Presiden Jokowi, Belajarlah dari SBY dan Obama

Oleh: Ninoy N Karundeng

 

Presiden Jokowi harus belajar dari SBY – dan juga Barrack Obama. Hari-hari ini tengah dilalui oleh Presiden Jokowi dengan satu kenyataan, Presiden Jokowi di persimpangan jalan politik. Pilihan sulit. Sesungguhnya Presiden Jokowi yang tengah popular, saat ini tengah mengalami kegalauan yang akut.

Posisi politik dan hukum Golkar dengan pengaruh kuat Setya Novanto menjadi titik paling merisaukan bagi Presiden Jokowi – dan celakanya ditunggu dan dipantau oleh rakyat. Sesunggunya, dalam kondisi seperti ini, Presiden Jokowi bisa belajar dari SBY dan Barrack Obama yang mengalami tekanan dan harapan yang sama dengan Presiden Jokowi di mata rakyat mereka.  

Mari kita tengok posisi Presiden Jokowi yang tengah dihadapkan oleh tekanan dan upaya memeluk dan membelokkan arah perjuangan membela rakyat oleh mafia dan politikus, seperti yang dialami oleh SBY dan Barrack Obama dengan hati gembira ria riang girang bersorak-sorai bahagia suka-cita senang pesta-pora menari menyanyi bahagia sentosa selamanya senantiasa.

Presiden Jokowi terpilih karena rakyat pemilih memiliki harapan yang besar kepada sosok yang (1) sederhana, (2) cerdas, (3) jujur, (4) berani, (5) tidak memiliki hutang masa lalu. Presiden Jokowi terpilih dan menyingkirkan Prabowo karena publik menilai Jokowi-JK mampu keluar dari status quo – dengan modal tidak memiliki hutang masa lalu. Namun, kini Presiden Jokowi tengah berada di persimpangan dan keraguan politik yang sangat membahayakan bagi Presiden Jokowi dan rakyat pendukungnya.

Untuk itu, Presiden Jokowi harus belajar banyak dari SBY dan Obama – yang kini hanya menyisakan 9 bulan pemerintahannya. Rakyat di Indonesia dan Amerika Serikat memiliki harapan tinggi terhadap SBY di masa lalu, serta Obama di Amerika Serikat. Belajar dari SBY. Awal berkuasa SBY berusaha mengidentifikasi diri membela rakyat, namun ketika pragmatism muncul, SBY menjadi penghamba partai yang akhirnya menyingkirkannya dari tujuan awal: membangun bangsa. Pun sesungguhnya SBY juga memiliki modal satu-satunya yakni tidak memiliki hutang masa lalu (bersih). Selebihnya, justru karena sosok SBY yang selama 5 tahun terakhir berkuasa tergambar sebagai (1) elitis, menjaga jarak dengan rakyat, (2) tidak berani bersikap dan selalu ambigu, (3) plastis dan dibuat-buat, tidak apa adanya, penuh pencitraan, (4) penakut dalam membuat keputusan besar, hingga melakukan pembiaran dan bahkan akhirnya dikendalikan oleh pebisnis, mafia dan koruptor seperti ketidakberanian memberantas illegal fishing dan juga membubarkan Petral sebagai sarang korupsi.

Akibat selanjutnya, perselingkuhan polikus dengan dunia mafia menghasilkan ekonomi yang porak-poranda dan terbengkalainya pembangunan bangsa dan negara. SBY gagal memenuhi dan memanfaatkan kekuatan yakni: tidak memiliki hutang masa lalu. Namun, ketidakmilikian hutang masa lalu dan tidak terkait dengan masa lalu plus bonus sebagai bekas tentara tidak dimanfaatkan oleh SBY. Justru SBY dengan gagahnya memeluk dan membangun hutang dengan para begundal dan dimanfaatkan oleh para begundal – sebagai akibat kelemahan dalam kepemimpinan – terjadinya banyak skandal misalnya Bank Century yang mengotori nama Wapres Boediono. Dan korupsi lebih dahsyat lagi BP Migas – sekarang SKK Migas – yang dilakukan oleh Raden Priyono untuk PT Trans Pacific Petrochemical Indontama yang merugikan negara sebesar Rp 35 triliun.

Tak pelak lagi Petral dengan mafia migas M. Riza Chalid yang disebut di belakang mayoritas penunjukan menteri SBY lewat Hatta Rajasa jelas mencorang independensi dan kewibawaan SBY – yang takluk dan mendengarkan bisikan maut kalangan pebisnis dan politikus dan mafia. Kerugian negara selama sepuluh tahun bernilai ribuan triliun, tergambar di laut, darat, hutan dan air. Akibatnya, karena SBY tidak serius memanfaatkan kekuatan itu, sungguh menganaskan bagi rakyat. Rakyat kehilangan harapan dan akhirnya frustasi – di tengah pesta-pora para para politikus dan pebisnis dan mafia yang merampok kekayaan negara, sekaligus memiskinkan rakyat Indonesia.

Belajar dari Obama. Di Amerika Serikat, gambaran yang sama persis seperti pesta pelantikan Presiden Jokowi di Jakarta. Barack Obama disambut jutaan masyarakat ketika mengucapkan sumpah sebagai Presiden Amerika Serikat dengan penuh antusias. Harapan baru. Afro-Amerika pertama menjadi Presiden AS. Sama seperti Presiden Jokowi yang hanya dalam tempo 3 tahun naik dari Walikota Solo, lalu Gubernur DKI Jakarta, dan dalam kurang dari dua tahun menjadi Presiden Republik Indonesia. Barrack Obama naik ke puncak pimpinan tertinggi di AS hanya setelah 4 tahun pertama sebagai seorang Senator.

Obama menulis buku yang menjadi isi inti kampanye baik dalam merebut kursi Senat atau pun dalam kampanye ketika maju sebagai Capres Demokrat. Buku itu berjudul the Audacity of Hope yang berisi harapan dan optimisme. Obama menyebutkan: “I'm not talking about blind optimism here. Hope in the face of difficulty. Hope in the face of uncertainty. The audacity of hope.” Pun buku the Audacity of Hope juga merupakan sikap politik, cita-cita, dan harapan Obama untuk mengubah Amerika Serikat yang dilanda krisis ekonomi, ancaman terorisme, hutang dan deficit yang besar dan menurunnya daya saing bangsa Amerika. Plus menurunnya tingkat keamanan dan kesejahteraan rakyat Amerika.

Obama tampil dan dianggap pas memerbaiki keadaan. Janji-janji ditebar dengan isu menyelesaikan masalah Palestina-Israel. Memerbaiki ekonomi AS dan sebagainya. Hasilnya nol besar. Palestina semakin kacau-balau. Keamanan AS tetap terancam. Ekonomi tetap tertekan. Padahal harapan digantungkan setinggi langit. Saking hebatnya harapan itu, bahkan Presiden Obama dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Alasan Komite Nobel pun sangat naïf karena Obama belum membuktikan ‘berbuat dan berprestasi selain harapan rakyat Amerika Serikat dan Dunia’: Hadiah Nobel untuk Obama ditujukan agar Obama mewujudkan cita-citanya. Itulah Hadiah Nobel paling aneh selama sejarahnya.

Presiden Obama mengalami kegagalan memimpin Amerika Serikat disebabkan oleh 4 hal (1) Obama tak mampu keluar dari tekanan kelompok pebisnis dan lobbyist di Washington, (2) Obama gagal bertindak sesuai dengan keyakinannnya seperti tertulis dalam buku the Audacity of Hope, dan (3) perlawanan kelompok konservatif dalam Partai Republik yang menerapkan asal berbeda dengan Presiden Obama, dengan munculnya Tea Party yang menguasai Kongres dan Senat Amerika Serikat yang dikuasai oleh Partai Republik. Lebih parah lagi, (4) kelompok partai Republik dan Demokrat pun  dikendalikan oleh kekuatan keuangan yang mengarahkan dan mengatur kebijakan Obama lewat legislasi di Kongres dan Senat.

Nah, di Indonesia Presiden Jokowi memiliki Nawa Cita sebagai prioritas kerja nyata Presiden Jokowi. Namun, seperti dialami oleh SBY dan Obama, Presiden Jokowi juga menghadapi tentangan dan tantangan yang sama: mafia dan pebisnis yang berselingkuh dengan politikus. Satu demi satu langkah-langkah politik didukung oleh pendukung setia beberapa orang hebat the Operators. Berkat dukungan mereka, terlebih setelah Jenderal Luhut Pandjaitan menjadi Menkopolhukam, sesungguhnya kekuatan Presiden Jokowi sudah maksimal dan Presiden Jokowi tinggal mengeksekusi Nawa Cita.

Olahan strategi politik lingkaran 1 dan the Operators - dengan dibuktikan dalam kasus terjungkalnya Setya Novanto - sesungguhnya tidak membuat Presiden Jokowi ragu-ragu mengeksekusi suatu keputusan. Kegagalan melakukan pembersihan dan mengakomodasi kepentingan dan janji politik misalnya Partai Golkar dan barter serta kompromi dalam kasus Papa Minta Saham secara nyata akan merusak Presiden Jokowi.

Dukungan hebat the Operators menjadi tersia-sia ketika omongan Presiden Jokowi yang tidak menerima namanya dicatut sesungguhnya hanya menjadi ‘jualan ancaman pepesan kosong terhadap Setya Novanto dan mafia migas dan Petral Muhammad Riza Chalid. Sesungguhnya Presiden Jokowi harus tetap tegas dalam kasus Papa Minta Saham. Sikap lemah Presiden Jokowi dan apalagi bisa dimaknai ketakutan melawan Setya Novanto akan membuat serangan balasan Setya Novanto yang jelas sakit hati dijatuhkan akan menyusun serangan balik politik. K

ini, terlihat upaya merayu Ical, Nurdin Halid, dan Setya Novanto – yang sesungguhnya harus secepatnya diselesaikan secara hukum – dan diakhiri sepak terjangnya. Bukan malah dipelihara dan dirangkul demi mendapatkan dukungan Golkar. Sesungguhnya, ada pilihan menarik yakni Presiden Jokowi tetap menggantung posisi Golkar – demi menaikkan posisi tawar PDIP sebagai pengusung utama Presiden Jokowi, bukan malah berselingkuh dengan Golkar yang jelas akan merugikan Presiden Jokowi sendiri.

Kegagalan melokalisir mafia dan koruptor seperti Muhammad Riza Chalid dan mengusik keterlibatan Setya Novanto dalam kasus pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, dipastikan akan membuat Presiden Jokowi bernasib seperti SBY dan juga Barrack Obama di Amerika Serikat. Pun dengan sebab yang sama persis: takluk dan memeluk kelompok mafia dan pebisnis yang melawan kepentingan rakyat.

Jadi sesungguhnya, Presiden Jokowi harus banyak belajar dari SBY, bukan belajar lagu, namun belajar tentang kegagalannya ketika berkuasa dan berkompromi dan membiarkan mafia bermain, dan juga Barack Obama yang gagal mewujudkan the Audacity of Hope rakyat Amerika. Maukah Presiden Jokowi belajar sebelum semuanya terlambat. Omongan Presiden Jokowi bukan hanya ditunggu oleh the Operators namun juga para pendukungnya. Beranikah Presiden Jokowi menghadapi Muhammad Riza Chalid dan Setya Novanto ataukah malah memeluk mereka dengan berbagai dalih hukum dll. karena senyatanya namanya dicatut, dan sebagai konsekuensinya ditinggalkan oleh rakyat dan gagal seperti SBY dan Barrrck Obama?

Salam bahagia ala saya.

Selengkapnya : 

Friday, February 26, 2016 - 23:30
Kategori Rubrik: