Prabowo Islami?

Ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Masih menjadi misteri besar buat saya: bagaimana mungkin Prabowo bisa disimbolkan sebagai figur Islami. Tak pernah dalam periode-periode sebelumnya, Prabowo diasosiasikan dengan Islami. Kalau gesture gagah, nasionalis, stabil dll iya. Bahkan figurnya lebih diasosiasikan dengan “sejarah berdarah” oleh kelompok progresif. Kok bisa lalu diasosiasikan Islami? Dari sisi mananya? Karena hati tak bisa diukur, maka kita tak pernah bisa menghakimi ke-Islam-an beliau secara personal, tentu. Tapi sebagai figur publik, bagian mana dari rekam jejak beliau yang bisa diasosisasikan dengan Islami?

Satu-satunya penjelasan hanyalah: kegamangan dan logika binary sebagian muslim, khususnya muslim literalis-tekstual (vis a vis muslim progresif-kontekstual). Ada kegamangan luar biasa besar di kalangan Islam literalis-tekstual dengan simbol-simbol agendanya seperti: larangan pakai topi santa, larangan mengucapkan selamat natal tahun baru, mewajibkan jilbab di semua sekolah, mengusung perda atau peraturan syariah, LGBT dsb. Kegamangan kultural semacam ini lazim muncul di dalam masyarakat yang terkena goncangan-goncangan perubahan jaman now, baik goncangam sosial maupun goncangan ekonomi. Kegamangan ini membawa mereka merasa “kembali pada agama” adalah satu-satunya jalan aman dan jalan solusi. Ini yang diduga salah satu sumber munculnya populisme religius di Indonesia.

Kegamangan ini mudah dibaca dan dijadikan bahan bakar oleh elit politik. Sebenarnya sepanjang sejarah Indonesia sih, selalu dipakai. Jaman now, dikipas-kipaslah narasinya: Jokowi tidak dukung ini itu. Jokowi anti ini itu. Jokowi dibelakangnya ada ini itu. Ummat dihancurkan. Dsb.

Ok lah semisal dimata mereka Jokowi tidak se-Islami harapan mereka. Tapi Prabowo? Dengan logika binary, kalau Jokowi tidak Islami, maka lawannya lebih Islami, dalam hal ini Prabowo, gak peduli detil rekam jejak Prabowo seperti apa. Apa Prabowo datang dari keluarga santri? Apa Prabowo dekat dengan ulama? Apa Prabowo hafidz Qur’an, rajin ke masjid, rajin sholat jamaah, rajin umroh, sering mengutip ayat-ayat Qur’an, memahami fiqih Islam dengan mendalam, paham sejarah umat Islam?*) Jawabannya: gak tahu dan gak peduli. Pokoknya karena Jokowi tidak Islami, maka Prabowo lebih Islami. Titik.

*) Ini kalau pakai ukuran-ukuran mereka ya, saya sendiri tidak pernah pakai ukuran-ukuran seperti itu tentang Islami, saya pakai ukuran-ukuran Islami seperti: tidak korupsi, bersih, melayani kepentingan rakyat, motivasinya bukan karena ego pribadi, dsb.

Berita dibawah mungkin bisa sedikit menjelaskan bagaimana dan siapa-siapa saja narator cerita diatas.

Pertanyaannya: kenapa kongsi (tampak) mulai petjah?

"Kami prihatin kasus yang dihadapi oleh La Nyalla dan beberapa nama yang kami ajukan kepada pimpinan partai agar kader dari Aksi 212 itu. Dari 171 (pilkada), kita hanya minta lima agar bisa diberi rekom khusus, jalur khusus.”

(Ohh jadi sebagian kompensasi yang diminta ke Gerindra: kader-kader 212 ada yang dipasangkan sebagai calon di pilkada dari Gerindra, tanpa bayar uang mahar alias jalur khusus gratis? Baru tau..)

“Kita kan menganggap para ulama sudah memperjuangkan dengan pengerahan Aksi Bela Islam 212 yang sangat fenomenal dan kita di Jakarta sudah berhasil memunculkan Gubernur Anies-Sandi," ujar Al-Khaththath."

"Pesan Habib Rizieq ketika saya pergi ke Mekah, meminta kepada tiga pimpinan partai supaya meng-copas (copy-paste) yang ada di Jakarta supaya mendapatkan kemenangan di provinsi-provinsi lain."

"..saya nggak tahu apakah ada mispersepsi seolah-olah kita mendukung dengan cek kosong. Mungkin pemahaman mereka seperti itu,"

"Kita mendukung munculnya Gubernur Anies-Sandi dengan semangat 212, semangat Al-Maidah 51. Kita berharap hal itu terjadi di tempat-tempat lain," imbuhnya. "

Sumber : Status Facebook Chitra Retna dengan judul asli Misteri Prabowo

Friday, January 12, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: