Presiden Jokowi dan Hoax

Oleh: Niken Satyawati

 

Orang Solo dan sekitarnya, tak sedikit yg mengenal langsung bahkan sehari-hari berinteraksi dengan Pak Jokowi dan keluarganya. Keluarga yg selalu bersahaja dan gak neko-neko.

Hingga suatu ketika Pak Jokowi menjadi calon Presiden RI. Saat itu saya terima inbox dari seorang teman blogger. Dia kasih status Jonru yg menyebut Pak Jokowi adalah nonmuslim. Saya sangat kaget karena tahu betul beliau dan seluruh keluarganya muslim. Saat acara tarling di halaman kantor tempat saya bekerja, beliau selalu hadir dan duduk berbaur dengan jamaah lainnya. Jonru dalam postingan-postingan hasutnya memang gencar menggosok sentimen agama, mempertentangkan antara muslim dan nonmuslim. Belakangan status itu dihapus setelah dishare bertubi-tubi. Ini adalah hoax pertama yg saya terima.

 

 

Saya baru sadar kelompok makhluk seperti Jonru ini tak tanggung-tanggung dalam membjat hoax dan menggosok sentimen. Hoax kedua datang dari kompasianer berinisial HS. Dalam tulisannya yg viral di Kompasiana, dia bertaruh bahwa hajinya Pak Jokowi itu palsu, hanya cerita bohong demi pencitraan. Saya pun menghubungi kawan kuliah saya yg adik kandung Ibu Iriana untuk minta foto haji Pak Jokowi bersama kakaknya, namun dia tidak punya. Memang Pak Jokowi bukan kayak kita yang jumlah foto ibadah hajinya lebih banyak dibanding akumulasi langkah untuk tawaf dan sa'i. Hoax terus dishare dan saya menyaksikan dengan sedih.

Namun... voila! Ibu dokter yg kerabat Pak JKW tiba-tiba memposting foto Jokowi lagi di maktab, bersama kelompok hajinya yg di antaranya adalah Tantowi Yahya. Ada juga seorang sepupu beliau di foto tersebut. Selain itu ada beberapa foto haji lainnya yg baru ditemukan setelah dicari2. Saya pun tak menunggu2, saya tulis bantahan atas postingan HS lengkap dengan foto. Hoax soal haji ini akhirnya terpatahkan.

Setelah itu, hoax Pak Jokowi terus datang bertubi-tubi berbagai versi dan selalu diiringi dengan narasi yang menggosok sentimen SARA. Hoax diproduksi dan disebarkan dengan massif dan terstruktur. Tsunami hoax pun terjadi saat Pak Jokowi sudah menang Pilpres dan menjabat sebagai pemimpin negara.

Hoax terus mengalir dan dipercaya karena kelompok konsumen hoax ini dilarang oleh para pentolannya mengakses informasi selain dari kelompoknya. Mereka menyebut media2 mainstream di bawah Dewan Pers itu sebagai media pesanan. Justru media penyebar hoax dipercaya. Mereka pun tidak tahu berapa banyak jembatan dan jalan dibangun di era kepemimpinan Pak Jokowi yg memudahkan hidup masyarakat. Pun berita2 positif lainnya. Mereka setiap hari terus dijejali hoax dan informasi negatif bahwa pak Jokowi itu anak PKI, ibunya palsu dll. Para aktor di balik agenda ini memang tak peduli ekses dari apa yg mereka lakukan bisa menghancurkan bangsa ini.

Di Ultah ke-57, saya berdoa semoga Allah melindungi Pak Jokowi dan keluarganya dari serbuan gelombang hoax. Semoga Allah melindungi bangsa ini dari orang-orang yg melakukan segala cara untuk merebut kekuasaan.

#57okowi

 

(Sumber: Facebook NIken Satyawati)

Friday, June 22, 2018 - 05:00
Kategori Rubrik: