Psikopat Beragama

Ilustrasi

Oleh : Ardiansyah Ardiansyah

Penyakit Psikopat diidentikan dengan penyakit jiwa yang memang susah untuk dideteksi. Karena, orang yang menderita penyakit psikopat rata-rata berbaur dengan masyarakat dan hanya sedikit yang mendekam dirumah sakit jiwa. Menurut Wikipedia, penyakit psikopat ialah bukan penyakit jiwa, melainkan penyakit mental. Mereka sadar apa yang mereka lakukan, hal ini berbeda dengan orang gila yang melakukan sesuatu di luar kesadarannya. Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.

Setidaknya ada beberapa ciri orang yang mengidap penyakit psikopat

1. Sering berbohong, fasih, dan dangkal.
2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Kadang-kadang psikopat mengakui perbuatannya, namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
4. Senang melakukan pelanggaran di waktu kecil.
5. Sikap acuh tak acuh terhadap masyarakat.
6. Kurang empati. Bagi psikopat, memotong kepala ayam dan memotong kepala orang tidak ada bedanya.

7. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
8. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Tidak ada waktu bagi seorang psikopat untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
10. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki tanggapan fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, ataupun gemetar. Pengidap psikopat tidak memiliki perasaan tersebut, karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
11. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
12. Biasanya sangat cerdas dan mungkin paling cerdas ketika dibandingkan dengan anak-anak yang lain.
13. Biasanya banyak mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya dan marah jika orang lain menyalahkannya. Merasa paling benar, dan biasanya anggapannya itu memang benar.
14. Mengetahui sesuatu yang tidak diketahui. Biasanya banyak yang benar dan sangat sedikit sekali yang salah.
15. Memiliki perkiraan dengan akurasi yang tinggi (perkiraannya jarang salah dan kebanyakan adalah benar atau benar semuanya.

Akhir-akhir ini banyak orang yang beragama seperti orang yang mengidap penyakit psikopat. Dari ciri-ciri di atas bagaimana ISIS dan kelompok teroris lainnya membunuh manusia tanpa merasa bersalah dan mengatasnamakan agama. Mereka menyerang suatu Negara hanya karena berbeda dengan mereka pemahamannya. Mereka merasa paling benar meskipun mereka harus bunuh diri dengan bom dan menewaskan anak-anak dan orang yang tidak berdosa.
Begitu juga di tanah air, terbongkarnya Sarassen dan MCA membuat daftar panjang orang yang didiagnosa psikopat dalam beragama. Pasalnya, mereka membuat berita bohong, adu domba tanpa merasa bersalah sedikitpun. Mereka sadar, bahwa mereka membuat berita bohong, meskipun demikian mereka tetap melakukan hal demikian karena mereka merasa sedang membela agama. Apalagi ketika para pelakunya tertangkap membuat hoax, kelompok yang merasa diuntungkan dengan hoax tersebut berdalih bahwa pemerintah anti Islam. Padahal di dalam al-Quran sudah jelas bahwa fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan.

Agama yang seharusnya membawa kedamaian, ketentraman dan kelembutan menjadi ganas dan garang di tangan para psikopat beragama. Inilah kenapa kita harus pintar memilih guru dan ulama. Saat ini, saya lebih setuju sistem mursyid di dalam tarekat. Orang menjadi guru dan pembimbing (mursyid) di sebuah tarekat harus melalui tahapan-tahapan yang sulit. Banyak puasa, menjauhkan diri dari hal yang haram dan lebih menjaga persatuan umat, sehingga dia baru bisa dijadikan mursyid. Sehingga, penganut tarekat jarang melakukan kekerasan karena mereka mengikuti mursyid yang lurus. Berbeda dengan beragama orang awam, mereka mengambil guru asal saja, yang penting membawa simbol Islam.
Semoga agama Islam tetap berada di tangan para ulama yang lurus.

Sumber : Status Facebook Ardiansyah Ardiansyah

Friday, March 9, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: