Prabowo Siap-Siap Kalah Di Jateng

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Bulan Juni 2011, gubernur Jateng Bibit Waluyo mengatakan walikota Solo Bodoh karena menolak pembangunan mal di bekas pabrik es Saripetojo. Walikota Solo sendiri hanya berujar "memang saya bodo, masih harus banyak belajar.."

Konflik ini berjalan selama beberapa bulan sampe sang walikota dipilih menjadi gubernur DKI.

Walikota itu adalah Jokowi.

"Hukuman" dari warga Jateng (yang sudah melek internet dan informasi) berlanjut sampe 1,5 tahun kemudian. Bibit Waluyo kalah telak dari mas Ganjar pada pilgub Jateng 2013.

Mas Ganjar menang telak di area Semarang Raya, Banyumas Raya dan Solo Raya. Di Solo Raya, selisih suara Bibit vs Ganjar paling besar.

Ingatan warga Jateng, trutama daerah Mataraman (Magelang Raya dan Solo Raya, termasuk Boyolali) itu amat kuat. Sebagian bahkan menjadi ingatan jangka panjang

Karakter warga Jateng yang halus sekaligus sensitif mewarnai segala sendi kehidupan. Bahkan Majalah SWA bersama TEMPO pernah menulis khusus tentang cara berbisnis di dan dengan warga Jateng.

Jika hati seorang warga Jateng (juga DIY) disakiti, dia tak akan ngomong langsung. Tau2 Anda didiamkan atau tak diajak bisnis lagi. Saya yang sdh agak lama di Jabodetabek, dulu harus belajar lagi. Trmasuk belajar sabar, karena sebuah deal sederhana harus dilalui dengan 4x jamuan makan 

Demikian pula dengan bidang politik. Jika njenengan menyakiti hati warga Jateng, mereka tak akan bereaksi. Tapi Anda tak akan bisa trpilih dalam kontestasi politik apapun

"Lha tapi warga Boyolali kemaren koq demo, Mar?"

Berarti yang menyakiti sudah kebangeten

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Tuesday, November 6, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: