Presiden Pun Imitasi

ilustrasi
Oleh : Karto Bugel
.
Sangat ga apple to apple membandingkan Anis dan Jokowi. Namun bukan salah apel yang satu ingin meniru dan menempatkan diri menjadi apel yang lain.
Meniru, mungkin tidak terlalu tepat bila karena dia bukan subyek. Ditirukan..!! Ditirukan adalah obyek.
Ditirukan dan kemudian ditempatkan pada posisi itu menjadikan Anis dobel obyek. Dia bukan melakukan atau berkehendak, tapi terkena akibat atas tindakan dari pihak lain.
Contoh sukses Jokowi ditiru. Menjadi Gubernur DKI kemudian lompat jadi Presiden, itulah gambar besarnya.
Hebat bila proses meniru itu berasal dari dirinya. Ada kecerdasan positif (paling tidak ada effort untuk menjadi) siap digelar demi langkah sangat sulit seorang Jokowi sampai pada titik tertinggi di negeri ini. Anis tampak bukan person seperti itu.
Latar belakang Anis lebih tampak sebagai aktor. Dan jujur, dia aktor bagus. Dia cerdas ketika menjadi peran. Dia mampu menjadi apa saja dengan totalitas perfect.
Seknario itu pada akhirnya harus berbicara jujur seiring waktu berlalu. Yang satu berangkat dan dimulai dari bawah dan yang lain dari atas. Itu adalah apa yang semakin benderang sebagai akibat logis atas pameo "tak ada yang dapat bersembunyi dari waktu".
Ketika merebut tahta DKI, fenomenal Jokowi sebagai seorang Wali Kota dibutuhkan. Butuh kemustahilan dengan sistem politik kita saat itu. Itu DKI... Itu posisi Gubernur nomor 1 di Indonesia.
Lebih mustahil lagi ketika jabatan Presiden ditujunya.
RAKYAT INGIN, hanya itu jawaban yang mampu menjadikan jembatan bagi jurang kemustahilan bagi langkahnya menjadi Presiden pada 2014 silam.
Jokowi adalah wajah rakyat.
Ketika Jakarta harus direbut sebagai tahap awal, skenario matang dibuat. Antitesa wajah Ahok dengan segala perniknya dipersiapkan. Dobel kafir sebagai ungkapan yang selalu dilontarkan Ahok tentang keberadaan dirinya dijadikan titik bidik. Pribumi dan muslim menjadi tema perjuangan.
Tak membuat partai berbasis Islam otomatis mendukungnya, namun kampanye itu mampu membuat PPP, PAN dan PKB sebagai Partai berbasis Islam berpaling dari Ahok dan bersatu dengan Demokrat dalam putaran pertamanya. Ini strategi bagus. Paling tidak Pilgub dapat dibuat menjadi 2 putaran, dan itu adalah cara pintar.
Dana seolah tak kenal kata habis terus digelontorkan demi kampanye tak sehat digaungkan. Demo tak kunjung usai itu berhasil dan Ahok akhirnya tumbang.
Bukan hanya kalah, Ahok dipenjara dengan maksud. Tema bahwa teman baik Presiden adalah seorang penista agama, langsung mendapat moment dramatis. Ahok hanya target antara dan jabatan Gubernur adalah tangga tiruan atas apa yang pernah Jokowi buat.
Alamiah proses Jokowi dan artifisial para penulis naskah kini saling berhadapan. Rakyat versus kekuasaan.
"Koq alamiah lawan artifisial?"
Ingat saat Jokowi masuk gorong-gorong?
Pada tangkapan poto yang lain Anis sedang dengan gerobak sampah?
Keduanya tampak dalam rasa peduli dan menjadi bagian dari rakyat. Gorong-gorong dan gerobak sampah adalah tentang makna jijik dan kotor. Bergelut dengan kotoran adalah cerita milik rakyat paling miskin.
Sial bagi Gubernur Anis, video aksi berpoto dengan gerobak itu justru mendapat cibiran. Seri aslinya beredar luas. Dia didampingi banyak dayang-dayang dari mereka yang menyiapkan tissue bagi keringatnya hingga cara minumnya diwarung kumuh itu.
Dia dianggap sedang bermain drama demi popularitasnya pada kaum cilik.
Dan benar, dia sangat sulit menjadi bagian dari rakyat yang apa adanya. Dia berjarak dengan rakyatnya sendiri ketika Balai Kota justru dirombak dan tak lagi menjadi tempat bagi warganya mengadu seperti Ahok pernah.
"Itu kan opini kamu. Kenapa ga lihat fakta adanya banyak penghargaan? Lebih dari 25 penghargaan didapatnya setelah dia menjabat Gubernur bukan? Koq sibuk banget sih cari sisi kurangnya??"
Sebagai Gubernur dengan penghargaan terbanyak mungkin tidak salah. Jakarta sebagai Kota terbaik di DUNIA dalam hal transportasi umum diakui oleh ITDP dan penghargaan itu diberikan terkait armada hebat Busway, Trans-Jakarta.
Jakarta juga mendapat penghargaan terkait dengan inovasi dalam transparansi belanja pengadaan oleh LKPP.
Bahkan dari Kemenag pun penghargaan Harmony Award didapatkannya. Jakarta masuk menjadi salah satu kota paling toleran di Indonesia.
"Jadi, pantas dong dia naik kelas menjadi Presiden dengan banyaknya pengakuan atas kinerjanya sebagai Gubernur?"
Covid-19 sebagai bencana global adalah ujian bagi siapa pun, termasuk Gubernur DKI. Ada klasifikasi jelas makna sebagai pemimpin harus berbuat apa dan bagaimana kebijakan dibuat layaknya seorang pemimpin dalam usaha menyelamatkan warganya.
Mei 2020, satu bulan setelah PSBB Nasional ditetapkan, Gubernur DKI memasrahkan 1,1 juta warganya kepada pemerintah pusat terkait Bansos.
Seorang anggota DPRD DKI Gilbert Simanjutak dengan lantang berbicara, "Hilangnya sense of crisis saat Anies tega membayar Rp 207 miliar untuk Formula E, sementara rakyatnya kelaparan. DPRD saja, rela anggarannya dipotong Rp 257 miliar demi kondisi sekarang." https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00309934.html
Januari 2021, kembali Gubernur DKI Jakarta meminta Pemerintah Pusat mengambil alih penanganan covid-19 di Jakarta dan sekitarnya. Terutama di wilayah Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi atau Jabodetabek.
Dalam hal melindungi warganya, apakah sikap seperti ini adalah tentang makna seorang pemimpin, ada banyak celah dapat dibuat debat di sana.
Sepektrum dan gradasi warna sebagai tolok ukur, makin tampak. Sepertinya, dia bukan person seperti yang dulu ingin disampaikan saat awal tampil. Warna diri atas apa yang ingin diceritakan, bukan seperti itu.
Dia lebih tampak tak mengerti makna sebagai seorang pemimpin. Dia tampak lebih senang melempar daripada mengambil tanggung jawab.
Dia seperti tak pernah matang di pohon tapi diperam. Dia dibuat dan dipaksakan terlihat matang demi indah mata terpikat. Rasanya, jangan ditanya...
Dalam hal dia ingin menjadi Presiden, atau dipaksakan oleh kelompok tertentu untuk menjadi, dulu memang punya moment. Hari ini, jauh panggang dari api, mungkin istilah paling tepat dijadikan rujukan.
Segala usahanya berakhir duka. Bedak dan gincu sebagai pemanis wajah tak lagi mampu menyembunyikan wajah dibelakangnya.
Para pendorongnya terengah. Mereka yang kemarin selalu memiliki uang untuk membeli bensin, kehilangan dompet Doraemonnya.
Sama dengan Ahok pernah dibuang oleh partai pendukungnya, kini, giliran Anis. Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Jakarta Timur Ali Lubis meminta Anies mundur.
Ahok dan Anis sama-sama menjadi Gubernur DKI atas usungan Gerindra.
Kehadiran Risma sebagai Menteri Sosial telah membuat dia dan kelompoknya semakin rapuh. Cara kerjanya dibidang sosial saat pandemi ini terlihat telanjang dan buruk.
Menyerah untuk yang kedua kalinya terhadap gempuran ganas pandemi Covid-19 di DKI jelas bukan perkara mudah. Ada rasa frustasi atas tak munculnya kepiawaian yang tak pernah dimilikinya. Bedak dan gincu bukan lagi alat yang dapat diharapkannya.
Tuntutan mundur dari mereka yang kemarin menjagokannya, harusnya tentang klimaks paling menyakitkan. Itu cerita sedih tentang tanda-tanda dia mulai ditinggal sendirian.
Puluhan rekening milik efpei, anggota dan para simpatisannya tak lagi ajaib seperti dompet Doraemon. Sebab keterkaitan dengan ormas terlarang memberi kewenangan PPATK menonaktifkan tombol ajaib banyak rekening itu.
Punya siapakah dan untuk macam kegiatan seperti apakah rekening-rekening itu dibuat, biarkan PPATK nanti bercerita. Ketuanya sudah senyum-senyum sejak awal.
Keterkaitan Pilkada DKI dengan kelompok itu bukan rahasia yang harus dibicarakan sambil bisik-bisik diruang privat. Rusak dompet kelompok itu memang tak dapat dihubungkan langsung dengan kondisi sedih dan tak semangat Gubernur hari ini, namun tidak ada samasekali, mmm..koq naif banget yak...
Semangat untuk meneruskan jabatannya saja sudah terlihat kepayahan. Langkah kakinya tampak semakin gontai dalam raut wajah semakin suram.
Senyumnya tak lagi tampak. Lelah dia dalam goyah keyakinannya sebab banyak teman lantang berteriak telah dibungkam dalam jeruji.
Mereka yang mencoba menirukan langkah bagi Anis atas tapak kaki Jokowi kehilangan jejak dalam jujur langkahnya. Mereka lupa hakikat melangkah adalah hasrat bukan didikté. Bukan alamiah sebagai gerak. Imitasi dan artifisial.
"Masih adakah peluang baginya?"
Genteng warna warni, kolong jembatan pun kini dibuat warna warni. Spektrum warna cahaya yang sangat indah diatas langit hanya bila sebagai pelangi.
Sebagai imitasi pelangi pada genteng dan kolong jembatan, imitasi serupa, pada mimpi jabatan Presiden yang diinginkannya. Tampak indah hanya dalam angan.
.
.
RAHAYU
.
Sumber : Status Facebook Karto Bugel
Wednesday, January 27, 2021 - 17:15
Kategori Rubrik: