Presiden Adalah Buruh?

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Presiden adalah buruh, pelayan kita, kata beberapa yang sok filsuf secara heroik. Benarkah pernyataan itu? Kayaknya, enggak deh!

Menjadi Presiden, apalagi di Republik Indonesia, adalah sesuatu banget. Setidaknya, Soeharto membuktikan. Demikian juga SBY. Kenapa hanya dua contoh? Kita melihat, anak-anak Soeharto hidup tenang hingga kini, tanpa harus cerita kerja keras macam apa, yang membuat mereka kaya-raya tujuh turunan? Itu semua karena apa? 

 

Kita bisa melihat kini, bagaimana SBY harus memperjuangkan AHY untuk memiliki kendaraan penting. Untuk apa? Semua orang juga tahu; menuju Pilpres 2024. Jika tidak, ngapain merancang perseteruan dengan Prabowo? Membuka pintu ke Jokowi dan Megawati? 

Lepas dari momentum atau pun takdir, meninggalnya Nyonya Ani Yudhoyono (dengan segala maaf) adalah berkah terselubung. Tanpa panggung yang kokoh, AHY akan berat perjalanannya menjadi Capres 2024. Jika Jokowi ‘menolong’ untuk menjadikannya menteri, AHY akan dilempangkan jalan.

Inikah SBY, yang disebut jenderal intelektual? Seorang strateg, sebagaimana dipuji-puji Rocky Gerung dulu? RG hanyalah oportunis nan pragmatis. Bukan intelektual independen. Dalam Pilpres 2019 tampak, SBY bukan strateg ulung. Ia seorang reaktif, dan tidak konsisten, karena tak sabar menunggu anaknya.

Dari Pilpres 2004 hingga purna tugasnya di 2014, SBY bukan presiden dengan capaian cemerlang. Rontoknya suara Demokrat di Pemilu 2014 dan 2019, menunjukkan kualitas dan kapasitas SBY. Coba bandingkan dengan Gerindra, sama-sama dipimpin bekas militer, bahkan tentara pecatan.

Presiden adalah ‘sesuatu banget’, karena itu dengan ketentuan dan syarat berlaku. Tidak baen-baen. Tak sekedar bisa nyinyir. Bukan karena mantan penyair kemudian bisa jadi presiden. Alih-alih kenyentrikan Tuhan, tukang meubel bisa jadi Presiden. Tak bisa diremehkan oleh mereka yang sok filsuf ataupun sok kyai sufi. 

Jika Presiden hanya buruh, kenapa para kelas menengah atas, para kaum terdidik yang menikmati kemewahan dan kemudahan orba, yang berada dalam zomfortable zone, marah-marah dan benciiii banget pada Jokowi? Bukannya ngaku kalah, malah meningkatkan cara bijimana menyingkirkannya! 

Dengan menjadi Presiden, Jokowi bisa memutuskan yang tak bisa diputuskan seorang buruh, kuli, atau pelayan. Karena ia bisa membubarkan Petral. Memerintahkan Menterinya untuk menenggelamkan kapal-kapal pencuri ikan di lautan Indonesia. Bisa membuat harga BBM di Papua sama rata dengan di Jawa. Dan seterusnya. Tidak semua orang bisa melakukan, dan menerimanya bukan? 

Berhentilah berfilsafat, atau sok nyufi, sekiranya secara verbal pun tak bisa menangkap pesan; Bahwa Jokowi menjadi representasi mimpi sebagian besar rakyat Indonesia. Ketika Reformasi 1998 hampir seperempat abad lewat. Bahkan dikhianati.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

 
 
Friday, June 14, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: