Provokasi Ahok dan Jebakan Kalijodo

 

Oleh : Giorgio  Babo Moggi

Ahok adalah pengusaha yang sukses menjadi politisi. Bisa dibalik juga, politisi yang sukses menjadi pengusaha (cara mengelola pemerintah). Hitungannya tidak saja pakai kalkulator politik, juga menggunakan kalkulator bisnis (cara pengusaha). Ia mampu menyandingkan hitungan dari kedua kalkulator untuk sebuah keputusan politik atau kebijakan yang diambil.

Langkah Ahok untuk menertibkan Kalijodo, sebuah langkah penuh bahaya baik secara politis maupun bisnis. Inilah keberanian Ahok. Menempuh tindakan yang tidak lazim menjelang Pilkada DKI. Tapi, jangan dikira Ahok tidak menggunakan dua pendekatan atau kalkulasi; politik dan bisnis.

Segelintir orang berpandangan bahwa dampak keputusan Ahok dapat menbunuh dirinya sendiri. Menumbuhkan antipati rakyat Jakarta terhadapnya. Karena ia dianggap tidak prorakyat.

Ahok benar-benar berada pada titik kritis pada akhir kepemimpinannya. Selain dirinya gubernur, ia juga calon gubernur DKI 2017. Pada saat yang bersamaan, ia berani mengambil tindakan “radikal” dan revolusioner; menggusur Kalijodo. Dengan kacamata politik, kita dapat menilai Ahok sedang memasang perangkap bagi lawan-lawan politiknya. Bagaimana sih reaksi mereka terhadap gagasannya tersebut?

Reaksi semua kompetitor jelas. Abu-abu. Kabur. Tidak tegas. Sikap dan perilaku ini tidak mencerminkan sosok pemimpin yang tegas, visioner, dan responsif. Mereka mempersoalkan cara Ahok untuk membersihkan Kalijodo yang mengandalkan kekerasan. Pola pendekatannya dianggap militeristik. Apalagi Ahok menyampaikan kepada media, ia akan melibatkan brimob dan TNI. Itu wacana. Plan terakhir yang akan dimainkan Ahok jika ada agretivitas dari warga Kalijodo. Lagi, ini cara Ahok membuat teka-teki bagi publik dan mengaduk-aduk emosi lawannya. Toh, Ahok tahu tugas brimob dan TNI hanya untuk mengamankan jalannya pembongkaran dan relokasi. Kehadiran TNI dan Brimob bukan untuk berperang melawan rakyatnya sendiri.

Para kandidat gubernur begitu mudah tersulut emosi. Padahal, Ahok baru menyediakan sumbu tapi belum ada korek apinya. Merekalah yang membawa korek api dan menyulut sumbu itu lalu meledak dan menimpa mereka sendiri.

Hanya memilih dua opsi terkait pembongkaran kompleks Kalijodo; setuju atau tidak? Itulah yang tidak diperlihatkan sikap tegas lawan-lawan Ahok. Mereka berusaha untuk santun dan prowarga Kalijodo demi meraih tahta pada Pilgub 2017. Sebenarnya, mereka sadar, rakyat Kalijodo salah. Secara hukum tidak dibenarkan karena mereka membangun rumah di kawasan terbuka hijau. Jika mereka sepihak dengan Ahok, dukungan mereka akan menjadi kredit poin bagi Ahok.

Dasarnya, Ahok cerdas, ia selalu pandai berargumentasi baik kepada media maupun lawan politik. Tidak usah peduli dengan caranya, tapi isi pembicaraannya. Sikapnya jelas; Kalijodo bukan persoalan prostitusi tetapi soal pelanggaraan penyalahgunaan kawasan hijau terbuka.

 

Provokasi Ahok pelan-pelan membuka mata kita tentang seluk-beluk Kalijodo. Praktik kemaksiatan, jual-beli barang haram, serta tokoh-tokoh di balik komunitas yang tidak mampu tersentuh oleh rezim pemerintah sebelumnya. Satu per satu mulai keluar dari sarang Kalijodo dan bersuara. Sebenarnya, warga Kalijodo hanya diperalat (tanpa disadari warganya) oleh mereka-mereka yang memiliki kepentingan bisnis dan politik. Jika mereka menuruti Ahok, kehidupan mereka akan lebih baik secara mental dan spiritual.

Dari kacamata politik pula, polemik Kalijodo adalah provokasi Ahok untuk menantang para kandidat lain terhadap salah satu persoalan serius di Jakarta. Menantang sikap mereka seandainya kelak mereka menduduki kursi DKI 1. Ternyata, sikap mereka masih abu-abu. Terlalu hati-hati. Bahkan hampir tidak punya keputusan. Diam. Membisu.

Kalijodo adalah sebuah provokasi Ahok. Pula sebuah perangkap politik yang diciptakan Ahok. Untuk mengumpan lawan-lawannya berpolitik secara realistis. Antara kata-kata dan perbuatan harus nyata. Tidak berhalusinasi. Berangan-angan membangun Jakarta. Jakarta butuh bukti dan keberanian. Tidak cukup sekedar santun. Manis di mulut, tapi busuk di hati.

Jakarta membutuhkan pemimpin yang tegas dengan segala risiko akibat keputusan atau kebijakannya. Tidak sekedar omong. Ahok, gubernur yang teruji dan terbukti menjadi seorang yang berkepribadian “problem solver”. Menggusurkan kawasan kumuh, sekaligus menawarkan solusi. Bukankah dia lebih baik daripada pemimpin lain dengan cara menciptakan alibi hubungan arus pendek untuk membumihanguskan pasar atau lahan pemerintah yang diduduki warganya. Bukankah ia lebih baik dan santun (tata caranya)?

Kalijodo benar-benar sebuah perangkap politik. Ahok pandai memainkan perangkap itu. Dan, sejauh ini, baru Ahmad Dani yang terjebak dalam perangkap yang diciptakan Ahok. Berpolitik itu harus cerdas, secerdas Ahok. Dia sudah menang sebelum genderang Pilgub DKI ditabuhkan. Ujiannya adalah relokasi Kalijodo ini. ***

 

Sumber : Kompasiana

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *