Prabowo Sang Petarung Sejati, Tak Pernah Menyerah Meskipun Selalu Kalah

Oleh : Rudi S Kamri

Prabowo Subianto adalah tokoh fenomenal di Republik ini. Perjalanan kehidupannya cukup menarik untuk dicermati. Lahir dari keluarga "menak" dengan tingkat ekonomi yang cukup mapan, membuat dia menjadi tokoh yang tidak pernah kenal susah sedari kecil. Kakeknya adalah RM Margono Djojohadikusumo pendiri Bank BNI. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo selain dikenal seorang ahli ekonomi juga tercatat beberapa kali menjadi Menteri di jaman orde lama dan orde baru. Namun Soemitro juga tercatat sejarah menjadi tokoh dari pemberontak PRRI di jaman orde lama yang menentang kekuasaan Presiden Soekarno.

Prabowo lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951. Dia merupakan anak ketiga dari ayah asal Kebumen dan Ibu peranakan Jerman Manado. Prabowo tumbuh di keluarga Kristiani yang taat dimana 2 kakak perempuannya beragama Katolik dan adiknya beragama Kristen. Prabowo sendiri beragama Islam. Ada yang mengatakan Prabowo pindah agama Islam karena perkawinannya dengan Titiek Soeharto. Tapi bagi saya tidak penting untuk dibahas karena hal itu merupakan hak privat seseorang.

Ada yang menarik disimak dari perjalanan kehidupan seorang Prabowo. Dalam catatan sejarah kehidupan pribadinya banyaknya mengalami episode KEGAGALAN yang menyesakkan. KEGAGALAN PERTAMA saat dia tidak naik tingkat di Akademi Militer Magelang. Dia masuk Akmil tahun 1969, seharusnya dia lulus Akmil tahun 1973 bersamaan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun karena kena sanksi disipliner dia akhirnya baru lulus Akmil tahun 1974.

Pada saat aktif di militer, Prabowo cukup melesat kariernya. Beberapa pengamat mengatakan hal ini terjadi karena dia merupakan menantu Presiden Soeharto. Karir militernya hampir seluruhnya dijalani di pasukan tempur. Namun perjalanan kariernya tidak komplit karena Prabowo TIDAK PERNAH menjabat menjadi Komandan wilayah teritorial mulai dari Komandan Kodim, Komandan KOREM atau sebagai Pangdam. Karena selalu menjadi komandan di pasukan tempur itulah, mungkin hal ini yang menyebabkan Prabowo mempunyai sifat dan karakter yang KERAS, DOMINAN dan TIDAK DEMOKRATIS. Dan analisa ini sesuai dengan hasil survey dengan responden 204 psikolog beberapa waktu lalu.

KEGAGALAN KEDUA yang dialami Prabowo adalah bahwa dia seorang prajurit yang tidak mampu menuntaskan pengabdiannya di dunia militer. Pada tahun 1998 Prabowo DIPECAT atau diberhentikan dari dinas kemiliteran atas rekomendasi dari Dewan Kehormatan Perwira yang dibentuk oleh Panglima ABRI waktu itu Jenderal TNI Wiranto, karena Prabowo dianggap bertanggungjawab atas terjadinya penculikan 23 orang aktivis mahasiswa sepanjang tahun 1997 - 1998. Dari 23 orang aktivis yang diculik, 9 orang akhirnya dibebaskan, 1 orang ditemukan meninggal dan 13 ORANG DINYATAKAN HILANG SAMPAI KINI.

KEGAGALAN seorang Prabowo di tahun 1998 semakin komplit saat dia pada tahun tersebut juga GAGAL mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Dia bercerai dengan Siti Hediati atau yang kita kenal sebagai Titiek Soeharto. Setelah kegagalan yang beruntun tersebut, dia mengasingkan diri ke Yordania dalam beberapa tahun. Dan awal tahun 2000-an dia kembali ke Indonesia dan kemudian menekuni dunia bisnis seperti adiknya.

Pada tahun 2004 Prabowo mengikuti konvensi Calon Presiden dari Partai Golkar. Tapi KALAH dan mendapatkan jumlah suara yang paling buncit. Pemenang konvensi saat itu adalah Wiranto. Kegagalan di konvensi Partai Golkar membuat Prabowo mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada tahun 2009 Prabowo mencoba peruntungannya dengan ikut kontestasi Pilpres 2009 dengan menjadi Cawapres dari Megawati Soekarnoputri. Tapi lagi-lagi dia GAGAL dan KALAH. Dan yang mengalahkan adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono - Boediono.

Tapi Prabowo terlahir menjadi petarung sejati. Lima tahun kemudian yaitu tahun 2014 dia mencalonkan diri kembali menjadi Calon Presiden dengan berpasangan dengan Hatta Rajasa. Lagi-lagi Prabowo GAGAL dan KALAH LAGI. Kali ini yang mengalahkan dia adalah pasangan Jokowi - Jusuf Kalla.

Beberapa pengamat mengatakan kontestasi Pilpres 2014 membuat Prabowo nyaris krisis keuangan. Dan hal ini diakui oleh Hasyim Djojohadikusumo, adik Prabowo. Untuk itu saat menghadapi Pilpres 2019, dia sempat maju - mundur karena ketiadaan amunisi untuk bertempur. Untung kemudian dia dibantu secara pendanaan oleh Lelaki Tulang Lunak Sandiaga Uno dan beberapa pengusaha. Kompensasinya Prabowo harus mengangkat Sandiaga Uno menjadi Cawapres.

Kontestasi Pilpres 2019 saya prediksi merupakan palagan pertempuran terakhir dari seorang Prabowo. Alasan rasionalnya adalah faktor usia. Kalau dia KALAH lagi dari JOKOWI usia Prabowo tahun 2024 sudah 73 Tahun. Jadi secara logika tidak mungkin dia konyol mau mencalonkan diri lagi menjadi Calon Presiden. Disamping itu kalau dia KALAH LAGI, maka dipastikan amunisinya pun sudah semakin menipis. Otomatis daya tawarnya pun juga sudah semakin anjlok.

Dari perjalanan kegagalan dan kekalahan yang dialami oleh seorang Prabowo, yang terungkap sekilas di atas terbukti seorang Prabowo memang sudah tergaris menjadi orang yang berkali-kali harus menerima suratan takdir sebagai orang yang kalah atau gagal. Namun harus diakui jiwa pantang menyerah dari seorang Prabowo memang hebat. Meskipun lebih sering gagal dan kalah.

Sebagai catatan, mengalahkan Jokowi di tahun 2019 JAUH LEBIH BERAT dibandingkan saat tahun 2014. Pertimbangannya saat ini capaian hasil kerja Jokowi sudah luar biasa hebat. Di sisi lain Prabowo-Sandiaga hampir tidak punya capaian prestasi apapun selama ini. Apalagi saat ini rakyat juga sudah semakin pintar dan obyektif. Kalaupun akan diserang kembali dari isu agama pun juga semakin sulit saat ada Prof. KH Ma'ruf Amin berdiri tegar disamping Jokowi.

So, apakah ini berarti Pilpres 2019 nanti merupakan pertempuran terakhir seorang Prabowo Subianto yang akan diakhiri dengan KEKALAHAN dan KEGAGALAN kembali ?? Kemungkinan besar BISA TERJADI.

Tapi apapun yang terjadi, Prabowo Subianto akan tetap kita kenang sebagai seorang PETARUNG SEJATI yang pantang menyerah meskipun sering kalah dan akan kembali kalah.

 

Sumber : facebook Rudi S Kamri

Monday, September 24, 2018 - 11:30
Kategori Rubrik: