The Professor

Oleh: Satria Dharma
Saya mungkin termasuk golongan manusia yang sangat beruntung. Salah satunya adalah dalam soal gelar. Jika teman-teman saya harus mati-matian sekolah bertahun-tahun dan menyusun thesis, disertasi, nulis makalah berbuku-buku, bikin penelitian macam-macam, riwa-riwi dari asalnya ke tempat kuliahnya, jungkir-balik hanya untuk dapat gelar MM, MPd, DR, PhD, Professor, dan lain-lain, saya tidak perlu melakukan itu semua. Toh orang-orang tanpa minta persetujuan saya dengan senang hati memberi saya gelar-gelar tersebut. Saya ndak pernah minta lho! Sumprit...!
 
Setiap kali saya menjadi pembicara dalam berbagai seminar selalu saja panitianya itu berkenan memberi saya gelar. Entah DR, MM, MBA, MPd, PhD, dan bahkan Professor Doktor...! Kurang apa coba...?! Waktu di India saya satu-satunya yang dipanggil 'Professor' oleh tuan rumah dari perguruan tinggi yang saya kunjungi baru-baru ini. Dari sekian banyak tamunya kok ya saya yang dipanggilnya dengan nama 'professor'! Ediyan toh...?!
Setiap kali saya diminta untuk menuliskan nama lengkap saya memang hanya menuliskan nama lengkap saya saja. Satria Dharma. Titik. Tapi ketika saya datang ke acara biasanya di backdrop tempat acara nama saya selalu tertulis gelar, entah itu DR (ini yang paling sering), MM, MPd, MBA, atau juga PhD. Pokoknya sak karep udelnya panitialah!
Pagi ini saya kembali mendapat gelar tertinggi, PhD dan 'Professor Doktor' sekaligus!
Pagi ini saya berangkat dari Cengkareng ke Solo untuk menjadi pembicara dalam acara seminar "The 3rd National Science Olympiad SMP RSBI 2012" yang diadakan oleh Direktorat PSMP, Kemdikbud. Selain acara lomba Olimpiade Sains bagi siswa RSBI se Indonesia juga ada acara seminar bagi kepala sekolah dan guru-gurunya. Saya juga tidak tahu mengapa saya ditawari sebagai pembicara padahal mereka tahu betul betapa sengitnya saya pada program RSBI tersebut. Mungkin agar mereka bisa beramai-ramai mengeroyok saya di forum tersebut. Tapi ini memang bukan pertemuan pertama dengan komunitas sekolah RSBI. Sebelum ini saya juga pernah diajak di komunitas SMA RSBI. Adalah Pak Indra Djati Sidi yang punya pemikiran brilyan bahwa komunitas sekolah RSBI hendaknya tidak alergi dikritik dan harus punya humas yang baik dan bisa merangkul para pengritik keras untuk melihat bahwa mereka, para guru dan kepala sekolah RSBI, telah bekerja keras untuk memajukan pendidikan. Ini adalah upaya untuk menjembatani perbedaan. Ini hebatnya Pak Indra yang memang diakui sebagai dirjen yang sukses dulunya.
Bersama saya akan hadir dua pembicara lain yaitu Prof DR. Baedhowi, mantan Dirjen PMPTK, dan DR Indra Djati Sidi sendiri (sekarang sudah professor juga di ITB) yang juga mantan Dirjen di Depdiknas dulu. Mereka berdua adalah sohib baik saya dan saya sering tampil bareng dengan mereka dalam berbagai acara seminar guru di berbagai daerah. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan mereka lagi.
Saya naik Lion pagi sekali dan tiba sekitar pukul 9:30 dan ketika saya keluar dari bandara Adi Sumarmo saya melihat seseorang memegang tulisan nama saya "Satya Dharma PhD, The 3rd National Science Olympiad SMP RSBI 2012." Tak salah lagi! Pasti ini penjemput saya. Meski pun nama saya ditulis dengan salah tapi memang itu penjemputan untuk saya. Kali ini saya mendapat gelar 'PhD' gratis.. tis...! Thank you to whoever gives me the title! Saya yakin gelar gratis ini akan membuat teman-teman saya yang jungkir balik untuk dapat gelar S2 dan S3 jadi hijau mukanya saking irinya.
Lebih heboh lagi adalah bahwa sepanjang sesi seminar yang dihadiri oleh ratusan guru RSBI se Indonesia ini saya disebut dengan nama 'Professor Doktor Satria Dharma' berkali-kali oleh moderatornya. Entah darimana sang moderator ini mendapat ide sebrilyan itu. Tapi mau rasanya saya memberikan sebagian honor saya sebagai tanda terima kasih kepadanya. Untungnya Pak Indra dan Pak Baedhowi tidak mau repot-repot mengoreksi kesalahan tersebut. Begitu moderatornya menyebur nama saya dengan gelar 'professor doktor' tersebut Pak Baedhowi malahan lalu berucap "Amin...!" sambil senyum-senyum pada saya. Saya lalu membalas senyum beliau dengan ekspresi wajah tak bersalah. I'm innocent. Do not blame me for looking so intellectual.
Kalau di India lain lagi. Waktu itu saya bawa kartu nama IGI. Karena yang bikin kartu tersebut bukan saya tapi staf IGI maka gelar asli saya dicantumkan sehingga menjadi 'Drs. Satria Dharma' (untung status 'haji' saya tidak ditulis juga. Biasanya ada yang suka memasukkan 'gelar' Haji ini). Dan ketika saya bagi-bagikan pada para tuan rumah dari perguruan tinggi yang kami kunjungi yang sebagian besar bergelar professor doktor, mereka memanggil saya dengan nama 'Professor'. Padahal jelas-jelas bahwa gelar saya adalah 'Drs' tapi kok ya saya tetap dipanggil dengan nama 'Professor' toh...! Ini nasib atau apa ya...?! Bingung aku.
Tapi setelah saya pikir-pikir MUNGKIN mereka kebingungan melihat gelar saya yang 'Drs' tersebut. Gelar tersebut adalah gelar yang khas Indonesia dan sudah punah saat ini. Jadi gelar ini samasekali tidak nginternasional sehingga mendatangkan kebingungan mereka. Mau tanya mungkin mereka malu jadi akhirnya mereka putusin sendiri. Mereka mengira bahwa 'Drs' adalah singkatan dari gelar 'Dr' yang lebih dari satu sehingga perlu diberi akhiran 's' yang menunjukkan bahwa si pemilik gelar ini memiliki lebih dari satu gelar doktor...! Tentu saja mereka menjadi grogi dengan gelar saya dan mungkin bertanya-tanya dalam hati berapa banyak gelar 'doktor' yang saya miliki sehingga berjejuluk 'Drs' tersebut...?! Akhirnya supaya aman maka mereka memanggil saya 'professor' saja (dan saya bisa menerimanya dengan tenang). Edhan po...! Diberi gelar gratis langsung dari perguruan tinggi luar negeri kok ditolak.
Masyarakat kita ini memang masih suka ewuh pekewuh dengan segala macam titel dan gelar. Jadi kalau mereka tidak menuliskan gelar seseorang maka mereka merasa bersalah pada orang tersebut. Apalagi pada pembicara seminar dengan penampilan serius dan ngintelektual seperti saya...! Pikir mereka gak mungkinlah orang top seperti saya ini cuma sarjana biasa. Lha wong saya sudah mengembangkan penampilan, ekspresi, mimik muka, gaya bicara, gaya jalan, gaya duduk, senyum, dan kerut kening yang 'academical and intellectual style' je! Minimal ya orang dengan penampilan seperti saya itu gelarnya S2 dan pantes-pantesnya ya 'Doktor' lah! Karena mereka tidak tahu apa gelar saya maka mereka berupaya untuk 'menyesuaikan' dengan pembicara lain. Kalau pembicara lain level atau kastanya S2 maka saya diberi gelar MM, MPd, MBA, atau apalah yang selevel dengan itu. Dan kalau para pembicara lainnya itu kastanya S3 maka saya juga dapat 'berkah'nya dengan gelar 'Doktor', 'PhD' atau 'Professor'. Jadi gelar saya itu mengikuti siapa sparring saya berseminar.
Jadi kalau ada teman yang masih saja bertanya kenapa saya dulu tidak menyelesaikan studi magister saya, kenapa tidak berkarir di perguruan tinggi, dan sejenisnya maka dalam hati saya menjawab, "Ngge opo...?! Tanpa melakukan apa-apa saja saya sudah dilimpahi gelar macam-macam oleh 'penggemar' saya." Tapi tentu saja itu cuma dalam hati dan rasa bangga itu saya simpan rapat-rapat. Saya harus tetap melanjutkan acting saya bak seorang 'professor doktor' yang merendah dengan ilmu padinya.
"Ah, gelar itu tidak penting. Yang penting itu karya kita." sambil menunjukkan wajah dan penampilan serendah hati dan sebijaksana mungkin.
Sancaka, Solo - Surabaya , 14 Februari 2012
Satria Dharma
Friday, August 7, 2020 - 12:00
Kategori Rubrik: