Prabu Kertanegara yang Paranoid

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Jika saja Singhasari berbentuk republik, mungkin rajanya disebut Presiden Kertanegara. Kuciwanya, Singhasari adalah kerajaan. Karena itu penguasanya disebut raja. Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa, gelarnya. Tapi disebut juga Sri Jnanabajreswara, alias Prabu Kertanegara. 

Bukan Kartaredjasa. Kalau yang ini, lengkapnya Butet Kartaredjasa. Lagi pula, Butet lebih milih Jokowi daripada Prabowo. Apa hubungannya? Nggak ada. Jangan suka ngubung-ngubungkan. Yang pasti, Prabu Kertanegara raja terakhir Singhasari. Setelah itu muncul kerajaan Majapahit, yang didirikan menantunya, Raden Wijaya. 

 

Prabu Kertanegara, disebut penguasa Jawa pertama yang berambisi menyatukan Nusantara. Dalam ekspedisi Pamalayu, yang bertujuan menaklukkan kerajaan-kerajaan Sumatera, Kertanegara bermaksud menghadang pengaruh Mongol waktu itu. Baru pada Pilpres 2019 kemarin, suara Sumatera dikuasai Prabowo, dengan isu anti asing dan aseng yang sudah dideklarasikan sejak Kertanegara. Bener begitu? Hoax sih kalimat terakhir ini.

Saat bersinggungan dengan Mongol itulah, Kertanegara yang Buddhis mengenal aliran Tantrayana Kiri, yang meyakini kesaktian atau kekuatan para Dewa. Tantra kombinasi unik antara mantra dan upacara pemujaan secara total. Ia masuk kategori seorang yang bebas dari segala dosa. Maka sebagai penghayat Tantrayana Kiri, ia demen berpesta minuman keras dan seks. 

Belum diketahui apakah juga suka nge-klaim kemenangan terus sujud syukur. Cuma soal minum dan ngesex tadi, bukan untuk hepi-hepi, tapi demi mencapai pencerahan dan kemakmuran negara. Ehm. Makanya, jangan heran ada ahli agama bermasalah, sampai harus lari ke luar negeri, karena mengganggap chatting sex untuk pencerahan iman. Lagian, jaman Prabu Kertanegara belum ada whatsapp. Makanya dia memilih mendatangkan para yoginis yang menawan dari Champa.

Akan halnya Ekspedisi Pamalayu, dengan heroik Kertanegara yang anti asing dan aseng, ingin mengalahkan Kubilai Khan. Soal anti aseng, padahal dulu belum ada Amien Rais lho. Entahlah siapa pembisiknya. Prabu Kertanegara dikenal kejam. Bahkan dikabarkan pernah memotong telinga kiri Meng Hi, utusan Kubilai Khan. Nggak sekedar nyulik.

Tapi, serbuan Kubilai Khan tak terbendung, ketika mengirim pasukannya ke Jawa pada 1293. Cuma, sebelum Singhasari ambruk, Presiden Kertanegara, eh, Prabu Kertanegara ding, keburu mati (1292). Terbunuh ketika Singhasari menghadapi perlawanan Jayakatwang, keturunan Kertajaya, raja yang dibunuh Ken Arok, leluhur Kertanagara. 

Prabu Kertanegara menurut jejak analog, yang kini terlacak di jejak digital, terkenal megaloman, paranoid, suka ngegampar, temperamental. Klaim kemenangannya, dihabisi oleh Jokowi, eh, Jayatkatwang ding. Maaf, typho! | @sunardianwirodono

Thursday, April 25, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: