Presiden Jokowi Sedang Menghadapi 3 Perang, Haruskah Kita Biarkan Sendirian?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memeragakan jurus mahaguru perang Sun Tzu karena mampu  memorak-porandakan lawan tanding sebelum pendaftaran Pilpres 2019 kemarin.

Jokowi sangat cerdik sebab sudah memperagakan jurus perang Sun Tzu dan berhasil membuat lawannya saling bertengkar sendiri.

Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar. Bikin mereka bertengkar sendiri. Haluslah agar kau tidak terlihat. Misteriuslah agar kau tak teraba. Maka, kau akan menguasai nasib lawanmu. Jokowi telah memperagakan jurus perang mahaguru Sun Tzu dengan sangat dingin!

Oleh : Ester Nuria Surianegara

MINGGU Depan tepatnya tgl 23 September 2018, Kita mulai masuk pada tahapan masa KAMPANYE dalam rangka PEMILU Serentak 2019, baik itu PILPRES maupun PILEG baik itu Pemilihan Anggota DPR RI, DPD RI maupun DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Kota.

Merespon dinamika Sosial Politik yang makin meriah dan panas, perlu kita saling mengingatkan, bahwasannya Pemilu hanyalah satu instrumen sirkulasi saja untuk mencari elit politik nasional per periode dalam perjalanan panjang Negara dan Bangsa Tercinta ini.

Karena itu proses demokrasi ini, jangan sampai mencederai keutuhan bangsa secara keseluruhan.

SEPERTI mungkin sudah kita ketahui bersama bahwa PERANG di era Modern ini ada 3 (tiga) Konsep untuk melemahkan sebuah negara, yaitu :

1. PROXY WAR, yaitu perang terjadi dengan lawan menggunakan pihak ketiga.

2. NEOCORTICAL WARFARE, yaitu perang tanpa menggunakan kekerasan langsung, tapi melemahkan lawan dengan menggunakan IPTEK.

3.BRAIN DRAIN, yaitu melemahkan lawan dengan mengambil SDM mereka yang Unggul.

JADI Kesadaran kuat tentang KEBANGSAAN bahwa pada dasarnya "Seseorang itu pada hakekatnya adalah bagian dari suatu Tata Kosmis yang di Ciptakan TUHAN yang Maha Kuasa”. 

Maka dengan sendirinya akan membawa akibat bahwa KOLEKTIVITAS dipandang Lebih Penting dari pada INDIVIDUAL inilah Konsepsi yang sebenarnya dalam ideologi negara kita PANCASILA. Demikian kata Dr.Usmar dalam artikelnya berjudul "Proxy War, Neocortical Warfare dan Brain Drain"

Sebagai warga negara yang baik mestinya jangan kelewat batas dalam BERPRASANGKA BAIK kepada orang lain sehingga menghilangkan kewaspadaan atas diri sendiri. 

Hati-hati, nanti engkau bisa jadi malah KECEWA.
.
Jangan pula kelewat batas dalam BERPRASANGKA BURUK kepada orang lain sehingga menghilangkan kebaikan orang tersebut.

Hati-hati, nanti engkau bisa jadi malah MENZOLIMINYA.
.
Idealnya, pandanglah orang lain/siapa pun dengan TANPA PRASANGKA, maka niscaya akan kau temui dirinya yang sebenarnya.
.
Just remember...
Perasaanmu dapat mempengaruhi dan menguasai keputusanmu.
.
Perasaan CINTA atau SUKA dapat membutakanmu dari yang namanya kesalahan.
.
Perasaan BENCI atau TIDAK SUKA dapat membutakanmu dari yang namanya kenyataan/kebenaran.
.
Maka dari itu, bila memutuskan segala sesuatu, jangan biarkan perasaan (manusiawi) menguasai akal pikiranmu. Akan tetapi gunakanlah akal sehatmu, yakni dengan akal yang tersinari oleh pancaran cahaya-NYA.

Dengan mendapatkan pancaran cahanya-Nya kita rakyat Indonesia bisa memperoleh pencerahan akal sehat untuk bersatu dan bersama memikirkan kemajuan bangsa ini dengan perasaan cinta damai yang bersinar di hati kita semua.

Jika itu terjadi kita bisa MENANGKAL 3 senjata tersebut di atas yang dipakai untuk melemahkan negara kita ini dan Presiden Jokowi sebagai Kepala Negara Indonesia apakah harus kita biarkan menghadapi PERANG sendirian?
.
.
.
#EsterNuriaSurianegara ❤
#PenaPendosa.

Monday, September 17, 2018 - 02:15
Kategori Rubrik: