Prabowo Penantang Terkuat Ahok dalam Pilgub DKI?

Ilustrasi

Ibarat seorang petinju, Ahok telah ditempa oleh latihan amat keras. Bahkan ia sendiri memukul dirinya, membenturkan kepalanya, untuk menguji sejauh mana daya tahannya. Dan memang ia berhasil. Ahok muncul di arena pertarungan tinju dengan skill hebat, daya tahan kuat, mental baja, lihai dan cerdik bertarung. Otot Ahok pun kekar, didukung otak encer dengan kombinasi wajah dan suara garang. Dengan modal itu, Ahok pun pun sukses naik kelas dari seorang petarung tinju kelas bulu, menengah dan sekarang kelas berat selevel dengan Jokowi.

Di mata publik, Ahok adalah petarung hebat nan kontroversial. Ia disukai, digugu, dipuja sekaligus dicibir. Sepak terjangnya menerobos, mencabik-cabik dan membana. Ia bagaikan Mike Tyson-nya di dunia tinju yang dengan mudah membuat KO lawannya. Ia amat sulit dikalahkan, namun bukan tidak terkalahkan. Hanya saja perlu lawan yang sepadan untu mengalahkannya. Lawannya harus sekelas Evander Holyfield yang dengan sabar menakhlukkan Mike Tyson. Pertanyaannya adalah siapa sosok Ahok yang setara dengan Evander Holyfield itu?

Menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang, publik, pengamat dan partai berlomba mencari siapa penantang Ahok. Pencaharian itu terlihat sulit dan bahkan amat sulit. Benar bahwa ada banyak orang yang berani menantang Ahok. Tetapi semuanya hanya mengandalkan nyali besar dan tidak didukung dengan otak, otot dan pengalaman bertarung. Jelas itu tidak seimbang.

Lihatlah lawan Ahok yang muncul ke permukaan. Ada Lulung, Muhammad Taufik, Adhyaksa Daud, Tantowi Yahya, Hidayat Nurwahid, Nachrowi, M. Sanusi, Ahmad Muzani,Sjafrie Sjamsoeddin, Sandiaga Uno dan Saefullah, Biem Benyamin. Sosok-sosok mereka memang benar sebagai petarung. Namun semua nama tersebut dari kelas bulu alias kelas ringan. Popularitas, elektibilitas dan akseptabilitas mereka jelas di bawah Ahok. Pun pengalaman, visi dan misi mereka membangun Jakarta masih dipertanyakan. Jika mereka memaksakan diri bertarung melawan Ahok, maka akan sia-sia. Mereka semuanya terlihat sebagai petarung amatir.

Petarung yang sedikit bisa diandalkan adalah Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini. Dua-duanya telah membuktikan diri sebagai wali kota sukses. Ridwan Kamil mulai sukses membenahi kota Bandung, sedangkan Risma telah sukses membenahi kota Surabaya. Dua-duanya juga amat potensial untuk menjadi gubernur di daerahnya masing-masing. Nah, jika mereka bertarung di Jakarta, maka mereka bisa diandalkan dan mampu memberi perlawan hebat kepada Ahok. Namun jika dilihat lebih mendalam baik Risma maupun Ridwan bukanlah lawan yang sepadan dengan Ahok. Keduanya beda kelas dengan Ahok. Risma dan Ridwan masih kelas Welter. Sementara Ahok sudah bercokol pada kelas berat. Jika mereka bertarung, maka prediksinya mereka hanya mampu memberi perlawanan tiga sampai lima ronde dari 12 ronde pertarungan. Selanjutnya mereka TKO.

Usaha Partai Gerinda untuk menjaring kader terbaik sebagai calon Gubernur DKI Jakarta sah-sah saja. Namun dari calon-calon yang mendaftar semuanya kelas bulu. Paling banter kelas welter. Lalu siapa lawan Ahok yang sepadan? Saya kemudian melihat deretan nama-nama beken mulai dari mantan pejabat, anggota DPR, pengusaha, praktisi hukum atau kalangan profesional lainnya di negeri ini.

Namun amat sulit untuk menemukan nama yang sepadan melawan Ahok. Saya kemudian menemukan sebuah nama beken yang mampu melawan Ahok. Dialah Prabowo Subianto. Bagi saya Prabowo adalah lawan Ahok yang seimbang. Prabowo ibarat Evander Hollyfield, bisa membuat Ahok takhluk.

Prabowo adalah mantan Danjen Kopassus. Ia adalah petarung yang hebat, telah terlatih dan tertempa amat keras. Berhadapan dengan Jokowi dalam Pilpres tahun 2014 lalu, Prabowo nyaris saja menang. Pendukungnya banyak. Karena itu tidaklah berlebih jika Prabowo Subianto menjadi lawan yang sangat sepadan sebagai penantang Ahok. Jadi saya mengusulkan kepada Pak Prabowo turun gununglah. Daripada sibuk menjaring kader Gerinda merger pula dengan PKS atau partai lain, mending turun gunung langsung. Pak Prabowo bisa langsung mencalonkan diri menjadi penantang Ahok di DKI Jakarta.

Tentu saja ada pertanyaan bukankah jika Prabowo mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI, levelnya turun satu kelas? Jawabannya sama sekali tidak. Menjadi gubernur DKI Jakarta, adalah sebuah prestise. Jakarta adalah tempat membangun dan meningkatkan level karena Jakarta ibu kota negara, pusat segala-galanya di republik ini. Maka mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta adalah sebuah kehormatan. Publik masih ingat bagaimana seorang Hidayat Nurwahid, mantan ketua MPR, ketua Partai, turun langsung bertarung memperebutkan kursi DKI-1. Maka melawan Ahok yang sudah level kelas berat, tetap menarik. Prabowo jelas sudah lama menyandang gelar sebagai petarung kelas berat di republik ini.

Jika Prabowo berhasil menjadi Gubernur DKI Jakarta, selain membalas ‘dendam’ politik kepada Ahok, juga melapangkan jalan menuju RI-1 pada Pilpres tahun 2019 mendatang. Jika kemudian Prabowo mampu membuktikan kehebatan visi, misi dan kerja nyata membangun DKI Jakarta, bukan tidak mungkin publik akan kembali melirik Prabowo dalam Pilpres mendatang. Dan itu harus melalui tahapan ujian. Di Jakartalah ujian itu bisa dilihat. Prabowo perlu melalui tahapan Gubernur lebih dulu untuk menjadi RI-1. Sama seperti Ahok yang terlebih dulu menjadi Bupati, anggota DPR lalu Gubernur. Setelah Gubernur ia sangat mungkin mencalonkan diri menjadi capres. Hal itu juga telah dilalui oleh Presiden Jokowi.

Nah agar Prabowo lebih kuat, pilihlah Ridwan Kamil sebagai wakilnya. Pasangan Prabowo-Kamil adalah pasangan yang kuat di mata publik. Ridwal Kamil yang sudah mulai naik level menjadi kelas welter adalah lawan yang sepadan bagi Djarot yang digadang-gadang sebagai wakil Ahok. Dengan demikian perebutan kursi Gubernur dalam Pilkada DKI 2017 sudah mulai menarik dari sekarang. Jika panas, maka hal itu sangat menarik. Penonton akan bersorak.

Jadi, karena Ahok sudah menjadi petarung kelas berat di DKI Jakarta, maka lawannya juga harus dari kelas berat. Dan itu hanya bisa dilihat dalam diri Prabowo Subianto. Sementara jika Ridwan Kamil berhadapan langsung dengan Ahok, publik masih ragu. Alasannya kelas Ridwan masih bercokol di kelas menengah alias kelas midlewight.

Asaaro Lahagu (Kompasiana)

 

 

Sunday, January 31, 2016 - 15:30
Kategori Rubrik: