Presiden Kok Ngemall?

Oleh: Biakto

Presiden kok suka ngemall kata teman saya yg probokers. Ya daripada naik kuda muter-muter gak bisa keluar dari Hambalang, jawab saya, dia nyengir kayak kuda idolanya.

Kita ini memang kadang cuma gagah-gagahan tapi culun. Dollar naik ribut, padahal, maaf seumur hidupnya ya kantongnya gak pernah disinggahi dollar. Wong beras yg dimakan saat dollar 13 rebu berasnya 9 rebu, dollarnya 15 rebu ya berasnya tetap 9 rebu. Akhirnya kelakuannya cuma mengejar gaya hidup, sementara kesehariannya gak cukup menutup biaya hidup. Dan saat denger kampanye yg menye-menye ikut-ikutan nyamber seolah kalau besok ganti presiden langsung kaya, dan dollar jadi 10 rebu, ini akibat kalau ngimpi kurang tidur.

Kenapa Jokowi bisa sesederhana itu, karena jadi presiden itu amanah, beliau paham betul itu, gayanya tak berubah sejak dari tukang mebel, jadi walikota, gubernur dan skrg jadi presiden. Yg pendahulunya apalagi yg digantikannya, jalan saja paspampres 6 lapis, jangankan mau selfie, belum senyum saja kita sudah disuruh menepi. Ini bakal sama halnya kalau pedagang kuda berkuasa, kita salah senyum saja dia langsung keras ringkikkannya. Hei anda mau dengar saya ngomong, atau anda yg ngomong. Dasar Boyolali. Hal seperti yg dijalani saat ini rakyat bersama Jokowi gak bakalan terjadi, selfie wira wiri, dalam konvoi saja dia selalu berhenti, bersalaman dan langsung buku dibagi-bagi.

Pengalaman kita dikuasai pemerintah yg berkuasa relatif lama dgn gaya high profile, rakyatnya tak bisa apa-apa. Manusia dgn pikiran berjarak dgn manusia lainnya pasti menimbulkan gap dan ruang kosong menganga serta hampa. Jenis manusia seperti ini tidak nyaman didekati atau mendekati. Dia membentuk kasta yg dia puja sendiri sekaligus menikmati. Gaya manusia seperti ini sulit untuk berempati.

Gaya Jokowi ngemall itu melengkapi sukanya belusukan ketengah rakyat dan daerah, Papua dia kunjungi 7 kali, Lombok saat gempa, berkali-kali dia kesana, bahkan jalan tol yg sedang dibangun selalu dia sambangi, sampai Pak Basuki menteri PU gak sempat mandi.

Tidak perlu pakai survey, pakai analisa, pakai ahli membaca gaya. Sekarang kita begitu jelas melihat 2 sosok yg sedang bersama menuju kursi RI 1, yg satu begitu menyatu dgn rakyat dan penuh tanggung jawab. Yg 2 begitu getol mengolok-olok hal yg terjadi di masyarakat. Dengan gaya feodal dia bak tuan besar, memposisikan rakyat bak begundal. Disisi lain setelah penghinaan dilontarkan, dia memberi bualan janji yg tinggi, semua mau dihasilkan sendiri, import tidak ada lagi. Orang gila saja tau sari roti yg keliling RT gandumnya 12 jt ton import dari Amerika dan Australia. Cancut yg dia pakai dan kuda yg dia tunggangi semua import sejak lama. Mana ada negara di dunia bisa hidup sendiri, senyum saja kita butuh orang lain, hanya kuda yg senyum sendirian, seperti tuannya yg selalu kesepian, makanya nafsu berkuasanya yg akan dijadikan pelampiasan.

Gaya adalah refleksi dari tabiat, orang yg suka gaya-gayaan sikapnya tidak konsisten dan cenderung musiman, serta rendah dalam hal kejujuran. Orang yg sederhana, sikapnya tenang, menerima, mendengar, dan tinggi kejujurannya. Ini bisa dibuktikan, bukan cuma dikatakan. HIGH PROFILE LOW PROFIT, LOW PROFILE HIGH PROFIT. Ini sebuah kekontrasan nyata dari dua sosok calon pemimpin Indonesia. Sekarang ditangan kita mau pilih yg mana. Yang pasti high profile pasti berbiaya tinggi dan profitnya termakan habis. Sementara yg low profile pasti low cost, dan high profit.

Ente mau boros di gaya hidup atau aman di biaya hidup. Pikir sajalah, mana ada low profit bisa aman, itu cuma angan-angan. Tapi dgn kesederhanaan dan untung tinggi, akan menciptakan kesejahteraan. Jangan main judi kuda, anda pasti kalah dan nelangsa. NEGARA INI BERKESINAMBUNGAN, BUKAN BARANG MAINAN YANG DIPAKAI UNTUK SULAPAN. PILIH YANG JELAS KERJANYA, JANGAN YANG BANYAK KATANYA.

#MARIJOKOWILAGI

Wednesday, November 14, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: