Privilij

ilustrasi

Oleh : Iman Zanatul Haeri

Baru-baru ini ada yang menulis bahwa NU & MD menikmati privilij sebelum didobrak oleh Nadiem Makarim.

Dikiranya kuliah ke luar negeri dan mengembangkan bisnis adalah hasil perjuangan sendiri dan kata-kata bijak?

Sampe hari ini saya masih bingung, dalam buku motivasi bisnis, katanya kalau mau sukses harus, berusaha keras dan berjejaring. Padahal ada faktor lain yang lebih berpengaruh tapi sama sekali tidak disebut dalam buku akutansi manampun.

Peran orang tua. Itulah privilige yang sebenarnya. Kata Guardian, untuk masuk ke Harvard bukan butuh nilai Cumlaude, juara olimpiade, cerdas banget, bacaannya banyak. Bukan.

Cuma butuh 3 hal. Kertas Cek, pulpen dan orang tua yang kaya. Minimal Crazy Rich surabaya lah.

Sekarang begini, apa mungkin modal sekolah negeri aja bisa membuat kita was wes wos bahasa inggris? Bisa! Tapi tambah les! Siapa yang biayain? Orang tua

Kuliah ke luar negeri? Dapet beasiswa? Syaratnya bahasa inggris? Kembali ke Orang Tua.

 

Jadi, privilige itu memang ada dimana-mana. Tapi kalau mengatakan bantun orang tua sebagai usaha sendiri, minimal orang ini masuk level durhaka.

Saya contohkan, anaknya Jackie Chan itu jadi gembel di Canada. Udah di usir sama Chan. Apa Chan gak peduli? Tetep aja di transfer duit bro.

Masih banyak contoh. Maudy Ayunda lo pikir lulusan sekolah negeri? Cek deh bayaran sekolahnya seharga avanza perbulan. Padahal diperumahan sempit di jakarta, buat belain Avanza bisa parkir aja ribut mampus. Boro-boro belajar bahasa inggris?

Orang tua itu. Sumber utama privilige. Makanya kurang tepat klo organisasi dikatakan lebih privilige daripada seseorang yang menjadi pejabat karena privilige dari orang tuanya. Jadi hormatilah orang tua.

Jangan jadi anak gak punya adab.

Sumber : Status Facebook Iman Zanatul Haeri

Wednesday, August 5, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: