Produk Mubadzir

ilustrasi

Oleh : Satria Darma

Pabrik apa pun di dunia ini yang menghasilkan produk secanggih apa pun kalau tidak bisa menjual produknya atau memenuhi kebutuhan konsumennya maka pasti akan tumbang. Jangankan produknya tidak sesuai dengan keinginan konsumen, sedangkan kalah bersaing dengan produk lain yang lebih menarik dan sesuai dengan keinginan konsumen saja sebuah pabrik yang sangat besar juga akan tumbang. Ada beberapa perusahaan raksasa yang dulunya luar biasa hebatnya produknya karena dipakai di seluruh dunia tapi kemudian tumbang tanpa terduga. Perusahaan Nokia adalah contohnya.

Nokia sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Ia hanya terlambat dalam persaingan inovasi dengan perusahaan pesaingnya. Keterlambatan Nokia dalam mengeluarkan inovasi akhirnya membuat pabrikan ponsel ‘sejuta umat’ ini tertinggal jauh dibandingkan dengan para pesaing seperti Samsung dengan Android serta iPhone dengan iOS miliknya. Sementara Nokia masih tidak mengembangkan sistem operasinya dan tetap bertahan dengan Symbian. Dan Nokia ambruk begitu saja. Ngeri…!

Tapi Nokia tidak sendirian.. Ada beberapa perusahaan raksasa yang kini bangkrut dan bahkan ada yang hanya tinggal nama saja. Sony Ericsson, Kodak, Panasonic, My Space, Lehman Brothers, Metro Goldwyn Mayers (MGM), Marvell Entertainment, Enron, General Motors, Hugo Boss, Reader’s Digest Associaton, Payless Shoes, adalah beberapa nama yang bangkrut karena merugi dan kalah bersaing. Yahoo yang masih saya pakai juga sebentar lagi bakal tumbang.

Meski demikian, ada ‘pabrik’ yang terus menerus mengeluarkan produk dan meski produknya tersebut sebagian besar mubazir karena tidak terpakai tapi ‘perusahaan’ ini tidak ambruk-ambruk juga. Yang lebih aneh lagi adalah bahwa tidak ada satu pun karyawan di ‘perusahaan’ ini yang bertugas untuk memasarkan ‘produk’nya. Mereka sama sekali tidak peduli apakah produknya tersebut laku di pasaran atau tidak, sesuai dengan kebutuhan di lapangan atau tidak, relevan dan bermanfaat atau tidak, sama sekali tidak ada urusan. Mereka hanya memproduksi saja dan tidak mau tahu mau diapakan dan bagaimana hasil produksinya. Padahal untuk menghasilkan satu produk saja mereka membutuhkan waktu yang sangat lama. Paling cepat mereka butuh 3,5 - 4 tahun untuk menghasilkan produk yang dianggap paling baik dan ini bisa lebih lama.. Kadang ada yang sampai 7 tahun tidak juga lolos produksi sehingga terkadang harus dibuang. Satu ‘pabrik’ yang besar kadang menghasilkan produk hampir sepuluh ribu setiap tahunnya. Di Indonesia ada RIBUAN ‘pabrik’ semacam ini, besar mau pun kecil. Sehingga dalam setahun ada sekitar satu juta produk yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik ini dan ratusan ribu produk ini menganggur alias tidak terpakai. Mereka adalah produk mubazir yang untuk menghasilkannya dibutuhkan waktu selama 4 tahun masing-masingnya. Sungguh ngeri…! 

Apakah Anda sudah bisa menduga ‘perusahaan’ apa yang saya maksud dan apa ‘produk’nya yang mubazir tersebut?
Ya, Anda benar. ‘Perusahaan’ yang saya maksud adalah perguruan tinggi dan ‘produk’nya adalah sarjana-sarjana yang dihasilkannya. Tahukah anda berapa jumlah ‘perusahaan’ penghasil produk mubazir ini di Indonesia? Saat ini terdapat sebanyak 4.498 perguruan tinggi se-Indonesia dengan 25.548 program studi. Jumlah ‘perusahaan penghasil produk mubazir’ ini bahkan lebih banyak, dibandingkan jumlah perguruan tinggi di China yang hanya sebanyak 2.825 perguruan tinggi. Jumlah penduduk kita hanya seperlima dibandingkan penduduk Tiongkok tapi pabrik penghasil produk mubazir kita dua kali lipat dibandingkan mereka. Sangat wow kan…!

Bagaimana mutu institusi penghasil sumber daya manusia yang jumlahnya begitu berlimpah itu? Meski sangat banyak tapi produk institusi ini ternyata memble dan hanya tiga perti yang bisa masuk peringkat 500 perti dunia. Itu aja sudah bangga setengah mati kita karenanya. “Siapa yang tidak bangga memiliki kampus yang diperhitungkan di tingkat dunia. Saat ini Indonesia memiliki tiga perguruan tinggi yang masuk jajaran 500 besar dunia yaitu Universitas Indonesia , Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gadjah Mada,” tulis Kemenristekdikti yang diposting melalui Facebook, Selasa (18/6/2019).

Bayangkan seandainya Kemristekdikti dan para rektor perti tof markotof ini adalah para CEO perusahaan raksasa dunia yang sudah ambruk seperti yang saya contohkan di atas. Apakah mungkin mereka akan bilang begini:
“Alhamdulillah…! General Motors yang saya pimpin ini masih masuk peringkat 50 Besar di bidang otomotif kelas dunia.”,
“Luar biasa…! Nokia yang kita pegang ini masuk dalam peringkat 20 Besar dunia di bidang telepon bimbit.”,
“Siapa yang tidak bangga perusahaan Panasonic kita diperhitungkan di tingkat dunia. Saat ini Panasonic masuk jajaran 500 besar dunia.”

Kalau sampai demikian pasti akan dipisuhi oleh arek-arek Suroboyo yang suka misuhan itu, “Makmu kiper…!”

Setelah saya pikir-pikir ternyata perguruan tinggi itu adalah institusi penghasil produk yang paling tidak bertanggung jawab. (Silakan pisuhi saya karena sebenarnya saya juga punya beberapa institusi penyumbang produk mubazir).

Coba bayangkan…
Perguruan tinggi itu institusi yang terus menerus menghasilkan lulusan yang TIDAK PERNAH PEDULI apakah lulusannya terserap oleh lapangan kerja atau tidak. Perti ini bahkan berlomba-lomba menghasilkan ribuan lulusan dan setelah itu tutup mata tidak peduli apakah lulusan mereka itu memang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan sosial atau tidak. They never give a shit to their products. Mereka tidak pernah berusaha untuk MEMASARKAN produk mereka dan itu karena mereka memang TIDAK PERNAH DIWAJIBKAN untuk memasarkan produk mereka.

Jadi perguruan tinggi negeri yang dibiayai habis-habisan oleh negara- dimana kita bayar pajak kesana- ternyata memang tidak DIMINTAI PERTANGGUNGJAWABAN oleh pemerintah soal produknya. Trilyunan dana digelontorkan pada mereka dan tidak pernah ada pertanggungjawaban soal keterpakaian produk mereka. Yang penting sudah menghasilkan produk dan perkara apakah produk tersebut bisa benar-benar dipakai untuk membangun bangsa dan negara ini tidak ada yang peduli.

“Jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya menca­pai satu juta jiwa, yang meng­anggur ada ratusan ribu,” kata Direktur Jenderal Pembelaja­ran dan Kemahasiswaan Ke­menterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kem­ristekdikti), Intan Ahmad, da­lam pertemuan dengan Kop­ertis Wilayah III DKI Jakarta, di Jakarta, Selasa (26/6). Dan ini disampaikan tanpa ada rasa bersalah apalagi berdosa.

Ratusan ribu lulusan perguruan tinggi mengganggur setiap tahunnya. Apakah pertinya peduli? Apakah pemerintah telah mendorong perti-perti ini untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ini? Hal ini semestinya harus menjadi TUGAS perguruan tinggi dan pemerintah untuk mencari terobosan untuk mengatasi permasalahan ini. Selama ini perti-perti tersebut hanya didorong untuk menciptakan kuri­kulum yang relevan dengan ke­butuhan dunia kerja. Padahal ada faktor-faktor pendukung lain yang jika dilakukan akan menghasilkan terobosan yang sangat jitu untuk mengatasi mubazirnya para sarjana yang menganggur ini.

Apakah saya punya ide untuk ini? Ya, saya punya.

Saya sudah mendiskusikan hal ini pada beberapa teman di perti dan mereka semua setuju bahwa ide saya tersebut merupakan sebuah terobosan yang sangat ciamik (ciamik soro, kata mereka). Apakah saya bersedia berbagi ide ini dengan para rektor dan pejabat Dikti? Tentu saja. ‘Sharing’ is my middle name. Saya bersedia untuk mendiskusikan ide saya ini dengan para rektor dan pejabat di Dikti kapan saja. Caranya mudah. Undang saya untuk ngopi-ngopi di kantor Anda dan kita diskusi maksimal 1 jam. Kalau ternyata ide saya tidak menarik, tidak ciamik, tidak applicable, tidak membangkitkan adrenalin Anda, maka biaya transport dan ngopi-ngopi tersebut saya ganti.

Penak toh…! 

Sumber : Status Facebook Satria Darma

Saturday, January 18, 2020 - 14:45
Kategori Rubrik: