Prediksi Selesainya Perang Melawan Covid-19

 

Oleh Marsda Pur Prayitno Wongsodidjojo Ramelan
(Pengamat Intelijen)

Virus Corona Covid-19 ini sulit diraba, berbeda dengan Virus SARS yg pernah ada. Para peneliti, ahli kesehatan belum dapat menentukan secara pasti bagaimana membunuhnya. Diluar tubuh kita gosok dengan sabun selesai...tapi kalau sdh masuk ke sinus, ke paru- paru , banyak kegagalan untuk mengatasinya. Paling parah lansia 60 th keatas, atau yg punya penyakit penyerta, umumnya fatal. Kasus di DKI menurut Gubernur Anies 60 persen yg meninggal Lansia.

Beberapa teori menyebut mahluk ini gesit bila di suhu rendah, dari peta sebaran, negara2 di antara lintang Utara 23,5-60 derajat, jumlah yg positif puluhan ribu, yg meninggal ribuan. Total cases tiga besar, AS pada 6 April 2020 (346,851), Spanyol (135,032), Italia(128,948).Total death, AS (9,620), Spanyol (13,055), Italia (15,887).

 

Dari data, negara2 tropis terkena juga, tetapi jumlahnya tidak meledak seperti di negara subtropis atau sedang. Sbg contoh, Total Cases Indonesia (2,491), Malaysia (3,793), Filipina (3,660), Singapore (1,309). Total death, Indonesia (209), Malaysia (62), Filipina (163), Singapore (6).

Ancaman Kematian Virus Covid

Dari teori ancaman, Corona virus yang baru diidentifikasi sbg SARS-CoV-2 (seblmnya 2019-nCoV) yg berawal dari Wuhan China, kini telah menginfeksi 204 negara lain dengan penyakit yang disebabkannya yaitu COVID-19. Penulis pada artikel ini tidak membahas teori konspirasi dan perang biologi antara China vs AS. Lebih fokus membahas virus dari sisi ancaman dan prediksi kapan selesainya. Saat ini yg terjadi manusia perang lawan virus!

Para ahli Virus sedunia terus berjuang untuk menemukan jawaban yang sangat sulit. Pada Maret lalu, Otoritas kesehatan Islandia mendeteksi 40 varian virus corona setelah bermutasi. Temuan itu muncul setelah mereka melakukan tes bersama perusahaan genetika swasta deCODE genetics terhadap 9.768 orang di negara tersebut.

Menurut profesor dan virolog Universitas Copenhagen, Allan Randrup Thomsen, temuan ini menyiratkan bahwa virus pada akhirnya akan menjadi lebih menular, kendati tidak terlalu parah.

Presiden Donald Trump dan penasihat kesehatannya galau, mendesak warga Amerika Serikat (AS) pada hari Selasa (31/3) untuk mentaati social distancing menjelang "dua minggu yang sulit" saat setidaknya akan ada 100.000 kematian dari virus corona di negara itu.

"Sangat penting bagi rakyat Amerika Serikat untuk mengikuti pedoman selama 30 hari ke depan. Ini masalah hidup dan mati. Dua minggu kedepan sangat menyakitkan" kata Trump saat konferensi pers di Gedung Putih.

Koordinator virus corona Gedung Putih Deborah Birx menampilkan grafik yang menunjukkan data dan pemodelan, lompatan besar dalam kematian menjadi 100.000 hingga 200.000 orang dari virus corona dalam dua minggu mendatang.

Trump mengatakan 2,2 juta orang bisa mati, menurut pemodelan itu, jika tidak ada upaya mitigasi yang dilakukan. Dia akan memperpanjang pedoman federal daripada mengejar keinginan yang sebelumnya dinyatakan untuk membuat ekonomi AS bergerak lagi pada Paskah, 12 April.

"Tidak ada peluru ajaib. Tidak ada vaksin atau terapi ajaib. Itu hanya perilaku: setiap perilaku kita diterjemahkan menjadi sesuatu yang mengubah perjalanan pandemi virus ini selama 30 hari ke depan," kata Birx,Selasa (17/3/2020). 

Perkembangan Vaksin dan Obat

Tim internasional yang dipimpin oleh peneliti dari Universitas British Columbia, Dr. Josef Penninger diklaim telah menemukan obat percobaan yang secara efektif memblokir pintu masuk yang digunakan SARS-CoV-2 atau virus corona Covid-19 untuk menginfeksi inangnya.

Temuan dipublikasikan pada 2 April lalu di Cell Press, yang disebutkan sebagai obat yang mampu menghentikan infeksi awal virus corona, seperti dilansir dari ScienceDaily, (6/4/2020). Selain itu, studi ini memberikan wawasan baru tentang aspek utama dari SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19, dan interaksinya pada tingkat sel serta bagaimana virus dapat menginfeksi pembuluh darah dan ginjal.

ACE2 - protein di permukaan membran sel - yg dipercaya merupakan pintu masuk virus corona. Dalam penelitian sebelumnya, Penninger dan rekan- rekannya mengidentifikasi ACE2, dan menemukan bahwa pada organisme hidup, ACE2 adalah reseptor utama untuk SARS, penyakit pernapasan akibat virus yang diakui sebagai ancaman global pada tahun 2003.

"Studi baru kami menyediakan bukti langsung yang sangat dibutuhkan bahwa obat - disebut APN01 (angiotensin-converting enzyme 2 - hrsACE2) - yang akan segera diuji dalam uji klinis oleh perusahaan biotek Eropa Apeiron Biologics, berguna sebagai terapi antivirus untuk COVID-19, " kata Dr. Art Slutsky, seorang ilmuwan di Pusat Penelitian Keenan untuk Ilmu Biomedis Rumah Sakit St. Michael.

Prediksi Perkembangan Covid-19 di Indonesia

Saat rapat dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (6/4/2020), Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan puncak paparan virus corona atau Covid-19 di Indonesia diperkirakan pada bulan Mei 2020. Diproyeksikan 95.000 orang akan terpapar virus tersebut.

"Berbagai model, pola penyebaran dan puncaknya diperkirakan terjadi akhir Mei 2020 dengan jumlah orang yang terpapar 95.000. Ini prediksi dari BIN, dengan ITB dan UI," katanya.

Penelitian dari Ikatan Alumni Departemen Matematika UI mengeluarkan tiga Skenario :

Skenario 1: Puncak pandemi terjadi tanggal 4 Juni dengan 11.318 kasus baru dan akumulasi kasus positif mencapai ratusan ribu kasus. Pandemi berakhir pada akhir Agustus - awal September.

Skenario 2: Puncak pandemi terjadi tanggal 2 Mei dengan 1490 kasus baru dan akumulasi kasus positif mencapai 60.000 kasus. Pandemi berakhir pada akhir Juni - awal Juli. Skenario 2 yang paling mungkin terjadi jika kondisi saat ini dilanjutkan (kebijakan kurang tegas dan masyarakat tidak disiplin).

Skenario 3: Puncak pandemi terjadi tanggal 16 April dengan 546 kasus baru dan akumulasi kasus positif mencapai 17.000 kasus. Pandemi berakhir pada akhir Mei - Awal Juni 2020.

Badan Intelijen Negara (BIN) 

Pada tanggal 3 Maret, Mayjen TNI Afini Boer mengatakan pihaknya memprediksi puncak Covid-19 di Indonesia akan terjadi 40-60 hari setelah pengumuman 2 Maret lalu.Hal itu menunjukkan badai puncak Covid-19 akan jatuh pada tanggal 2-22 Mei 2020.

Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi ITB 

Dilaporkan pada 19 Maret dan diperbarui tanggal 23 Maret, para peneliti dari Institute Teknologi Bandung (ITB) memprediksi penyebaran virus corona akan terjadi pada Mei 2020 atau awal Juni 2020.

Dr. Joko Haryanto ST Ilmuwan Pengenalan Pola dari Pemprov DIY 

Hasil penelitiannya dari kasus Covid-19 di Indonesia, menyebutkan pada 24 Maret 2020, estimasi periode waktu puncak terjadi antara 70 sampai 100 hari pada kisaran tanggal 12 Mei-12 Juni 2020.Periode kritis akan muncul pada rentang 40-60 hari. Sementara estimasi pemulihan akan terjadi secara nasional selama 120-150 hari sejak kasus pertama ditemukan.

Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat UI 

Hasil prediksinya (27/3) menunjukkan jumlah kasus bervariasi antara 500.000 hingga 2.500.000 kasus dengan pertimbangan intervensi yang dilakukan pemerintah.Prediksi tersebut diasumsikan pada 77 hari tepatnya pertengahan Mei 2020, Tim menggunakan patokan hari pertama pada pekan pertama Februari 2020.

Prof Dr.rer.nat Dedi Rosiadi, SSi, MSC dari UGM 

Peneliti ini pada 30 Maret menyampaikan perkiraan penambahan maksimum total penderita per hari adalah sekitar minggu kedua pada April antara 7-11 April. Dengan penambahan 185 pasien per hari. Maksimum penderita Covid-19 di Indonesia bisa mencapai 6.147 kasus.

Ramalan Anak Indigo India

Pada 22 Agustus 2019, di YouTube, seorang anak Indigo India, Abighya Anand, 14 tahun, meramalkan bahwa dunia akan memasuki fase sulit mulai November 2019 hingga April 2020.

Pada periode 6 bulan itu akan terjadi penyebaran penyakit global dan meningkatnya ketegangan global. Puncaknya pada 31 Maret yang akan terjadi ketegangan di dunia.

Menurut Anand, pada 29 Mei saat bumi mengorbit dari periode yang sulit ini, itu akan terjadi penurunan penyakit global dan penyebarannya akan lebih mudah ditangani.

Anand, anak Indigo India ini telah tampil di berbagai majalah. Pada tahun 2013 ia diwawancarai di Indian Times di mana keterampilan astrologi diuji. Dan yang mengejutkan banyak orang, pengetahuannya tentang astrologi dianggap sangat tinggi. Dengan astrologi dia mampu memperkirakan harga emas dan perak serta kegiatan terkait India lainnya.

Mengenai wabah (virus korona), dikatakan bahwa ini adalah perang global. Perang antara virus dan kemanusiaan, dan apakah pemerintah terlibat adalah dugaan beberapa pihak. Tetapi satu hal yang jelas, itu adalah perang, dia terus bersikeras.

Mengapa Anand menganggap 31 Maret sebagai klimaks didasarkan pada astrologi. Dia mengutip bahwa Mars akan terhubung dengan Saturnus dan Jupiter sementara Bulan dan Rahu, juga akan terhubung.Rahu adalah simpul utara Bulan.

Ini adalah kejadian yang langka karena dlm astrologi Mars Saturnus dan Yupiter dianggap sebagai planet yang paling kuat karena faktanya mereka semua berada di lingkaran luar tata surya. Karena itu ketika mereka semua disejajarkan, pengaruh mereka atas bumi sangat besar.

Sementara untuk Bulan dan konjungsi Rahu, juga sangat kuat karena Bulan dianggap sebagai planet yg menyebar berair. Sedangkan untuk Rahu dianggap sebagai planet komunikator.

Dalam hal penyebaran berair ia dikatakannya bahwa, batuk dan bersin akan terjadi pada sebagian besar manusia sehingga menyebarkan penyakit lebih lanjut. Karena itu penting untuk mengamati jarak sosial selama waktu ini. Itu adalah 31 Maret dan 1 April.

Adapun 29 Mei 2020 menurut pemahaman astrologi poros akan rusak, dan dengan demikian pengaturan planet lebih menguntungkan untuk penyembuhan. Mulai titik ini penyakit akan menurun. Adapun terkait pengaruh wabah yg memengaruhi per ekonomian dunia, perlambatan diprediksi berakhir pada November 2021.

Analisis

Walaupun belum dikuasai 100 persen tentang Corona virus SARS-CoV-2, tetapi beberapa telah berhasil mengidentifikasi
semakin jelas dan mencoba membuat penangkalnya.

Tiap negara jelas memiliki perbedaan baik letak geografis, cuaca, perilaku, kemampuan antisipasi, kesiapan menghadapi pandemi global seperti yang terjadi saat Covid menyebar. 

Kalau melihat fakta sebaran terlihat bahwa di garis Lintang Utara 23,5-60 derajat yaitu negara-negara beriklim subtropis dan sedang, virus sangat menular dan ganas, mematikan. Korban terinfeksi puluhan ribu, yg meninggal ribuan, sementara di negara2 tropis, Asia Tenggara misalnya, Malaysia diurutan30, kasus,3793, meninggal 62, Filipina urutan 33, kasus 3660, meninggal 163, Indonesia urutan 38, kasus 2.491, meninggal 209.

Fakta menunjukkan memang di iklim tropis yg terpapar dlm satu bulan hingga saat ini tidak mencapai 4.000. Virus menulari tersebar karena perilaku mirip karakter di Italia dan Spanyol juga di AS sudah 364.000, Italia, Spanyol dan Jerman sudah diatas 100.000, bandingkan dengan tiga negara Asean yg hanya dibawah 4.000 kasus.

Memang di Indonesia korban yg meninggal lebih besar dibanding Malaysia, Filipina atau Singapura. Bisa saja ini terjadi du awal antisipasi, disebabkan jumlah lansia atau fasilitas kesehatan yg belum siap sepenuhnya.

Oleh karena itu penulis dari persepsi intelijen tidak sependapat dengan beberapa hasil penelitian matematis yg menyebut korban di Indonesia bisa mencapai 95.000 bahkan ada yg mengatakan bisa mencapai 5 juta (serem amat). Persepsi intelijen strategis menggunakan 9 komponen, bukan satu saja. Penulis masih percaya ke depan jumlah yg terpapar tidak akan ekstrem meledak, akan seperti saat ini terus.

Memang diakui apa yg dilakukan pemerintah belum sempurna, tapi upaya makin teratir dan terstruktur, didukung banyak pihak. Wisma Atlit jadi RS, TNI full dilibatkan, RS pulau Galang disiapkan, sekarang justru dgn anjuran menggunakan masker kain jadi ladang rejeki. Kalau semua berjalan, bukan kita yg pusing tapi virus itu pusing terputus. Bagian pentingnya kita harus satu komando dibawah Presiden Jokowi, buat yg anti presiden atau ngorupsi dinamika perang ini, dosa sampeyan, gak takut apa?

Kesimpulan

Dari beberapa fakta dan analisis, puncak curva bisa diperkirakan akan tercapai pada pertengahan Mei hingga akhir Mei 2020. Saat tercapai puncak curva jumlah yang terinfeksi penulis perkirakan sekitar 7.000-an. Mengenai korban yang meninggal apabila menggunakan data death rate selama satu bulan yg berkisar rata-rata 9 persen, maka jumlahnya diperkirakan 630-an pada puncak curva setelah itu turun. 

Jumlah yg meninggal akan bisa berkurang, mengingat presiden Jokowi aktif turun ke lapangan menyiapkan Rumah Sakit khusus perawatan Corona dan membeli APD, obat2an, dll.
Selain itu kini pemerintah pusat menyetujui PSBB di DKI Jakarta sebagai epicenter pandemi nasional, disamping juga mulai diberlakukan keharusan menggunakan masker. Ramalan anak indigo India itu mirip perkiraan, 29 Mei sbg puncaknya, setelah itu turun. 

Penutup

Penulis harap kita jangan terlalu pesimis seperti AS, Malaysia, Italia, dan Spanyol, mereka diuji bagian beratnya, kita InsyaAllah sedang2 saja. Allah telah mengijinkan bangsa petarung ini terlatih siap menghadapi perang biologis, seperti misalnya ada yg buat tahu yang dicampur dengan formalin, pengawet mayat, makan sayuran yg disemprot racun, ayam potong yang disuntik obat supaya mulus. Hebat bukan?

Nah, terakhir, mari kita berdoa, semoga bulan suci Ramadan bisa kita jalani dan lalui, Idul Fitri bisa kembali normal. Sementara jangan mudik dulu, nanti diatur lagi, percaya deh. Salut kepada pemerintah yang telah bekerja keras, perkara masih ada saja yg "cecet-croet", yah dibiarkan karena kita nganut faham demokrasi, bisa omong bebas. Tapi jangan bikin hoax (dosa!), juga jangan ada yg menghina Presiden, diangkep dan dituntut dgn UU ITE , kena 3 tahun atau denda semilyar, kapok. Politisi kala mau berantem nanti setelah perang selesai, dpd kena sawan Covid. Semoga persepsi intelijen sederhana ini bermanfaat, salam sehat dan kompak. Salam hormat Pak Jokowi, smg selalu dalam lindunganNya, Aamiin. 

(Sumber: Facebook Prayitno Ramelan)
Tuesday, April 7, 2020 - 12:15
Kategori Rubrik: