Prabowo Ingin Seperti Donald Trump

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Calon presiden Prabowo Subianto mempertanyakan mengapa tidak ada pemimpin Indonesia yang berani berbicara lantang seperti presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memiliki semboyan America First dan Make America Great Again. Prabowo mengutarakan hal tersebut saat berpidato dalam acara Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin di Pondok Gede, Jakarta, Kamis (11/10). "Dia mengatakan America First. Dia mengatakan Make America Great Again," ucap Prabowo. "Kenapa kok bangsa Indonesia tidak berani mengatakan 'bagi Bangsa Indonesia, Indonesia First. Make Indonesia Great Again'," lanjut Prabowo yang langsung diberikan tepuk tangan oleh anggota LDII seluruh Indonesia yang mendengarkan. Sebatas ini saya bisa terima. Karena itu ungkapan nasionalisme.

Namun ketika Prabowo mengatakan “ "Kenapa tidak ada pemimpin yang berani mengatakan, 'yang penting adalah pekerjaan untuk rakyat Indonesia'," kata Prabowo. Ini jelas konsep ekonomi yang dipakai oleh BOSAN adalah konsep ekonomi Trump seperti contoh memotong pajak penghasilan dan menaikan batas tidak kena pajak. Kekaguman Prabowo kepada Trump sangat besar sekali. Seakan gaya dan kebijakan ekonomi Trump adalah terbaik bagi masa depan Indonesia bila dibawah kepemimpinannya. Benarkah Trumps pantas dijadikan panutan ?

Teman saya orang Amerika bercerita bahwa berulang kali, Donald Trump memberi tahu rakyat bahwa perekonomian AS "benar-benar booming", "yang paling kuat yang pernah kami alami" dan "yang terbesar dalam sejarah Amerika”. Itu semua berkat kepemimpinannya. Sayangnya, seperti hampir semua yang keluar dari mulutnya, Trump tidak jujur ​​dengan rakyat Amerika. Benar angka pengangguran turun. Sekarang, 4 persen. Tetapi itu sudah terjadi jauh sebelum Trump menjadi presiden. Memang tingkat pengangguran terus menurun. Di bawah Presiden Barack Obama, tingkat pengangguran AS turun dari 10 persen pada Oktober 2009 menjadi 4,8 persen ketika akhir pemerintahan Obama.

Ini bukan hanya fenomena AS. Karena sebagian besar dunia terus pulih dari resesi besar tahun 2008. Terjadi reorientasi investasi dari sektor keuangan ke sektor real. Dan ini terjadi di hampir semua negara. Tingkat pengangguran di Jerman turun menjadi 3,4 persen. Tingkat pengangguran Jepang hanya 2,2 persen. Tingkat pengangguran di Kanada dan Inggris adalah yang terendah dalam 40 tahun terakhir. Tingkat pengangguran rendah adalam dampak dari reorintasi investasi yang tadinya berpusat ke sektor financial ke sektor produksi atau tradebable.

Tidak ada program Trump yang significant untuk mengurangi rasio GINI. Angka kemiskinan di negara AS tetap sangat tinggi dan puluhan juta orang Amerika berjuang untuk menjaga kepala mereka di atas air agar tidak tenggelam. Trump membanggakan program cutting tax senilai $ 1,5 trilyun kepada perusahaan-perusahaan besar dan kaya agar konsumsi meningkat dan produksi terangkat. Tetapi justru mendorong terjadinya inflasi. 43 persen rumah tangga di AS, hidup dari gaji ke gaji dan tidak mampu membayar untuk perumahan, makanan, perawatan anak, perawatan kesehatan, transportasi dan telepon seluler, tanpa berhutang. Mengapa? upah pekerja rata-rata sebenarnya turun, bukan naik, lima sen per jam sejak Juni tahun lalu setelah disesuaikan dengan inflasi.

Selain itu, kelas menengah Amerika terus runtuh, Federal Reserve melaporkan bahwa 40 persen orang Amerika kekurangan $ 400 dalam pendapatan sekali pakai untuk membayar pengeluaran tak terduga seperti darurat medis atau perbaikan mobil. Lebih lanjut, sekitar setengah manula Amerika tidak memiliki tabungan pensiun dan tidak tahu bagaimana mereka akan aman dimasa tuanya. Generasi muda AS? ratusan ribu tidak bisa kuliah karena biaya dan jutaan berurusan dengan utang mahasiswa yang menindas. Sebagai satu-satunya negara besar di dunia yang tidak menjamin perawatan kesehatan bagi semua orang, lebih dari 30 juta orang Amerika tidak memiliki asuransi kesehatan dan bahkan sangat sedikit yang mendapat jaminan sosial. Sebagian besar dari sistem perawatan kesehatan AS tidak berfungsi. Satu dari lima orang Amerika tidak mampu membeli obat yang diresepkan oleh dokter mereka.

Sementara yang kaya semakin kaya. Rasio GINI sejak tahun 1920-an terus meningkat sampai sekarang. Di Amerika saat ini, 0,1 persen teratas memiliki kekayaan hampir sama dengan 90 persen terbawah. Tiga orang terkaya di negeri ini memiliki kekayaan lebih dari setengah orang Amerika - 160 juta orang. Sementara itu, rumah tangga rata-rata di Amerika memiliki kekayaan kurang dari 35 tahun yang lalu setelah disesuaikan dengan inflasi, dan kekayaan rata-rata mereka di bawah 40 persen hampir nol. Kesenjangan kekayaan antara orang Amerika kulit putih dan Afrika-Amerika telah meningkat lebih dari tiga kali lipat selama 50 tahun terakhir. Yang mengejutkan, keluarga kulit putih rata-rata hampir 10 kali lebih banyak dari keluarga kulit hitam saat ini.

Para pekerja Amerika menilai kompensasi yang mereka terima mandek selama 40 tahun terakhir. Sementara CEO perusahaan pendapatan mereka naik sebanyak 937 persen. Selama empat bulan pertama tahun ini, Jeff Bezos, pendiri Amazon, kekayaannya naik sebesar $ 275 juta - setiap hari. Sementara pekerja berpenghasilan rendah di Walmart dipaksa bergantung pada kupon makanan, Medicaid, dan perumahan umum untuk bertahan hidup, keluarga Walton kini bernilai lebih dari $ 175 miliar. Yang sangat kaya semakin kaya karena setengah dari rakyat AS terus berjuang secara ekonomi, kebijakan Donald Trump menggerakkan AS dengan arah yang salah. Don't buy the lies. Trump and his billionaires might be doing well. But the economy is not the best it's ever been, at least not for working families. Kata teman saya.

 

Sumber : Faceboo Erizeli Jely Bandaro

Friday, October 12, 2018 - 11:45
Kategori Rubrik: