Prabowo Sakit

ilustrasi

Oleh : Musrifah Ringgo

Saat waktu pelaksanaan pemilihan presiden 2019 kian mendekat, tiba-tiba tersiar kabar bahwa calon presiden nomor urut 02 dikabarkan sakit. Benarkah begitu? Ada banyak pihak yang menganalisis kabar ini. Bisa jadi memang sakit beneran, bisa jadi karena ada keperluan lain atau menghindar dari sesuatu. Yang jelas kampanye-kampanye yang dilakukan pasangan capres cawapres 02 tidak banyak terblow up dengan optimal.

Hal ini bisa membenarkan apa yang pernah disampaikan elit Partai Demokrat, Andi Arief dan elit PKS Fachri Hamzah. Andi Arief pada Oktober tahun lalu pernah menyatakan bahwa kubu Prabowo Sandi tidak serius menghadapi Pilpres karena tidak terlihat berkampanye atau setidaknya malas melakukan kampanye. Andi menyebut beda dengan yang dilakukan oleh incumbent.

Capres 01 Joko Widodo meski lebih jarang melakukan kampanye di sela-sela kesibukannya sebagai Presiden namun tim TKN dilihat lebih solid. Incumbent memang diuntungkan posisinya dan ini terjadi pada incumbent siapapun. Entah Megawati atau SBY saat Pilpres yang kedua. Masyarakat terlihat antusias menghadiri kegiatan yang kebetulan digelar oleh pemerintah atau siapapun dan ada Joko Widodo maupun KH Ma'ruf Amien.

Disisi lain, kampanye-kampanye Prabowo lebih banyak dilakukan dengan ceramah diruang tertutup. Silahkan cek, kapan Prabowo berkampanye diruang terbuka, mengunjungi masyarakat di tempat aktivitasnya masing-masing, berdialog. Entah ditepi pantai, di sawah, di pasar, di industri maupun tempat lain. Setidaknya kampanye tertutup akan lebih banyak dihadiri oleh orang-orang partai.

Sementara Sandiaga Uno meskipun melakukan ditempat terbuka, beberapa kali malah disoraki warga. Sebut saja sewaktu kunjungan ke Wonogiri atau ke Juwana Pati. Belum lagi sewaktu ke lapangan malah memunculkan kalimat-kalimat yang berulang. Tipologi pernyataan Sandi itu "story of i", seakan-akan itu suara masyarakat namun sebenarnya bukan suara publik. Sandi sering blunder dalam menangkap suara individu bukan suara atau yang dirasakan sebuah kelompok masyarakat sektor tertentu. Bagi yang tidak faham tentang metodologi penelitian maka cerita 1 orang bisa dianggap mewakili yang lain. Nah pemahaman inilah yang menjadi polemik. Harusnya Sandi tidak mau diarahkan untuk menggali informasi ke orang-orang yang sudah ditentukan. Dia bisa memilih yang lain yang menurutnya bisa merepresentasikan suara komunitasnya.

Nah dari beberapa hal diatas dapat diduga, Prabowo terlihat kebingungan menerapkan strategi kampanye yang efektif. Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi tidak memberi feedback yang memadai bagaimana menjalankan kampanye dengan baik. Konsultan internasional yang disewa, kebingungan menerapkan strategi kampanye firehouse of false hood.

Konsultan mereka tidak memahami perbedaan kultur antara Indonesia dengan Amerika. Akibatnya berbagai informasi hoax yang mereka gencarkan ya dengan mudah terbantahkan. Setidaknya satu hal yang berbeda adalah budaya paternalistik yang masih cukup kental. Orang awam akan mengkonfirmasi informasi-informasi yang diterima kepada orang-orang yang dianggapnya lebih tahu. Efeknya bukan hanya informasi tertolak namun justru menjadi antipati pada yang memberi informasi.

Beban berat ada di Prabowo dan secara psikologis sangat mengganggu. Bisa jadi mantan menantu penguasa orde baru itu terkena psikomatik.

Lekas sembuh pak Prab

Saturday, February 2, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: