PRT Syar'i dan Ancaman Main Perempuan

Ilustrasi

Oleh : Aizza Ken Susanti

Beberapa hari lalu, bibik (prt lama) dari Cilacap datang membawa keponakannya. Usia 23 tahun dengan penampilan yang syar'i dan memiliki raut wajah elok. Bibik bilang kalau si embak ini menikah muda, sudah bersuami, dan usia anaknya di kampung sama dengan bungsu saya yakni 3 tahunan. Mendengar singkat cerita dari bibik membuat saya dan suami berempati karena kisah si embak ini betul-betul lebih mirip sinetron ketimbang realita.

Selama dua hari bibik mengajari si embak cara kerja di rumah kami, maklum, bagi saya dan anak-anak, tak ada yang sangat paham dan cocok dengan pola hidup dan aturan di rumah selain bibik ini. Saya merasa terbantu sekali, meskipun kalau boleh memilih kami bakalan memilih si bibik yang bekerja buat kami selamanya tanpa perlu diganti keponakannya ini. Alasan si bibik ke sini selain mengantar keponakan, dia datang untuk mengambil kebaya pengantin untuk anak gadisnya. "Harus modelnya kaya gini, bu!" katanya suatu hari menunjuk dagangan kebaya yang saya pajang di manekin, sebelum si bibik mudik dan akhirnya tak pernah kembali ke rumah kami demi menaikkan sulung gadisnya ke pelaminan. Dan pernikahan sulungnya akan dihelat bulan April tahun ini, maka tak ayal saya sambil merajuk si bibik, "aku diskon kebayanya bik.... habis nikahannya Hani tapi balik kerja lagi." Si bibik cekikikan, "Ya Insya Allah." Jawabnya melegakan saya.

Kembali kepada kisah si embak, si embak pada hari ketiga harus bekerja tanpa arahan bibik karena bibik pulang di hari kedua, dan kami mengantarnya ke stasiun Kali Deres. Pada hari yang sama si embak minta dibelikan ces HP, saya menyuruh suami membelikan berikut mengirimkan pulsa ke nomernya. Saya bilang padanya, "kalau kangen anak boleh telepun, atau bulan depan bawalah anak ke sini 2 atau 3 hari. Atau kalau mau cuti setidaknya 2bulan lagi baru boleh pulang kampung nengokin anak." Saya tekankan itu pada si embak karena bulan depan sudah dipastikan saya melahirkan, jadi mustahil memberikan cuti pulkam kecuali setelah saya istirahat pasca bersalin.

Semua membaik hingga satu minggu, si embak kerja dengan baik dan bersih. Ada kekurangan kecil di sana sini tapi masih bisa dimaklumi untuk pekerja rumah tangga semuda dia.

Pada hari selanjutnya si embak datang ke kamar saya sambil menangis, tentu saya kaget sekali. Anehnya si embak curhat banyak banget yang saya sendiri gak paham ke mana muara maksud kisahnya. "Ya ya... saya sudah tahu mbak, bibik crita ke saya. Ya mbak harus sabar, masa kecil embak sulit, tak jauh beda dengan saya. Saya juga. Makanya yang penting embak kerja di sini dibikin happy saja, alihkan beban hidup dengan bekerja yang baik tapi jangan lupa juga menghibur diri."

Pertama, sejauh pengalaman saya bekerja dari lulus SMA sampai magang sambil kuliah, dan fulltime lepas wisuda, tak pernah sekalipun bos saya mesti tahu beratnya masa lalu atau problematika saya. Saya menjaga rahasia beban hidup saya, bos tak perlu tahu itu kecuali bila tak sengaja tahu. Cukuplah ketika bekerja, bos tahu kemampuan dan komitmen kita. Itu saja.

Si embak ujung-ujungnya minta izin pulang, pulang demi suaminya. Dia ditelepun, disms, dan entahlah apa saja kata dari suaminya, si embak menangis tersedu-sedu.

"Yang saya tahu, kamu dapat izin dari ibu, anak, dan suamimu, mbak... Apalagi suamimu konon baru saja kemarin berangkat bekerja di Cikarang. Apa gunanya diminta pulang ke kampung sama suami kalau suami saja gak ada di rumah?"

"Suami bilang malu kalau saya jadi pembantu, bu.... Najis katanya."

Saya kaget betul mendengar si embak. Melihat dia berlinang air mata, duh, betapa dilematis hidup dia. Sudah lama suami diindikasi gagal jantung dan tak bekerja. Begitu dia mau bekerja, si suami berangkat kerja juga dan petentang petenteng memamerkan pekerjaan dia di Cikarang yang baru terhitung 3hari!!!

"Dia bakal main perempuan kalau saya ndak pulang, bu.... dia bakal sewa wedokan kalau saya jadi pembantu."

Makjleb di hati saya... rasanya saya benci sekali dengan suami si embak, saya telepon suami dan menanyakan apa pendapatnya.

Selang beberapa hari si embak masih saja keliatan murung. Saya mengajaknya ke Mall sama anak-anak. Dia sudah agak riang karena masuk ke arena bermain. Makan di restoran yang menunya saja dia gak paham, tapi niat saya baik, saya pengen dia yakin bahwa bekerja dengan kami tidak akan membuatnya sedih atau jauh dari kehidupan sosial.

Si embak matanya berkilau bak berlian waktu melihat lampu-lampu besar di sepanjang jalan. Dan senang menemani anak-anak keliling di toko mainan. Janji saya dalam hati, bulan depan akan kami kirimkan beberapa mainan ke alamat rumahnya di kampung. Biar ia senang, biar anaknya juga merasa tetap diperhatikan.

Bersambung. ~

Sumber : Status Facebook Aizza Ken Susanti

Thursday, January 25, 2018 - 14:00
Kategori Rubrik: