Proyek Melarikan Gadis

Oleh: Sunardian Wirodono

 

arena Sinuwun Totok Santosa Hadiningrat, saya jadi ingat Pak Damardjati Supadjar (1940 – 2014). Guru besar di Fakultas Filsafat UGM itu suatu ketika nelpon saya, “Mas Nardian bisa kita ketemu?”

Karena jarak rumah tak begitu jauh, saya pun ke rumah Pak Prof, yang kalau tak ngomong pun sudah milsafat, apalagi kalau ngomong. Beliau cerita ada orang nyari seribu sarjana S1, untuk dididik dan digaji perbulan dalam periode 2-3 tahun. Pak Damar diminta mencari, dan ikut pula mendidiknya.

 

Karena Rhoma Irama bikin lagu penasaran, saya pun manut ketika Pak Damar mengajak menemui sosok dahsyat itu. Dari Sleman menembus kota, menuju Kulon Progo, dengan Fiat putih, entah tahun berapa. Yang pasti lebih tua dari Pak Damar.

Benarlah. Orangnya memang dahsyat. Ia memilih menetap di Wates, Kulon Progo, karena utang janji orangtuanya. Sehabis nyekar ke makam leluhur, melintasi jalan di kota Wates, ia membaca spanduk pergelaran wayang kulit dengan lakon ‘Wahyu Cakraningrat’. Sejak itu, makbedunduk, menyatakan hendak mengabdi tanah kelahiran.

Sungguh mulia. Apalagi orang ini, sebelumnya tinggal di Swiss, sebagai konsultan keuangan. Saya kira ekonominya tak diragukan. Apalagi, ternyata anak dari salah satu ajudan Bung Karno. Ia bilang sudah diskusi dengan Megawati, dan akhirnya memilih di luar, sementara Megawati di dalam (pemerintahan). 

Tempat pertemuan kami, di bekas bioskop kota Wates. Saya tahu gedung itu lama tak terpakai, dan tak terawat. Tapi, pas pertemuan itu, sepertinya baru direhab. Lantainya sudah berganti ubin mahal. Demikian juga dinding dan lobinya. Semuanya diubah dengan citarasa elegant. Mengkilap. Berkelas. Makanan yang disajikan, masakan modern berkelas hotel. Katanya itu olahan anak-anak muda yang belum sebulan dia ajari langsung. Dan ternyata, untuk sementara itu, ia bertempat tinggal di rumah dinas Bupati Kulon Progo. Keren bener orang ini. Apalagi yang duduk di sampingnya, gadis remaja yang cantik-jelita. Ehm, seleranya. 

Tapi gagasan-gagasannya saya kira terlalu utopis. Bahasa kid’s jaman now, halu banget. Sepulang dari Wates, saya coba mengingatkan Pak Damar, yang tampak antusias dengan gagasan orang itu. Beberapa hari sempat repot melayani diskusi dengan Pak Damar. Tapi karena waktu itu masih mondar-mandir Jakarta-Yogya, ada kesempatan saya untuk menghindar.

Di lain waktu, saya menanya pada teman yang tinggal di Kulon Progo, redaktur SKH Kedaulatan Rakyat. Siapa orang ngedab-edabi yang tinggal di rumah dinas Bupati itu? Teman saya bilang; bajingan biasa. Hah? Bajingan? 

Beberapa bulan kemudian, saya membaca berita di koran. Orang yang menjanjikan proyek revolusi mental manusia Indonesia itu, jadi buron Polisi. Ia dituduh melarikan gadis remaja Wates. Tentu saja tanpa seijin orangtua si gadis. Tapi, saya bener-bener lupa, apakah orang itu yang kemudian menjadi raja di Mbayan itu? Kayaknya garis wajahnya mirip. Entahlah. Lupa.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, January 17, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: