Prabowo Tersandera Emosi Dan Ambisi Yang Tidak Ukur Diri

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

Sudah kita duga Prabowo bukan seorang yang demokratis dan gentleman. Aturan main yang sudah disepakati kedua belah pihak dalam Pilpres 2019 ditabraknya. Karena alasannya cuma satu : dia kembali kalah. Hanya karena dia kalah serta merta semua dituduh curang. Saluran mekanisme pelaporan kecurangan yang sudah disediakan oleh undang-undang diabaikan begitu saja. Padahal kalau melihat rekam jejak mulai dari kampanye sampai saat ini, jejak kecurangan justru lebih banyak dilakukan oleh kubunya. Tapi semua tidak diakuinya, hanya karena dia malawan kodrat tidak dipilih mayoritas rakyat.

Melihat Prabowo yang berapi-api mengatakan tentang kecurangan Pemilu, saya seperti melihat dia sedang berbicara di depan cermin dan menunjuk diri sendiri. Suara mayoritas rakyat adalah suara Tuhan. Dan dogma dasar demokrasi inipun ditolak oleh Prabowo. Ada kata-kata bijak dari leluhur tentang kelakuan Prabowo : Dia "rumongso biso, ning orang biso rumongso" artinya merasa bisa, tapi tidak bisa merasa. Harusnya Prabowo sadar diri, dalam realitanya mayoritas rakyat Indonesia lebih memilih Jokowi daripada dia. Atau setidaknya jadilah tokoh bangsa yang taat asas dan taat konsitusi. Tunggulah hasil KPU tgl 22 Mei nanti. Kalau tidak puas, lakukanlah protes dengan elegan. Ada mekanisme dan saluran yang sudah disediakan. Jangan meracau dan menuduh curang kayak orang kesetanan.

Apa dampak dan konsekuensi dari kengototan Prabowo ? Para pendukungnya semakin beringas ganas tidak terarah. Pada gilirannya nanti saat para pengikutnya melanggar hukum dengan ujaran kebencian serta menyebarkan HOAX kemudian ditangkap, Prabowo dan kawan-kawan pasti akan mengelak dan membiarkan. Secara tidak langsung Prabowo sudah tega mengorbankan nasib rakyat untuk bertindak anarkis dan inkonstitusional. Dan kalau sudah begini bisa saya katakan Prabowo sejatinya sangat egois dan mementingkan diri sendiri bukan kepentingan rakyat apalagi bangsa dan negara.

Sikap ngotot seorang Prabowo semakin menjadi-jadi karena diprovokasi oleh orang- orang disekitarnya. Sifat kenegarawanan lenyap tak berbekas dari seorang Djoko Santoso, Amien Rais, Rizal Ramli dan tokoh pro ideologi khilafah lainnya. Mereka hanya kelompok kaum pecundang yang memaksakan diri tampil garang. Gerakan dan ujaran mereka sangat berbahaya. Seperti membakar ilalang kering. Pendukungnya jadi semakin liar tak terkendali. Ini akibat ulah elite yang tidak legowo menerima kekalahan.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?

Kita sebagai masyarakat madani yang cinta NKRI dalam damai harus BERSUARA KERAS menghadang mereka. Dengan cara kita harus sigap tetap mendukung Pemerintah dan aparat keamanan negara dengan selalu menyuarakan kebenaran di ruang publik. Jangan sampai ruang publik dikuasai oleh kelompok-kelompok yang akan mengacaukan Indonesia. Suara mayoritas yang kuat dan bergema akan sangat bermakna untuk menjaga kebhinekaan Indonesia.

Ingat satu hal di belakang mereka sigap berdiri kelompok radikal yang punya niat kuat ingin mengganti sistem kenegaraan kita. Mayoritas rakyat Indonesia harus berani menyuarakan kebenaran. Bukan untuk kepentingan orang, Pemerintah atau politik apapun tapi semata melindungi Indonesia dan anak cucu kita dari paparan pemikiran jahat yang berpotensi mengoyak persatuan dan kesatuan kita sebagai Bangsa.

Silent majority.... please SPEAK UP !!!

Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Wednesday, May 15, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: