Prabowo Kembali Ngawur

Ilustrasi

Oleh : Wahyu Sutono

Prabowo kerap mengatakan hal yang jauh sekali dari realita yang ada, dan kini katakan bahwa 55% rakyat Indonesia buta huruf, yang itu artinya sekitar 135 juta orang di Indonesia buta huruf, dan menurutnya data tersebut didapatnya dari Bank Dunia.

Padahal yang benar adalah Indonesia berhasil mengatasi buta huruf hingga 55% atau sekitar 4 juta orang. Sehingga sekarang tersisa sekitar 3,4 juta orang atau 2,07% dari keseluruhan jumlah rakyat Indonesia.

Ini sungguh sangat memalukan sekali sebagai salah satu Kandidat Calon Presiden 2019. Bagaimana nanti bila jadi presiden bila kerap menggunakan data yang ngawur, tentulah bahaya. Ini seolah hanya ingin dengan sengaja membuat risau masyarakat, walau datanya salah. Dengan demikian muncul opini bahwa pemerintah sekarang gagal, dan harus diganti.

Bila itu benar yang diterapkan, maka sungguhlah memprihatinkan sekali, ditengah pemerintah yang sekarang justru tengah berusaha ngebut membangun di seluruh Indonesia untuk mengejar ketertinggalan yang cukup jauh dari negara lain.

Lucunya kubu oposisi itu terlalu sibuk sekali menyerang petahana, tapi lupa menyiapkan program kerjanya. Sungguh ini bukan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat Indonesia yang umumnya belum melek politik akibat rendahnya budaya membaca.

Cobalah renungkan kembali. Dari pernyataan Indonesia Bubar 2030 yang referensinya hanya dari novel fiksi. Lalu tampang wartawan yang tak bisa belanja di mall. Tampang Boyolali yang tak mampu ke hotel berbintang hingga menuai protes keras warga Boyolali. Lalu mengatakan 99% rakyat Indonesia hidup pas-pasan menurut Bank Dunia, dan itu langsung dibantah oleh Bank Dunia.

Disusul dengan mengatakan tidak akan impor apa-apa, tapi dilain waktu bilang akan impor guru. Sedangkan yang masih hangat adalah mengatakan lulusan SMA hanya jadi tukang ojek yang menuai protes para pekerja Ojol, karena itu pekerjaan halal dan tetap mulia. Yang lucu, wakilnya bilang mau naikkan gaji hingga 20juta, terus dibantah Prabowo yang merasa tak pernah janji.

Ironisnya, begitu seringnya meremehkan orang lain walau konteknya hanya bercanda, eh sekarang minta sumbangan dari warga masyarakat. Karena katanya Bank Indonesia (BI) tak bisa memberikan pinjaman untuk biaya kampanye. Ya amploooop.. sejak berdiri hingga kapanpun BI memang tak akan mengeluarkan kebijakan simpan pinjam perorangan.

Cape deeeeh..

Sumber : Status Facebook Wahyu Sutono

Friday, November 23, 2018 - 22:30
Kategori Rubrik: