Psikologi Komunikasi Covid 19

ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

Saya yang awam ingin bertanya, kenapa pola komunikasi (baca : kampanye) soal Covid-19 ini cenderung "menonjolkan" jumlah kasus total ? Pola ini lebih melahirkan pesimisme dibanding optimisme.

Kenapa kita tidak melakukan pola komunikasi yang memberikan optimisme dan sikap kritis ?

Contoh :
Kasus total dunia adalah 28,361,289 (termasuk yang sudah sembuh, meninggal, dan masih aktif).
Tapi kasus yang aktif "cuma" 7,083,550.
Yang sembuh : 20,363,358
Yang meninggal : 914,464

USA :
Kasus total 6,588,488
Tapi yang aktif "cuma" 2,511,428.
Yang sembuh : 3,880,688.
Yang meninggal : 196,332.

Indonesia :
Kasus total 210,000
Tapi yang aktif "cuma" 52,179
Yang sembuh : 150,217
Yang meninggal : 8544
.......
Jadi, kenapa benak kita hanya dikuasai oleh jumlah total kasus sejak awal hingga akhir ? Tentu saja ini akan menyeramkan siapapun.

Kasus yang meninggalpun seharusnya dipilah lagi, berapa yang meninggal murni karena virus Corona, berapa yang komorbid, atau juga berapa murni karena penyakit lain.

Entahlah, ini hanya pertimbangan saya. Setidaknya pemilahan ini membuat saya tidak ketakutan, meski saya tetap waspada dan disiplin protokol. Ini bukan cuma soal virus, tapi juga psikologis.

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Saturday, September 12, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: