Proyek Pertamina Dihemat Rp 84 Triliun, Pasti Salah Ahok

ilustrasi
Oleh : Xhardy
Ahok cerita tentang salah satu proyek Pertamina di Tuban, Jawa Timur. Biaya proyek ini bisa dipangkas sampai US$ 6 miliar lebih atau setara Rp 84 triliu.
"Saya senang sekali," kata Ahok dalam acara Milad 9 Tahun Pesantren Motivasi Indonesia.
Kata Ahok, awalnya belanja modal untuk proyek ini mencapai US$ 18 miliar. Ahok pun meminta biaya ini dihitung ulang.
Sekarang biayanya menyusut jadi US$ 11 miliar lebih. Sehingga, langsung terjadi terjadi penghematan US$ 6 miliar lebih.
"Ini satu hal yang luar biasa, kita itu bisa, kalau teliti, dipretelin satu-satu," kata Ahok.
Tak lupa, Ahok juga memuji sosok Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. Nicke bisa menampung masukan untuk perbaikan yang disampaikan komisaris.
"Saya beruntung (Dirut) sangat kooperatif," kata Ahok.
Di Tuban, Pertamina memiliki proyek kilang Gross Root Refinery (GRR) yang digarap oleh PT Kilang Pertamina Internasional, Subholding Refining dan Petrochemical di bawah Pertamina.
Kalian pasti tahu, gara-gara proyek ini, sejumlah warga desa di sana mendadak jadi miliarder karena mendapatkan puluhan miliar uang ganti rugi dari pembebasan lahan mereka untuk proyek.
Mereka berbondong-bondong beli mobil hingga membuat dealer kewalahan memenuhi pesanan. Sampai ada kabar belasan mobil tersebut rusak karena masih banyak yang belum bisa nyetir dengan baik.
Ini pasti semua salah Ahok, kan?
Pertamina rugi sekian miliar dolar, Ahok harus disalahkan karena dia adalah Komisaris Utama.
Pertamina akhirnya profit, Ahok yang disalahkan, bukan jasa Ahok.
Sekarang Pertamina dapat menghemat hingga puluhan triliun rupiah, pasti salah Ahok juga, kan? Gara-gara penghematan ini, jadi ketahuan. Apakah ini markup yang disengaja atau tidak?
Anggap saja tidak, dan berkat kejelian Ahok dan meminta mereka lebih teliti maka bisa dihemat sana sini.
Angka 84 triliun ini sangat besar sekali. Bahkan setara dengan APBD DKI Jakarta.
Kalau Ahok mah kita percaya. Ahok sejak menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta sudah sering mencium anggaran jumbo yang tidak semestinya. Anggaran yang dianggap terlalu fantastis hingga anggaran siluman sekali pun.
Makanya Ahok sering marah-marah dan ribut dengan DPRD Jakarta. Anggaran UPS, anggaran pemahaman nenek loe, bahkan siluman kutu-kutu pun tidak luput dari pantauannya. Makanya banyak yang cemas bekerja dengan Ahok, terutama mereka yang punya niat membajak anggaran.
Bagi yang selama ini nyaman melakukan itu, pasti tidak senang dengan apa yang dilakukan Ahok. Mau gerak sedikit aja, sudah dipelototin Ahok. Sampai-sampai ada lelucon yang mengatakan sulit jadi orang lurus di negeri ini karena banyak musuh yang siap menjegal dan menjatuhkan.
Bandingkan gubernur yang satu itu, kayaknya sangat ahli memboroskan anggaran. Kalau disebut satu per satu, tidak akan selesai. Disorot dan dikritik habis-habisan pun, dia tetap keras kepala dan masa bodo. Anggap semua itu tidak pernah ada. Ngakunya ingin transparan, tapi ditanya dengan detil, tidak mau jawab dan ngeles. Di mana pohon yang ditebang, tak tahu. Di mana duit ratusan miliar yang dibayar untuk selenggarakan balap mobil listrik, tak jelas. Mau main sulap-sulapan yang jangan terang-terangan gitu.
Boros anggaran, tapi hasil pembangunan tidak sepadan. Yang kelihatan adalah hasil kerja receh-receh yang bikin lucu, mahal pula. Padahal kalau gubernur ini serius, banyak anggaran yang bisa dihemat. Tapi karena dia jago menata kata, ya begitulah, tak jago mengelola keuangan dan anggaran. Boros terus, mumpung bukan uang dari kantong sendiri.
Saya jadi penasaran, penghematan ini artinya lebih kurang karena ada mark up atau memang kebetulan memang bisa dihemat?
Kalau seandainya ada yang bermain, tentu saja ini membuat beberapa orang kebakaran jenggot. Istilah kerennya, tidak bisa pesta pora. Kalau bukan Ahok, apakah akan ada pemeriksaan ulang anggaran yang lebih teliti?
Yang jelas, selamat deh buat Pertamina dan seluruh jajaran yang bekerja keras menghemat sebanyak itu.
Bayangkan 84 triliun terbuang sia-sia karena boros. Bisa bangun berapa banyak infrastruktur? Bisa bantu berapa juta rakyat Indonesia yang membutuhkan? Itu setara APBD DKI setahun lho. Sangat fantastis.
Bagaimana menurut Anda?
Sumber : Status facebook Elsye Sari Kasih Ginting
Saturday, March 6, 2021 - 12:15
Kategori Rubrik: