Profesor di Negeri Onta

Oleh: Denny Siregar
 

Salah seorang yang saya hormati karena tulisan2nya di facebook adalah Profesor Sumanto al qurthuby..

Pengajar di King Fahd University iSaudi ni adalah salah seorang akademisi yang tidak terjebak dengan gelar akademisnya. Ia mampu merendahkan bahasa kajiannya sehingga tampak renyah dan mudah di pahami oleh awam, nge-pop dan mengikuti pergerakan zaman.

Beda jauh dengan banyak akademisi - apalagi yang bergelar Profesor - yang sibuk menyampaikan sesuatu dengan metode yg sangat ilmiah dan tulisannya dipenuhi data2 yang ribet dan njlimet. Tampaknya mereka ini termasuk orang2 yg takut di tanya "dalil-nya mana ??"

Selain itu Profesor Sumanto, mampu menundukkan ego nya sebagai seorang yang bergelar tinggi, tampak dari tulisannya yang santun dan tidak merendahkan follower-nya yg datang dari berbagai macam tingkat pendidikan dan intelektualitas. Meski santun, ia tetap berusaha memporak-porandakan pemikiran sempit banyak umat Islam "cinta aksesoris".

Salah satu tulisan kaum muda NU ini bercerita tentang bagaimana naifnya - kalau tidak bisa dibilang bodoh - pemikiran banyak dari mereka yg mengaku muslim bahwa Islam itu sama dengan arab. Ia menggambarkan bahwa orang arab sendiri - terutama di arab saudi - pengen jadi orang barat, lah di Indonesia malah pengen jadi orang arab.

Buat beliau yang tinggal di Saudi ini, ini pemikiran yang lucu dan menggelitik, bagaimana bisa seseorang ingin menjadi seperti bangsa lain ? Si Profesor sendiri meski lama di Saudi, tidak kemudian berbaju gamis putih panjang, celana cingkrang dam berjenggot panjang. Ia tampak kasual layaknya seorang yang santai dan tetap memelihara jenggot dalam kondisi bonsai.

Tulisannya yang menarik yang di share belasan ribu orang adalah tentang sejarah jilbab, dimana beliau memghantam pemikiran sempit bahwa jilbab itu identik dengan Islam. Sejarah jilbab sendiri berlangsung berabad2 diyakini kaum yahudi dan nasrani jauh sebelum Islam datang.

Dan seperti biasa, ia dituding sebagai JIL, liberal, syiah dan sesat. Hal yang biasa dihadapi oleh muslim moderat yang tidak sudi agama Islam dijadikan agama bodoh dan barbar oleh sebagian penganutnya. Cuek saja dia menulis tanpa beban. Bahkan ia sering memberikan ceramah di gereja2 dalam rangka kerukunan umat beragama. Hal yang pasti di komentari pedas oleh komandan NU garis ngaceng Idrus Ramli, " Memangnya sudah berapa Kristen yg sudah dia Islamkan ?" Si kyai pengagum statistik.

Tidak mudah memang berjuang dalam situasi ketika kebodohan massif adalah bagian dari tanda akhir zaman. Ketika orang yang berteriak "itu salah..." malah dia yang dikeroyok kawanan. Tetapi setidaknya sang Profesor sudah memulai jalan dengan 50 ribu followernya, untuk menjaga bangsa ini dari dampak akibat kebodohan berbaju agama.

Ah, sambil minum kopi ditemani hujan deras, ingat si prof jadi ingat kata Imam Ali as : " Guru yang baik adalah guru yang mampu menggunakan bahasa muridnya.."

Seruput duluu....

(Sumber: dennysiregar.com)

Wednesday, May 25, 2016 - 21:15
Kategori Rubrik: