Psikologi Orang-Orang Kalah

ilustrasi

Oleh : Sri Kesuma

Kita Harus Tetap Waras

Orang-orang kalah masih saja meradang marah. Tak sudi menerima kenyataan. Gagal dalam pemilu.

Orang-orang kalah masih saja mengaum terluka. Menuduh pemilu curang. Berteriak kalap. Memelihara marah dan kegelisahan.

Konon.. Orang seperti ini mudah dimamfaatkan. Dijadikan bahan baku gorengan yang bernama 'people power'. Ketidakpahaman membuat mereka bak seonggok daun kering. Siap menjadi bahan baku atau bahan bakar bagi orang yang punya kepentingan.

Kasihan..
Mereka sebenarnya rakyat lugu. Yang sebelum pemilu pun, tak pernah baca koran. Apalagi sebuah buku. Keluguan mereka inilah yang dielus-elus pihak tertentu. Keluguan mereka terus dipelihara dan dilestarikan. Seperti ajakan menghindari media arus utama. Pun tak boleh lagi nonton berita tivi. Yang sebenarnya berisi informasi yang lebih layak dipercaya.

***

Pada orang-orang yang masih menyimpan luka. Ingin kuberi pelukan hangat disertai bisikkan. Bahwa sebagai rakyat biasa, para pendukung sudah melakukan yang terbaik. Berjuang dengan segala cara untuk capresnya. Berkorban banyak demi si capres. Hanya saja.. Semesta berkata lain. Sang capres kemungkinan besar tetap gagal jadi president. Sehingga bagi pendukung, mereka sudah sampai pada satu titik: ada saatnya berjuang ada saatnya menerima.

Para kesayangan..
Kamu yang hari ini masih saja mengaum penuh luka. Karena proses pemilu yang katanya curang. Ayolah cari referensi yang lebih terpercaya. Dari tokoh-tokoh yang sudah teruji kredibilitasnya. Dari lembaga resmi yang berwenang. Kalau pun ada kecurangan, cukup sodorkan bukti. Agar bisa berakhir di Mahkamah Konstitusi. Ditangan pihak yang jauh lebih paham dari kita-kita ini.

Sembari menunggu proses di Mahkamah Konstitusi. Kita yang rakyat biasa ini, marilah kembali ke kehidupan normal. Bekerja dan bercinta..

Agar saat MK menetapkan keputusannya, kita masih tetap manis dan waras. Karena sampai hari ini, tak ditemukan bukti, adanya kecurangan pemilu yang masif terstruktur dan sistematis.

Hapuslah kebiasaanmu, hanya mempercayai sumber informasi yang berasal dari lingkunganmu sendiri. Berpedoman pada satu sumber informasi, sama saja dengan menutup diri.

Kamu tahu say.. Ketertutupan adalah tanda-tanda hilangnya kemerdekaan berfikir. Ketertutupan adalah titik awal hidup dalam kebodohan serta dibodohi..

Sapa yang mau hidup seperti itu??

*****

*tulisan ini terinspirasi dari teman-teman yang tag saya ttg kecurangan pemilu. Berkali-kali. Sampai muak saya. Awalnya saya mau balas dengan kalimat pendek saja: warasmu kapan, say? Tapi itu sungguh tak sopan bukan?

Sumber : Status Facebook Sri Kesuma

Monday, April 29, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: