan wacana dan rencana impor beras nanti. Sampai-sampai dibilang mau membunuh petani. Kalau mau bunuh petani itu gampang Cin (micin)! Cukup dicabut aja subsidi pupuk dan benih buat petani. Pasti biaya produksi langsung meroket. Trus dampaknya apa? Harga gabah kita ikut meroket dan kalah bersaing dengan beras impor. Ibaratnya, kita sedang melakukan "bunuh diri" massal. Padahal Ketahanan Pangan itu ibarat nyawa sebuah negara. Maka dari itu Swasembada Pangan menjadi Program Prioritas dari Pemerintah. Disaat programnya sudah berhasil, trus mau bunuh diri? Mikir!

Justru menurut saya, statement "berseberangan" dua Pembantu Presiden itu adalah langkah antisipasi. Artinya, mereka memainkan Psy War kepada para spekulan yang diduga masih gentayangan terutama saat stok beras nasional mulai menipis. Diduga pula mereka (spekulan) mulai menimbun dan memainkan harga beras di pasar. Pernyataan Menteri Pertanian, tujuannya adalah untuk menenangkan masyarakat agar tidak panik dan yakin bahwa stok pangan masih tercukupi. Sementara Pernyataan Menteri Perdagangan, tujuannya supaya para spekulan segera melepas timbunan berasnya ke pasar agar stok dan harga kembali normal. Terbukti setelah adanya pernyataan-pernyataan itu, harga beras berangsur kembali normal.

Jadi, ente sudah paham?? Oh ya, masih ingat kasus penimbunan dan pengoplosan beras PT. IBU? Itu kan teman ente? Terus, juga tentang masalah fee. Masih ingat kasus fee impor daging sapi yang dulu itu kan? Itu teman ente juga! Kok sekarang antum belagak peduli pangan?? Peduli micin aja cin!!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Monday, January 15, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: