Prabowo Termangu di Persimpangan

Oleh :Rudi S Kamri

SAAT ini saya tahu bukan kondisi yang mudah dihadapi oleh seorang Prabowo Subianto. Di satu sisi ada keinginan kuat untuk mengukir sejarah bahwa pernah menjadi seorang Presiden, di sisi lain dia menghadapi realita pahit bahwa ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya. Rakyat kembali memposisikan dia sebagai runner-up dalam kontestasi Pilpres 2019. 

Dia juga menghadapi dilema, satu sisi menghadapi elite partai penyokong yang pragmatis dan oportunis dan sudah ada gejala mulai menjauh satu persatu menyelamatkan diri. Di sisi yang lain Prabowo dikelilingi oleh kelompok orang yang mempunyai kepentingan dan agenda tersendiri seperti Amien Rais dan PA 212. Kelompok terakhir ini terus saja mendorong keras Prabowo untuk melawan arus badai. Ini sebuah pertarungan yang tidak mudah dihadapi. 

 

Kalau Prabowo kekeuh mengikuti dorongan sesat Amien Rais dan elite PA 212, dia secara tidak langsung akan menggoreskan tinta hitam pekat di sejarah kehidupannya. Prabowo akan tercatat dalam sejarah bangsa sebagai tokoh yang melawan kodrat demokrasi dan Prabowo seorang yang tidak legowo.

Masalah semakin pelik bahwa ternyata dalam lingkungan terdekatnya, Prabowo juga tidak mempunyai tokoh yang punya integritas tinggi, yang berkemampuan untuk memberikan pencerahan obyektif terhadap realita yang sebenarnya. Orang-orang terdekatnya justru ikut sebagai juru tepuk yang semakin menjerumuskan Prabowo ke dalam kondisi yang tidak sehat. Djoko Santoso, Fadli Zon, Johannes Suryo Wibowo adalah tipikal orang yang pragmatis dan oportunis. Sehingga tidak bisa diharapkan menjadi filter untuk membentengi pertahanan Prabowo terhadap dorongan menjerumuskan yang dilakukan oleh kelompok elite PA 212 dan Amien Rais.

Di samping itu Prabowo harusnya menyadari bahwa sekuat apapun Rizieq Shihab berteriak sampai urat lehernya putus dan suaranya serak, dia tidak akan mungkin mampu mempengaruhi keputusan konstitusional dari KPU atau MK. Apalagi hanya seorang Amien Rais maha guru oportunis dan hasil ijma' ulama abal-abal yang dimotori oleh Yusuf Martak atau Slamet Maarif. Sampai jilid ke 200 sekalipun mereka membuat ijma' ulama, mereka tidak akan pernah mempunyai daya dorong untuk mempengaruhi KPU dan hukum di negeri ini.

Posisi tawar kelompok ini sudah semakin melemah. Apalagi mereka tidak mempunyai 'legal standing' untuk bisa melawan arus besar konstitusional. Mereka bukan siapa-siapa. Dan mayoritas rakyat pun menganggap mereka hanya kelompok dagelan yang sedang main drama lenong. 

Saran saya kepada Pak Prabowo, ikuti saja setiap proses tahapan Pemilu dengan santun dan elegan. Kalau dirasakan ada yang membuat dia tidak puas, masih ada saluran hukum yang disediakan oleh undang-undang. Dan apapun keputusan MK nantinya, harus disikapi dengan kesatria dan sportif. 

Kalau saya jadi Pak Prabowo, saya tidak akan mau dijebak kelompok yang jelas-jelas punya agenda tersembunyi. Prabowo seharusnya memilih menjadi seorang patriot yang tegak lurus tunduk pada hukum dan konstitusi. Jejak akhir seorang Prabowo seharusnya ditulis dengan tinta emas sebagai seorang tokoh negarawan yang menghormati demokrasi

Kalau hal itu dilakukan oleh Pak Prabowo, dia akan dicatat sebagai seorang tokoh yang bijaksana dan seorang negarawan yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok yang jelas-jelas akan menjerumuskan ke jalan yang salah dan sesat. Dan waktunya masih ada.

Jadi tidak perlu bingung Pak Prabowo !!!

Salam SATU Indonesia

 

Friday, May 3, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: