PSI Ancaman Serius Bagi PKS dan PAN

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) adalah partai politik di Indonesia yang baru didirikan pasca Pemilu tahun 2014. Partai ini diketuai oleh mantan presenter berita Grace Natalie. Bersamanya ada Raja Juli Antoni, Ph.D , tokoh Pemuda dari Muhammadiah. Ada juga Mohamad Guntur Romli. Ia aktifis muda dari NU dan juga aktifis kemanusiaan. Ia bergabung dengan Komunitas Kesenian dan Kebudayaan Komunitas Utan Kayu (2005-2008) dan Komunitas Salihara (2008-2017). Selain itu ia juga aktif dalam organisasi lintas agama, advokasi hak-hak sipil, toleransi dan hak-hak asasi manusia. Dari keberadaan dua tokoh pemuda dari dua ormas islam terbesar di Indonesia, maka jelas target dari PSI adalah kalangan pemuda moderat yang merupakan mayoritas pemilih di Indonesia.

Bagaimana peluang dari PSI ? Temuan SMRC mengungkapkan bahwa kedekatan psikologis dengan partai itu hanya sekitar 11,7% dari total pemilih. Jadi hanya satu dari sekitar 10 orang Indonesia yang punya ikatan psikologis kuat dengan partai tertentu. Hasil polling SMRC juga mengungkapkan swing voter paling banyak dialami Partai Demokrat (51%), kemudian diikuti PAN (50%), PPP dan Hanura (masing-masing 47%), Gerindra (45%) dan Golkar (38%). Adapun partai yang paling sedikit swing voter-nya adalah PKS (20%) dan PDI-P (23%). Bedanya, pemilih PKS pergi sekitar 20% dan belum mendatangkan pemilih baru secara berarti. Sementara, demikian temuan survei ini, pemilih PDI-P yang pergi sebesar 23% dan mampu mendatangkan pemilih baru dalam jumlah yang lebih besar.

Fakta ini menunjukkan terbuka kemungkinan partai-partai yang lolos ke Senayan (DPR) sekarang seperti Nasdem, Hanura, PAN, PKS kemungkinan tidak akan lolos ke Senayan tahun 2019. Disinilah peran dari PSI dengan memanfaatkan swing voter disemua partai yang kuat maupun yang lemah. Cara pendekatan yang diambil oleh PSI untuk menguasai suara kaum muda adalah melalui sosial media yang kemudian diikuti dengan kopdar ( kopi darat). Dalam kegiatan kopdar , mereka sepertinya meniru gerakan dari partai demokratis di Taiwan yang lebih mengutamakan kegiatan sosial kemanusiaan. Makanya banyak kader kemanusiaan yang bergabung dalam PSI. Umumnya mereka tidak membawa simbol agama atau idiologi walau mereka dekat dengan agama. Mereka lebih kepada sisi kemausiaan yang lintas agama.

Dari segi pendanaan, PSI ternyata disukai oleh pengusaha papan atas. Seperti Edy Kusnandi Sariaatamadja, Peter Sondakh, Franky Wijaya, Sugianto Kusuma alias Aguan. Walau mereka tidak mendukung secara langsung namun hubungan mereka dengan elite PSI sangat dekat. Yang jelas PSI lahir dari semangat solidaritas atas kasus Ahok, dengan cita cita persatuan dan perdamaian atas dasar keberagaman di Indonesia. Dan dari awal PSI ada dibelakang Jokowi. Tentu akan labih mudah menarik massa dari kelompok moderat dan anak anak muda. Setidaknya, kehadiran PSI dalam pemilu 2019 adalah ancaman serius bagi PKS, PAN. Kalau sampai PSI lolos ke Senayan dan PKS, PAN tergusur, itu harus jadi pelajaran mahal bagi semua partai. Bahwa dekatlah kepada massa dengan cara cara manusiawi dan terpelajar. Jangan lagi gunakan dokrin surgawi yang terbukti basi.

 

Sumber: Facebook Erizeli Jely Bandaro

Monday, October 15, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: