Prabowo, Isu Penganiayaan Ratna Sarumpaet dan Skenario Kampanye Hitam Yang Gagal Total

Oleh : Nadia

Ambisi politik capres nomor urut dua Prabowo Subianto memang tidak terukur dan sulit di nalar sehingga tidak heran jika ia sampai ikut  menebarkan berita hoax tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet.
Seperti diketahui, sejak kemarin ramai di beritakan bahwa Ratna Sarumpaet, kolega Prabowo Subianto wajahnya babak belur karena dianiaya orang tak di kenal. Informasi yang beredar, berdasarkan pengakuan para kerabat, Ratna Sarumpaet  dianiaya sejumlah orang tak dikenal saat berada di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, pada 21 September 2018.

Prabowo agaknya tidak mau ketinggalan momentum atau justru segaja memanfaatkan momentum isu penganiayaan tersebut dengan mengelar konferensi pers. Usai menjenguk dan menyambangi Ratna Sarumpaet Prabowo Subianto menyampaikan hasil pertemuannya dengan Ratna ke hadapan publik. Ia menilai, kondisi yang dialami Ratna merupakan penganiayaan dan pelanggaran HAM.
"Menurut kami, satu tindakan yang represif tindakan yang di luar kepatutan. Tindakan jelas pelanggaran HAM, bahkan tindakan pengecut kenapa kepada ibu-ibu usia sudah 70 tahun," papar Prabowo, Selasa (2/10) di rumahnya Kertenegara, Jakarta Selatan .  Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tindakan penganiayaan itu seharusnya tidak boleh terjadi, apalagi Ratna merupakan aktivis yang selama ini selalu memperjuangkan keadilan dan demokrasi. Dengan demikian, insiden yang menimpa Ratna merupakan permasalahan yang serius. "Ini ancaman serius ini sangat ironi," tukasnya.

 

Skenario Yang Gagal Total
Rasanya tidak mungkin kalau Prabowo tidak tahu kalau penganiayaan Ratna Sarumpaet adalah hoax yang segaja di sebarkan untuk menuding pemerintah tidak bisa memberikan rasa aman kepada warganya yang suka mengkritiknya. Meskipun akhirnya Ratna Sarumpaet sudah mengatakan kalau penganiayaan terhadapnya hoax belaka dan ia minta maaf kepada Prabowo.  Apa alasannya? Ya, karena Prabowo  pasti tidak begitu bodoh mau percaya dengan narasumber yang mengatakan soal isu penganiayaan tersebut. Masak sih sekelas Prabowo mau-maunya ketipu lagi setelah dulu ditipu ia memenangkan Pilpres 2014. Sudah terlanjur sujud syukur dan berkaor-kaor ia memang versi hitung cepat, ternyata di bohongi.

Artinya patut di duga jika Prabowo sudah tahu skenario  penganiayaan Ratna Sarumpaet tersebut, meskipun bisa jadi bukan ia yang punya gagasan itu. Ia mengiyakan saja bisikan dari tim suksesnya dan mau berperan untuk mengelar konferensi pers yang sekilas ungkapan keprihatinan terhadap kasus penganiayaan tersebut, tetapi sejatinya ia menuding pemerintah tidak becus memberikan keamanan bagi warganya. Ia dan timnya berusaha menciptakan opini negative terhadap pemerintah. 
Polisi yang sejak awal mencurigai kasus tersebut (karena orang seperti Ratna Sarumpaet jika benar dianiaya kok tidak lapor polisi-ini sangat aneh) bergerak cepat melakukan penyelidikan. Dan nyatanya berdasakan bukti-bukti hasil investigasi, Penganiayaan Ratna Sarumpaet adalah bohong belaka. Dari informasi kalau Ratna dianiaya setelah mengikuti  konferensi internasional itu sudah dibantah polisi karena tidak ada acara tersebut di Bandung plus pada hari terjadinya penganiayaan ternyata Ratna tidak diBandung tetapi pada tanggal 21 September  Ratna ada di RS Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta. Pun masih banyak fakta lain yang diungkap polisi dan secara nyata menunjukkan bahwa penganiayaan Ratna Sarumpaet adalah  dusta belaka.

Kualitas Capres Prabowo Subianto ternyata hanya sebatas itu, sangat memalukan sekaligus menjijikkan. Hanya demi ambisi politik ia melakukan perbuatan nista ikut mengiyakan, menyebarkan hoax yang mendiskritkan pemerintah, apalagi di tengah situasi duka nasional karena bencana di Palu dan Donggala.

Lantas apakah anda semua masih berminat memilih capres model Prabowo ini, yang suka menyebar hoax, memfitnah dan menyebarkan keresahan di masyarakat? Maka, jadilah pemilih cerdas pada Pilpres 2019 nanti.

#jadilahpemilihcerdas
#tolakcaprespenyebarhoax
#Pilpres2019tanpahoax

Wednesday, October 3, 2018 - 18:30
Kategori Rubrik: