Proyeksi COVID 19

ilustrasi

Oleh : Patrianef Vaskular

Jika tidak ada intervensi yang berpengaruh besar dan diikuti kekurang patuhan masyarakat terhadap isolasi diri dan "social distance" maka dengan kecepatan pertumbuhan perhari 1,35 maka pada hari Selasa tanggal 24 Maret kasus COVID-19 di Indonesia akan menembus 1000 kasus dan pada hari Jumat 27 Maret menembus 2000 dan Sabtu 28 Maret menembus 3000 kasus dan Minggu 29 Maret menembus 4000 kasus serta Senin 30 Maret melewati 5000 kasus. Proyeksi yang sangat mengkhawatirkan tetapi suka tidak suka harus kita hadapi.

Grafik ini adalah hitungan dari seorang dokter epidemiologi dengan yang membuat simulasi kecepatan pertumbuhan kasus 1.35x. Dibuat sesuai dengan keilmuan sebagai seorang epidemiologi dan sejauh ini proyeksi dan grafik kasusnya nyaris mendekati 100%.

Yang jadi masalah pertumbuhan kasus tidak akan bisa paralel dengan pertumbuhan dan kesiapan fasilitas kesehatan menyediakan ruang isolasi dalam waktu singkat. Harus tersedia RS yang "dedicated" untuk pasien COVID 19. Menempelkan ruang perawatan COVID 19 pada RS yang ada sekarang memang merupakan salah satu jalan yang paling mungkin, tetapi harus diikuti dengan pengawasan yang ketat karena jika terjadi keteledoran, wabah ini bisa menular kepada pasien lain yang memang sudah sakit dengan daya imunitas yang menurun serta juga kepada petugas kesehatan yang bertugas menangani kasus lain. Menyediakan RS khusus hanya untuk pasien COVID-19 akan bisa mengurangi risiko tersebut.

Salah satu cara untuk melandaikan pertumbuhan kasus COVID 19 adalah dengan mengurangi penyebaran dengan membatasi pergerakan. Karena penyakit menyebar mengikuti pergerakan orang terutama orang sakit yang terlihat sehat (carrier). Salah satu cara adalah dengan memaksa semua warga harus mematuhi batasan yang dibuat pemerintah. Keramaian harus ditiadakan. Transportasi massal dihentikan. Berdiam dirumah harus dipatuhi.

Sampai saat ini kita masih melihat kerumunan masyarakat di beberapa tempat bahkan masih diiringi musik. Hal ini memperlihatkan ketidak pedulian dari sebagian kecil masyarakat terhadap beratnya masalah didepan yang menunggu kita. Hal ini selain karena ketidak pedulian bisa juga karena ketidak tahuan.

Dengan kecepatan 1.35 maka jumlah kasus akan lipat 2 setiap 3 hari. Jika kita bisa menurunkan kecepatannya menjadi 1.20 maka kecepatan lipat duanya akan menjadi setiap 5 hari sambil mengharapkan pemutusan siklusnya yang mengikuti masa inkubasi selama 14 hari.

Grafik proyeksi ini bukanlah berita pertakut, tetapi realita yang harus kita hadapi beberapa hari kedepan jika usaha kita tidak optimal mengatasi penyebaran penyakit ini.

Sesungguhnya jika kita mau jujur, yang paling khawatir dan takut saat ini adalah tenaga kesehatan. Karena mereka berada di front terdepan dalam pertempuran ini. Musuh yang mereka hadapi tidak terlihat, tetapi membunuh dan menakutkan. Kekawatiran petugas kesehatan berubah menjadi ketakutan saat mereka menyadari bahwa Alat Pelindung Diri (APD) untuk proteksi diri mereka sangat terbatas . Saat ini banyak diantara mereka yang bekerja dengan proteksi modifikasi seperti menggunakan plastik pelindung hujan untuk bekerja. Walaupun untuk proteksi diri ini jelas sangat tidak memadai.

Marilah kita sama sama bekerja menghalau wabah COVID ini dari negara kita. Ucapan ucapan penyemangat dan mengandalkan cara cara tradisional serta menghibur diri dengan mengedepankan kasus yang sembuh tidak mencukupi. Untuk mencapainya semua pihak harus sepakat dan mematuhi apa yang disepakati tersebut.

Memang mahal harga yang harus dibayar jika dilakukan pembatasan gerakan dan aktivitas warga. Tetapi semakin lama pembatasan tersebut ditunda akan semakin mahal harga yang harus dibayar.

Mari kita memproyeksi jumlah kasus kedepannya dan bekerja menghadapi proyeksi tersebut serta melandaikannya dan menghentikannya.

Terakhir mari kita berharap serta berdoa kepada Allah Yang Maha Kuasa agar wabah ini segera disingkirkan dari tanah air kita.

Sumber : Status Facebook Patrianef Vaskular

Saturday, March 21, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: