Probabilitas Kesembuhan Pasien

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kabarnya tingkat kesembuhan pasien terinfeksi corona sangat bergantung pada sikap pasien. Ada yang kena virus yang cukup parah tapi bisa pulih. Ada yang tidak seberapa parah tapi justru tidak selamat. Itu cerita seorang istri dokter di Bogor, bu Iin Indriyani yang suaminya ahli pulmonologi, dr Rahmat Iwan Guntoro. Beliau banyak menangani kasus pasien covid.
Saya berusaha menyimpulkan isi ceritanya yang banyak beredar. Tentu dengan sudut pandang saya sendiri dalam melihat Tuhan dan makna kepasrahan.

Ada yang memaknai kepasrahan menerima sakit itu dengan terus berdoa, mendengar bacaan kitab suci, atau mendengar ceramah agama. Tetapi hatinya takut, tidak optimis, takut Tuhan tidak akan menolong. Lain di bibir lain pula di hati.

Ada pula yang memaknai kepasrahan itu dengan selalu merasa happy, merasa optimis akan sembuh, badanku kuat, dan sejenisnya. Tentu saja perasaan optimis ini bukan rasa sombong. Beda. Tetapi keyakinan diri yang kuat bahwa dirinya akan sembuh, kuat menghadapi tantangan, tidak mudah marah atau menyalahkan dokter perawat atau pihak lain. 

Orang optimis bisa saja tidak berdoa melalui bibirnya, tidak mendengar ayat dari telinganya, tetapi hatinya justru melakukannya dengan khusyu' dan ini makin menguatkan motivasinya untuk sembuh.

Bagi yang percaya Tuhan, kesembuhan memang kuasa Tuhan. Tapi kuasa Tuhan bergantung pada sikap pribadinya, optimiskah atau pesimiskah menjalani cobaan.
Pada kasus yang pertama Tuhan mungkin berkata " Ah lemah kalian ini, dicoba segitu saja sudah ciut."
Pada kasus kedua Tuhan kira2 bilang " Nah gitu, semangat, ayo bangkit,kau yang akan menyembuhkan dirimu. Ingat anak istrimu".

Ucapan2 Tuhan itu sesungguhnya menggambarkan bagaimana kita melihat Tuhan. Ya ucapan kita sendiri. Tuhan adalah bayangan kita pada cermin spiritual kita. Bicara pada Tuhan seperti bicara pada diri sendiri. Untuk mengenal Tuhan, kenali diri sendiri. Dalam diri kita ada bersemayam percikan Tuhan. Begitu petuah para ahli spiritual.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Wednesday, April 1, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: