PSI Antara Jakarta dan Surabaya

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Anggota DPRD DKI dari PSI, William Aditya mendapat dukungan luas dari publik usai mengungkap kejanggalan dokumen rancangan APBD, yang terdapat banyak item anggaran yang tidak masuk akal, diantaranya Lem Aibon 83 milyar dan juga beberapa item lain.

William juga terpaksa harus berhadapan dengan anggota DPRD partai lain yang keberatan dengan caranya membuka rancangan anggaran ke publik, padahal sebenarnya apa yang dilakukan William sudah selaras dengan semangat UU KIP. Apapun, bola yang digulirkan William sudah kemana-mana, dan saat ini publik ikut membantu mengawasi jalannya proses penganggaran DKI 2020.

Namun hal berbeda terjadi di Surabaya, anggota DPRD Kota Surabaya dari PSI, Alfian Limardi, dikecam publik karena melempar (atau bahkan disebut membuang?) dokumen RAPBD yang tengah dibahas bersama Pemkot Surabaya. Berbeda dengan di Jakarta, dimana aleg PSI bisa membeberkan potensi masalah besar dalam RAPBD 2020, di Surabaya, tidak jelas betul apa yang dipermasalahkan oleh Alfian, selain kemudian diketahui adanya kesalahpahaman semata.

Dan Alfian lupa, kalau di DKI, dukungan publik ke Pemprov DKI kurang dari 60%, sehingga ada potensi cukup banyak publik oposan yang mudah diajak untuk ikut mengkritisi RAPBD. Di Surabaya, pemerintahan Bu Risma itu mendapat dukungan nyaris 90%. Bukan berarti kalau dapat dukungan sangat tinggi, kemudian publik tidak boleh kritis. Namun sikap kritis, harus dilandasi atas pemahaman yang baik tentang membaca dokumen perencanaan dan penganggaran daerah. Dan sepertinya Alfian, yang masih baru, belum menguasainya dengan baik. Dan ia blunder disana, karena tidak semudah itu bisa mendapatkan "penyimpangan" di pemerintahan Bu Risma yang dikenal memiliki tata kelola yang sangat baik.

Saya berpendapat, ketidaksetujuan seberat apapun, tetap harus disampaikan tanpa meninggalkan etika. Pelanggaran etika sangat mudah diingat oleh publik, dan kejadian Alfian di Surabaya sebaiknya menjadi pelajaran politisi lain untuk tidak waton suloyo ketika mengkritisi sesuatu.

Utamakan kualitas pendapat, ketimbang kuantitas suara.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Wednesday, November 13, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: