Prabowo (Gak) Bangkrut

Ilustrasi

Oleh : Riza Iqbal

Benarkah Prabowo bangkrut hingga harus melakukan penggalangan dana untuk maju pada pilpres 2019 nanti? 
Rasanya sulit mempercayai bahwa Prabowo Subianto sebagai seorang pengusaha dan juga bagian dari kroni Soeharto mengalami kebangkrutan.

Kekayaan Prabowo yg dilaporkan ke KPK saat pilpres 2009 adalah sebesar Rp 1,58 triliun dan US$ 7,57 juta. Pada pilpres 2014 harta yg dilaporkan ke KPK adalah sebesar Rp 1,67 triliun dan US$ 7,5 juta. Ada peningkatan sebesar Rp 0,1 triliun.

Pada pilpres 2009, biaya kampanye Mega-Prabowo adalah sebesar Rp 257,6 miliar, disitu Prabowo tercatat sebagai penyumbang perorangan terbesar. Begitu juga pada pilpres 2014 saat berpasangan dgn Hatta Rajasa, anggaran biaya kampanye tercatat adalah sebesar Rp 166,5 miliar dan PS juga sebagai penyumbang terbesar.

Dari situ kita bisa melihat bahwa PS menjadi penyandang dana terbesar pada dua kali pilpres, meski saat itu posisinya hanya sebagai cawapres. Walaupun sebagai penyumbang dana kampanye terbesar, kekayaan PS tidak surut, justru pada tahun 2014 meningkat dibanding tahun 2009.

Jadi tidak ada kamusnya Prabowo bangkrut atau bahasa kerennya 'Prabowo Subianto tidak mungkin bangkrut secara finansial'.

Penggalangan dana yang akan dilakukan bukan untuk menutupi masalah finansial tapi untuk mengetahui, seberapa besar konstituen yg benar2 mendukung pencalonan 'Prabowo Subianto' sebagai capres 2019. Dengan penggalangan dana kelas receh, diharapkan konstituen level bawah ikut serta dalam program ini.

Hal tersebut dilakukan oleh tim pemenangan PS karena dilatar belakangi munculnya nama2 lain sebagai capres alternatif. Duri dalam daging bagi PS. Ada gerakan didalam kelompok mereka yg menginginkan PS hanya sebagai King Maker, bukan peraih tampuk kekuasaan. Itulah yg menyebabkan tertundanya pendeklarasian PS sebagai capres 2019.

Disekelilingnya PS banyak parasit kekuasaan yang ingin meraih kemenangan pada pilpres dan pileg 2019. Bagi mereka, kemenangan itu tidak harus menjadikan PS sebagai penguasa (Presiden). Itulah kenapa kampanye yg mereka lakukan hanya #2019GantiPresiden.

Bagi mereka, PS sudah tidak layak lagi untuk dijual setelah dua kali gagal dalam pilpres. Selain itu ada agenda yang berbeda antar masing2 kelompok. Agenda itu akan dikeluarkan jika kemenangan telah diraih, kekuasaan sudah dikempit diselangkangan. Jikapun nanti PS yg keluar sebagai pemenang dan menjadi Presiden, kekuasaan itu harus dibagi, sama rasa sama tahta.

Menghadapi situasi tersebut PS cukup jitu melakukan manuver dan membuat sebuah strategi.

Untuk meraih suara yg diharapkan, sejumlah dana harus disiapkan baik untuk melakukan konsolidasi dan persiapan kampanye yg akan dilakukan. Jumlah biaya itu tidaklah sedikit. Dua kali PS bertanding, dua kali juga PS menjadi penyokong dana untuk perhelatannya itu namun untuk kali ini PS tidak ingin berkorban sendirian, apalagi jika hasil kemenangannya nanti harus dibagi2. Bukan kemenangan mutlak untuk dirinya.

Jadi jika program penggalangan dana ini bisa berjalan dan hasilnya cukup memuaskan, rasa percaya diri PS akan kembali terangkat dan otomatis memiliki penawaran tertinggi sebagai capres dan bisa menyingkirkan calon2 alternatif yg disodorkan parasit2 itu.

Namun bila ternyata popularitas PS memang melorot dan gagal, jangan harap PS mau menggelontorkan dana untuk sebuah kemenangan yg bukan miliknya. Jadi apapun yg terjadi, kemenangan finansial masih milik Prabowo Subianto.

Tyva -

Sumber : Status Facebook Riza Iqbal

 
Saturday, June 23, 2018 - 22:00
Kategori Rubrik: