PSBB Anies dan Upaya Menjatuhkan Jokowi

ilustrasi

Oleh : Seruanhulu

Selama ini Anies Baswedan dikenal sebagai salah satu kepala daerah yang sering membuat kehebohan melalui kebijakan-kebijakan yang diambilnya khususnya di DKI Jakarta. Sebab, kebijakan dan program kerja yang diterapkannya alih-alih menjadi sebuah solusi, yang ada malah nyusahin.

Terkait pandemi Covid-19 tak sedikit kebijakan yang dia terapkan di DKI Jakarta, mulai dari PSBB transisi, memasang masker di patung Jenderal Sudirman, memasukkan orang yang masih hidup ke dalam peti mati dan menerapkan kembali PSBB di seluruh wilayah DKI yang disebutnya sebagai rem darurat.

Pertanyaannya, apakah semua kebijakan Anies tersebut atas persetujuan pemerintah pusat? Jelas tidak.

Tak masalah soal memasang masker di patung Jenderal Sudirman begitu juga dengan memasukkan orang yang masih hidup ke dalam peti mati, meskipun lumayan konyol tapi dampaknya tidak berefek sampai ke level nasional. Karena sesungguhnya kebijakan tersebut, hanya sebatas sensasi bukan solusi.

Namun yang parahnya adalah kebijakannya terkait diberlakukannya kembali PSBB di seluruh wilayah DKI Jakarta. Sebab, efeknya mengarah pada kelumpuhan perokonomian dan bukan saja hanya di DKI Jakarta, melainkan seluruh Indonesia akan merasakan dampaknya.

Jika tujuannya menerapkan kembali PSBB adalah untuk menekan angka penularan Covid-19 di Jakarta, harusnya Anies bisa berkordinasi dengan pusat. Tapi apa faktanya? Anies malah bertindak sendiri.

Betul bahwa tidak semua kebijakan pemerintah daerah harus melalui persetujuan pemerintah pusat, tapi kebijakan strategis seperti penerapan PSBB harusnya ada kordinasi dengan pusat. Sebab, dampaknya tidak hanya melumpuhkan pertumbuhan ekonomi di daerah saja, melainkan bisa mengganggu pertumbuhan perekonomian tingkat nasional.

Apakah Anies tidak menyadari hal itu? Ya, jelas disadari. Anies itu pintar, malahan kepintarannya melebihi rata-rata kepintaran manusia pada umumnya. Masih ingat dulu waktu pilkada DKI, pada saat itu ada tiga cagub dan satu-satunya cagub yang bisa memanfaatkan ayat dan mayat sebagai bahan kampanye adalah hanya Anies.

Pertanyaan selanjutnya, jika Anies menyadari dampak dari PSBB yang kembali diterapkannya di DKI, kenapa dia tidak berkordinasi dengan pusat terlebih dahulu? Ya, Anies memang sengaja tidak berkordinasi dengan pusat. Sebab di balik PSBB yang kembali diterapkannya itu memiliki tujuan tertentu.

Tujuan PSBB yang kembali diterapkan Anies di Jakarta bukanlah untuk menekan angka penularan Covid-19, melainkan itu sebagai strategi untuk menjatuhkan Jokowi.

Kok bisa? Jelas bisalah. Dengan lumpuhnya pusat perekonomian di Jakarta akibat PSBB yang kembali diterapkannya, tentu saja hal itu akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi tingkat nasional. Artinya, dampaknya bukan hanya di Jakarta saja melainkan di seluruh Indonesia.

Ketika itu terjadi, maka tentu saja yang akan disalahkan adalah Presiden Jokowi bukan lagi Anies. Berhubung kelumpuhan ekonomi sudah sampai pada level nasional, bukan hanya di skala daerah.

Ekonomi terpuruk, Indonesia masuk ke jurang resesi, perusahaan akan tutup, PHK menghampiri karyawan dan buruh, apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah demo, penjarahan dan kerusuhan di setiap sudut kota, akibat tidak adanya lagi pekerjaan dan pendapatan cash masyarakat.

Amarah rakyat akan terarah kepada Jokowi lalu memaksanya mundur dari jabatan Presiden, karena Jokowi dianggap sebagai pemimpin yang tidak mampu memberikan solusi sehingga rakyatnya dibiarkan kelaparan dan jatuh miskin. Itu tujuan Anies.

Kenapa Anies begitu benci dengan Jokowi? Karena Anies pernah dipecat oleh Jokowi dari kursi Menteri Pendidikan pada periode pertama Jokowi. Jadi, sampai sekarang luka lama itu masih tersimpan di benak Anies. Buktinya saja, selama Anies menjabat Gubernur DKI Jakarta tidak satupun kebijakannya yang searah dengan pemerintah pusat. Itu fakta.

Tapi terkait persoalan penerapan PSBB di DKI jakarta, Anies hanya sebagai aktor. Di belakangnya ada sutradara yang memang sudah kian mengatur strategi. Masih ingat dengan organisasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia? Atau yang disingkat dengan KAMI?

KAMI dibentuk tepat pada saat masa pandemi Covid-19, lalu kemudian dideklarasikan di Tugu Proklamasi di Jakarta dan dihadiri oleh simpatisan dan tokoh-tokoh yang selama ini membenci dan selalu mencari celah untuk menjatuhkan Jokowi.

Mengingat masih dalam situasi pandemi, seharusnya deklarasi tersebut tidak boleh digelar berhubung berpotensi menimbulkan kerumunan. Tapi anehnya, Anies sebagai kepala daerah DKI Jakarta malah memberikan izin.

Artinya, sampai di sini Anies sejalan dengan KAMI. Selain mengapresiasi dengan memberikan izin deklarasi di tengah pandemi, KAMI juga dibentuk oleh orang yang benci terhadap Jokowi sama seperti Anies dan bisa jadi dilema PSBB ala Anies ini adalah bagian dari strategi mereka untuk menjatuhkan Jokowi.

Apakah Anies dan KAMI satu visi misi? Hanya KAMI, Anies dan Tuhan lah yang tau. Kita tidak menuduh mereka ingin menjatuhkan Jokowi, tapi patut kita waspadai. Sebab, jika mereka benar mencintai negeri ini, maka seharusnya mereka bisa menawarkan solusi bukan malah nyusahin.

Sumber : Status facebook Seruanhulu

 

Thursday, September 17, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: