Protokol Masuk Rumah

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Kemaren kami, saya dan Nyonya, terpaksa pergi ke luar rumah. Nyonya termasuk ODP, Orang Dalam Pengawasan, karena baru datang dari luarnegeri.

Di Bandara waktu tiba dari Ausi, seĺain di cek suhu badan juga ngisi formulir. Yang ndak lolos uji suhu, dipersilakan minggir, masuk ke ruang lain. Ada banyak keterangan, termasuk diantaranya dianjurkan untuk tidak keluar rumah selama 14 hari. Kemaren baru 6 hari . . .

Di halaman saya sediakan sabun cuci tangan. Siapa saja yang masuk rumah, begitu masuk halaman, wajib cuci tangan dulu.

Ada juga disinfectan buat barang2, yang kami buat sendiri dari cairan 'Pemutih'. Untung masih ada sisa sedikit. Kami jarang pakai. Jarang juga cek stok.

Hand-sanitiser yang cuma satu botol kecil kami èman2, di-irit2. Itu pun oleh2 Nyonya ďari Ausi. Di Indo sudah ndak kebagian. Bahkan beli bahan pun, mau buat sendiri, sudah ludes di pasaran. Kami bagi jadi 2 wadah. Satu buat di rumah, satu lagi yang bisa masuk saku, akan dibawa saat ke luar rumah.

Pergi ke Bank dan urus Asuransi. Kedua urusan ini kami harus datang sendiri. Setelahnya, rencana belanja ke supermarket yang ada dalam sebuah Mall di Bekasi. Beli Cuka Apel dan minyak Zaitun. Lain tidak. Masih ada stok . . .

Sampai di Bank, terlihat antrian berkerumun di depan. Berusaha saling jaga jarak. Rupanya ada aturan pembatasan jumlah nasabah yang boleh masuk. Agak rame juga karena beberapa lokasi, 'outlet' mereka ditutup.

Karena kami ndak ke kasir, langsung ke Lantai 2, boleh langsung masuk. Satpam sudah hapal dengan kami. Wajib pakai masker. Cek suhu badan. Tersedia hand-sanitiser.

Selesai dari bank pergi ke Asuransi. Pintu depan tertulis 'Closed'. Kami yang sudah janji langsung masuk, pintu tak terkunci. Sama juga ada hand-sanitiser di meja reseptiosis.

Sepi. Karyawan masuk gantian . . .

Selesai langsung ke supermarket dalam Mall. Sekali lagi, cek suhu badan dan tersedia hand-sanitiser.

Suasana normal meski agak lengang. Outlet 'tenant' buka semua. Jarang pakai masker . . .

Ambil barang yang sudah di rencanakan, bayar, lalu pulang. Hand-sanitiser yang saya bawa ndak laku, karena telah ada tersedia di lokasi2 yang kami tuju . . .

Sampai di rumah langsung lepas sepatu. Letakkan di teras. Ganti sandal. Cuci tangan dengan sabun. Sepatu kita semprot dengan disinfectan.

Masuk ke dalam langsung ke tempat cuci. Pakaian buka dan langsung masuk mesin cuci yang tinggal satu. Satunya, yang lebih canggih sekaligus lebih ringkih, rusak untuk yang kedua kali.

Karena banjir Tahun Baru, di servise, rusak lagi kena rendam banjir Februari. Sampai sekarang mangkrak. Nanti dibenahi 2 tahun lagi saja. Tahun 2022 atau 2023 . . .

Setelah lepas baju, cuci tangan lagi. Pakai Hand-sanitiser. Cari pakaian ganti yang bersih. Tas belanja, tas pinggang saya, tas pergi Nyonya, semprot dengan disinfectan.

Belanja kami cuci juga. Bisa karena dalam botol kaca. Di-angin2. Selang 2 jam kemudian disimpan . . .

Baru setelah cuci tangan dan pakai hand-sanitiser, kami bisa duduk santai. Nonton tivi sambil makan Tahu Petis dan Lumpia. Diluar daftar rencana belanja, tapi kami sudah ndak tahan. Tadi beli juga dalam Mall . . .

Pagihari sebelumnya juga begitu. Olah raga jalan kaki sambil cari sinar matahari. Lewat pasar, yang ternyata masih rame.

Sepatu letakkan di luar, cuci tangan. Baru masuk rumah. Ndak duduk di kursi mana pun sebelum ganti baju . . .

Begitulah 'Protokol Masuk Rumah' yang coba kami terapkan. Mencoba hati2. Ndak panik tapi waspada. Ndak pasrah atau justru sombong, tapi gunakan otak dan daya pikir yang Tuhan karuniakan . . .

Ada sempat masuk keluhan dari seorang Tukang Pijat. 'Kalau begini terus, orang pada takut manggil, saya lalu makan apa ?'

Atau ucapan 'garang' seorang Ibu Mlijo, penjual sayur mayur atau buah keliling. 'Kalau mau mati, matilah. Habis ini memang kerjaan kita. Masak ndak boleh keluar ?'

Jadi kalau mau 'lokdan-lokdon', tolong pikir mereka. Pikir juga orang2 di pasar. Jangan 'kêmlinthi' dulu. Mereka lebih suka dan gagah jika makan dari hasil keringat sendiri. Daripada makan dari jatah karena lockdown.

Eropa yang mencoba lockdown, aliran barang macet. Mereka kayak di Jawa, aliran barang masuk-keluar negara, 75 persen lewat jalan darat. Maka mereka minta lockdown dibuka 'sejenak' . . .

Itu wong Londo yang kerepotan. Apalagi kita yang biasa 'srudak-sruduk' ?

Kita lihat saja perkembangan. Kita masih pakai skenario ringan dan sedang. Sekedar catatan Korea Selatan non lokdan-lokdon berhasil. Itali yang lockdown ya sami mawon.

Jangan manas-manasi lokdan-lokdon. Kecuali mau makan gratisan atau mau 'kisruh'. Chaos. Lalu ambil kendali . . .

Lagipula katanya pasrah. Hidup mati di tangan Tuhan. Lebih takut Tuhan dari pada Corona. Ya sudah, diam saja dipojok. Jangan nyinyir . . .

Kita kerja keras yang cerdas saja. Bismillah . . .

Semoga berhasil. Tuhan beserta kita. Amin. Alhamdulillah . . .

Al Faatihah . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Thursday, March 26, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: