Prabowo Selalu Benar

Ilustrasi

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Apapun yang dikatakan maupun dilakukan oleh Prabowo selalu dianggap benar, tidak pernah salah oleh para pendukungnya. Mirip dengan aturan OSPEK di kampus-kampus jaman dulu sekali yang hanya terdiri dari 2 pasal. Pasal 1, Prabowo tidak pernah salah. Pasal 2, apabila Prabowo salah, lihat pasal 1. Tidak peduli berkali-kali Prabowo ngomong tanpa data, memakai referensi novel fiksi maupun menyampaikan hoax, para pendukungnya akan selalu membelanya. Berbagai jurus rasionalisasi, justifikasi maupun retorika dikeluarkan demi membela sang junjungan.

Menjadi pendukung loyal fanatik Prabowo itu butuh kekerasan hati dan kebebalan sebebal-bebalnya. Bagi yang masih punya rasa malu dan kepekaan nurani tentu merupakan tantangan yang tidak mudah. Ada permainan kesucian disitu. Prabowo memberikan apa yang diinginkan oleh pendukungnya dan para pendukung memberikan apa yang diharapkan oleh Prabowo. Prabowo memberikan pendukungnya sensasi dan ilusi tentang tipe kepemimpian yang macho, gagah-perkasa, disegani, ditakuti dan disiplin sempurna ala militer. Para pendukungnya memberikan apa yang diinginkan oleh Prabowo, loyalitas tanpa batas. Bagi yang pandai mengambil hatinya, maka akan mengambil bagian dalam "kemuliaannya".

Sudah berkali-kali Prabowo jatuh terjerambab karena ulah perkataan dan perbuatannya sendiri. Bukannya mengingatkan, mereka justru mencari alasan yang membenarkan pengingkaran terhadap kenyataan. Mereka menganggap Prabowo sebagai suprahuman. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai titisan Allah. Jadi tidak peduli yang keluar dari mulut Prabowo hoax maupun kebohongan, akan dianggap sebagai kebenaran atau setidak-tidaknya menyamarkannya sebagai kebenaran.

Simak saja pidato terakhir Prabowo yang merendahkan dan meremehkan orang Boyolali, tidak ada simpati atau empati yang tersisa di sana. Dalam benak Prabowo, ia menjadi tolok ukur bagi kebenaran itu sendiri. Suka-suka saja ia bicara. Prabowo tidak peduli bahwa omongannya menyinggung atau menyakiti kelompok masyarakat tertentu. Dan seperti biasanya, para pendukungnya mencari seribu satu alasan bahwa pidato tersebut tidak perlu dipersoalkan. Sungguh miris bagaimana pendukung dengan yang didukung sedang berupaya menenggelamkan dirinya bersama rakyat secara kolektif.

Kalau tujuan Prabowo berpidato demikian supaya menjadi viral dan bahan obrolan di masyarakat, upaya tersebut bisa dikatakan berhasil. Etis atau tidak bukan lagi menjadi pertimbangan yang penting. Yang paling pen ting ialah namanya terus disebut dan disebut. Bukankah ini yang namanya kegilaan ? Dan saya yakin Prabowo tidak akan meminta maaf kepada masyarakat khususnya masyarakat Boyolali atas ucapannya itu. Sebab bukankah itu mengurangi kewibawaannya dirinya sebagai Sang Pemimpin ? Ataupun kalau dipaksakan, dengan berat hati sebagaimana dalam kasus Ratna Sarumpaet, ia meminta maaf tapi tetap tidak merasa bersalah.

Sumber : Status Facebook Guntur Wahyu N

Sunday, November 4, 2018 - 16:00
Kategori Rubrik: