Pribumi VS Non Pribumi

Ilustrasi

Oleh : Saiful Huda Ems (SHE)

Sebuah Jawaban atas tulisan Prof Tobroni Ahmad Sahli

Ketika penulis membaca tulisan Prof. Tobroni yang tidak menghubungkan persoalan Pribumi dan Nonpribumi dengan etnik, tentulah penulis sangat sepakat sekali, terlebih dengan diberikannya berbagai argumentasi rasional oleh Prof. Tobroni yang menguatkan alasan-alasan itu. Misalnya manusia lahir dari mana dan dari etnik apa itu diluar kemampuan individu yang bersangkutan, alias sudah menjadi takdirnya yang tak mungkin bisa diubah. Juga planet bumi yang diciptakan Tuhan untuk semua manusia, serta diciptakan-Nya manusia dari berbagai bangsa untuk saling kenal mengenal dan untuk saling hijrah dari satu wilayah ke wilayah lainnya dalam rangka mencari penghidupan. Klasifikasi Pribumi dan Nonpribumi berdasarkan etnik dan wilayah atau tanah adat, menurut Prof. Tobroni juga akan melahirkan sikap tertutup, sikap chauvinisme dan etnosentrisme serta menghambat kemajuan.

Menjadi tidak sepakat bagi penulis ketika Prof. Tobroni mulai menggolongkan Pribumi dan Nonpribumi dengan penekanan pada komitmen seseorang atau sekelompok orang pada suatu wilayah, bangsa dan negaranya. Menurut Prof. Tobroni, seseorang dikatakan Pribumi manakala; ia (seseorang atau sekelompok orang) sudah teruji dalam sejarah ikut berjuang demi bangsa dan tanah airnya dari penjajahan dan penindasan bangsa lain yang dalam konteks Indonesia penjajahnya adalah Bangsa Belanda, Inggris, Portugis dan Jepang; Lalu tidak terbukti menjadi penghianat terhadap bangsa dan tanah airnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan melawan penjajah; Tidak menjadi bagian dari kaum penjajah baik untuk kepentingan ekonomi atau kepentingan missi; Tanah air Indonesia menjadi tumpah darah dalam arti hidup dan mati, suka dan duka mencintai Indonesia dan tinggal di Indonesia; Tidak memiliki kewarganegaraan ganda, cenderung munafik, hipokrit dan cenderung cari enaknya sendiri; serta mencintai budaya, bahasa sesama warga bangsa dan tidak memiliki sikap etnosentrisme yang berlebihan sehingga akan melahirkan sikap eksklusif, sombong dan memandang rendah yang lain. Menurut Prof. Tobroni, orang yang diluar 7 kriteria diatas dapat dikatakan sebagai Nonpribumi, sekali lagi --masih menurut Prof. Tobroni--tanpa memandang etnik asal usul bangsa dan negaranya.

Lalu apa dan dimana letak ketidak sepakatan penulis terhadap 7 kriteria penggolongan Pribumi dan Nonpribumi yang dikemukakan oleh Prof. Tobroni tersebut diatas?...

Pertama, jika penggolongan Pribumi dan Nonpribumi di atas dimaksudkan dalam konteks zaman penjajahan, baik itu saat Indonesia dijajah oleh Bangsa Belanda, Inggris, Portugis atau Jepang maka tentu saja penulis sama sekali tidak keberatan. Bahkan memang seperti itulah seharusnya Pribumi dan Nonpribumi itu digolongkan. Akan tetapi jika penggolongan itu dimaksudkan dalam konteks kekinian atau Zaman Now seperti yang biasa orang sekarang katakan, penggolongan itu sama sekali tidak pada tempatnya, alias sudah kadaluarsa. Itulah mengapa saat Anies Baswedan dalam acara Sertijab Gubernur DKI Jakarta berpidato yang menyinggung soal Pribumi dan Nonpribumi, pidato Anies mendapatkan reaksi keras dari mana-mana hingga sampai ada beberapa kelompok masyarakat yang melaporkan soal pidato Anies ke Polisi karena dianggap telah membuat keresahan di masyarakat, serta mengancam persatuan dan kesatuan nasional.

Setiap zaman baik yang tertulis ataupun tidak tertulis dalam sejarah selalu memunculkan para pahlawan dan penghianatnya sendiri-sendiri. Dan dosa masa lalu orang atau sekelompok orang tidak dapat ditimpakan pada anak atau keturunannya. Warga keturunan A, B, C, D yang nenek moyangnya dahulu pernah berkhianat pada bangsa ini, tidak kemudian ia otomatis mewarisi dosanya. Pun demikian mereka warga keturunan A, B, C, D yang nenek moyangnya dahulu merupakan pejuang atau pahlawan, tidak berarti pula ia mewarisi sifat-sifat perjuangan atau kepahlawanannya, bahkan bisa jadi sekarang anak cucunya sudah menjadi penghianat bangsa. Anies Baswedan misalnya, yang kakeknya dahulu merupakan pejuang kemerdekaan dan menjadi pahlawan, tidak kemudian Anies mewarisi sifat kakeknya seperti yang dikatakan oleh Prof. Tobroni sebagai pembela rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia dari kemungkinan berbagai bentuk penjajahan baru, tetapi menurut penulis Anies bahkan sudah berubah menjadi penghianat besar bagi bangsa ini karena selama menjelang dan sesudah Pilkada DKI Jakarta Anies selalu mengeluarkan pernyataan-pernyataan berbahaya dan sangat kontroversial yang kerap menimbulkan kegaduhan sosial, hingga banyak orang mengatakan Pilkada DKI Jakarta 2017 adalah Pilkada yang paling kotor dan brutal serta terburuk sepanjang sejarah pesta demokrasi di Indonesia.

Kedua, selain daripada itu, dikotomi Pribumi dan Nonpribumi untuk konteks zaman sekarang semestinya sudah tidak perlu lagi kita kemukakan, karena mendikotomikan Pribumi dan Nonpribumi ini tidak hanya akan memperparah luka sejarah kita, namun juga hanya akan semakin melonggarkan ikatan kebangsaan kita. Bangsa-bangsa lain di dunia sudah berlari jauh mencapai kemajuan pesat dibidang teknologi dan ekonominya, tetapi kita masih berkutat pada persoalan Pribumi dan Nonpribumi yang terus menerus memperparah kegaduhan bangsa. Hanya karena sekelompok etnik China menguasai ekonomi beberapa wilayah strategis di Jakarta seperti Manggabesar atau Glodok, lalu kita semua berteriak China penjajah ! Hanya karena beberapa orang dari etnik China melakukan korupsi trilyunan lalu kita teriak China perampok ! Padahal dari banyak berita kita saksikan banyak juga orang keturunan Arab, Jawa, Sunda, Batak, Bugis dlsb. yang telah melakukan korupsi. Kita seolah menutup mata, bahwa di banyak wilayah di Jakarta dan di beberapa kota di negeri ini banyak birokrat, politisi, pengusaha dan pengacara Arab, Jawa, Sunda, Batak dlsb. telah merajai ekonomi masyarakat. Mereka memiliki hotel-hotel besar, perusahaan-perusahaan raksasa, tanah beratus-ratus hektar dlsb. Kadang di hati kecil penulis merasa sedih menyaksikan banyak orang asli Indonesia yang kaya raya tapi memperbudak saudara-saudara sebangsanya tanpa menjunjung tinggi harkat dan martabatnya. Mereka sudah dijadikan sebagai buruh tani yang diperas keringatnya dengan upah gaji yang sangat kecil, dan saat mereka meminjam uang pada majikannya ia harus membayar bunga yang sangat besar. Tragis sekali bukan hidup di negeri yang masih banyak dihuni para kaum hipokritnya? Masihkah kita sibuk berdebat Pribumi dan Nonpribumi? Saatnya kita berjabat tangan satu sama lain sesama anak bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang rukun, aman, damai, maju dan beradab ! Wallahu a'lamu bishawab...(SHE).

Bandung, 23 Oktober 2017.

Sumber : Status Facebook Saiful Huda Ems

Wednesday, October 25, 2017 - 15:30
Kategori Rubrik: