Pro Jokowi Jangan Baperan

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Kecepret..

Belakangan ini ada phenomena dari kaum yang dulu merupakan pendukung kemudian berubah aliran menjadi penghujat dan pengecam. Ada abang awak tersayang yang cukup vocal sebagai motor gerakan ini yang selalu bersuara di barisan paling depan. Sudah beberapa kali hal ini terjadi, ketika ada peristiwa yang cukup sensasional inginnya langsung meminta ayahanda Jokowi untuk berbicara menyampaikan pesan. Mereka tidak bisa menerima sedikitpun keterlambatan dalam bersikap dan inginnya langsung kenyang seperti memakan double porsi mie instant.

Orang-orang ini yang dulu bangga disebut cebong karena mempunyai kepribadian yang bertolak belakang dan berbeda isi otak dengan sang kampret. Setelah proses pemilihan kepala negara atau pilkara usai, kampret bermetamorfosis menjadi kadal gurun yang masih juga sama ngeselin dan kadang pengen dislepet. Ternyata bukan hanya mereka yang berubah bentuk, para cebong ada juga sebagian yang berevolusi menjadi kecepret. Kecebong rasa kampret ini kadang juga mulai resek, inginnya selalu serba cepat dan ribut nga karuan..bret bret bret.. kayak orang lagi mencret.

Dan mereka selalu membanding-bandingkan dan mengatakan menyesal telah mendukung ataupun ingin menarik kembali dukungan. Selain itu selalu kembali bernostalgia mengenang saat masa-masa kampanye dulu yang menurutnya telah memberikan kontribusi yang significant. Mengatakan kalau dia sudah menjadi tameng keberhasilan beliau karena telah berani pasang badan terhadap teman, saudara maupun handai tolan. Ketika semua usaha yang telah dilakukan kembali dihitung-hitung akan seberapa besar keuntungan, itulah yang namanya pamrih karena mengharapkan adanya imbalan.

Jadi teringat akan Ferdinand Hutahaean si sempak merah yang menjadi simpatisan di awal kampanye dan kemudian berbelok dan pindah barisan. Saat berada dalam cengkeraman partai bemobekarat, ada lima tahun dia menghujat segala macam yang ayahanda Jokowi lakukan. Eh.. belakangan sepertinya dia sudah tersadarkan diri dan siuman dari mabuk atau mimpi buruk yang berkepanjangan. Sekarang sudah berbalik arah, kembali mendukung beliau dengan segala cuitannya di media sosial yang menghantam siapa saja yang berseberangan.

Walaupun akhirnya ayahanda Jokowi telah mengeluarkan statement yang mengutuk peristiwa di Sigi dan menugaskan yang berwenang untuk menuntaskan segala macam permasalahan. Herannya sang kecepret malah berkata..tuh, kan akhirnya keluar juga pernyataan setelah adanya penekanan. Semua yang beliau lakukan menjadi serba salah, diam dihujat, tetapi saat bersuara masih juga diremehkan. Padahal, pasti beliau banyak mendengarkan masukan dari berbagai kalangan dan berpikir yang panjang sebelum memutuskan untuk mengeluarkan sebuah pernyataan.

Sejak awal membuat tulisan sekitar dua tahun yang lalu, saya sudah menyatakan dukungan kepada beliau dalam susah dan senang. Saya bukan mendewakan beliau, tetapi ayahanda Jokowi adalah pemimpin yang terbaik yang pernah kita punyai sampai sekarang. Hingga kini saya belum melihat tindakan beliau yang melenceng dari garis kepemimpinan atau memperkaya keluarga dan membuat kroni supaya mereka kenyang. Beliau ada di dalam setiap do'a saya selepas sholat tahajud, semoga selalu sehat dalam lindungan Allah yang Maha Penyayang.

Kemarin saya juga mendelete beberapa postingan di kolom komentar yang mengolok-olok beliau, karena saya tidak bisa mentolerir orang-orang yang berlaku seperti orang sakau. Hormat kepada pemimpin bangsa dan ulil amri adalah salah satu ajaran utama dalam kitab suci, bukan pertanda orang yang galau. Juga saya sibuk bertukar jawab dengan beberapa orang yang tidak menerima opini saya, walaupun mereka tetap keukeuh dengan argumentnya yang kacau. Sepertinya saya harus mulai beberes, menyingkirkan orang-orang di daftar pertemanan yang tidak seirama dengan pemikiran saya, atau kalau mau hengkang juga silahkan, terserah mau melalui jalan belakang lewat apotik seperti si Bibib yang suka ngeracau.

Bukan berarti saya orang yang baperan karena memilih untuk menghapus orang-orang yang tidak sejalan. Di sini, saya mengumpulkan dan mencari teman, bukan permusuhan ataupun lawan yang berujung debat tidak karuan. Saya selalu membalas perselisihan pendapat dengan sopan, tetapi kalau ingin menyampah di lapak orang, warung bang Denny Siregar menerima dengan tangan terbuka dan hati riang. Karena baginya komentar yang penuh dengan caci maki bagaikan hiburan tersendiri, seperti mendengarkan suara monyet di kebun binatang.

Tabik.

Status Facebook B. Uster Kadrisson

Wednesday, December 2, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: