Prabowo Emosional, Baru Tahu?

ilustrasi

Oleh : Rudi S Kamri

"Turunkan handphone-nya, kalian mau dengar saya atau mau ambil foto ?" teriak Prabowo dengan penuh emosional. 
“Bisa bahasa Indonesia enggak kalian? duduk atau di belakang panggung,” ucap Prabowo lagi dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.
"Ini ciri khas bangsa kita. Disuruh tertib susah banget. Sudah ditegur malah ketawa lagi," katanya dengan nada penuh amarah.

Tak bisa diganggu saat orasi, emosi Prabowo meledak. Kejadian tersebut terjadi di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Margonda Raya, Depok, Minggu tanggal 1 April 2018 lalu.

Kejadian di atas hanyalah salah satu contoh betapa seringnya seorang Prabowo begitu gampang dan sering meluapkan emosinya, bahkan kepada para pendukungnya sendiri. Dia pernah meluapkan amarahnya kepada para wartawan. Dia juga sering kali menghina dan mengejek rakyat kecil, seperti kasus Boyolali. Bahkan konon menurut mantan Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212 Usamah Hisyam dikabarkan Prabowo pernah marah dan menggebrak meja di depan forum Ijtima Ulama I hanya karena disebutkan Prabowo tidak bisa sholat dan tidak bisa ngaji.

Kasus terakhir di Cianjur, 12 Maret 2019. Prabowo terlihat begitu emosional dan marah bukan sekedar kemarahan verbal tapi juga secara fisikal dengan memukul tangan seseorang secara kasar dari atas mobil yang sedang berjalan. Siapapun orang yang dipukul tangannya, entah dia rakyat biasa atau pengawalnya, Prabowo memang acap kali tidak bisa mengendalikan diri dan begitu mudah terpancing emosinya di ruang publik secara terbuka.

Sebetulnya sifat emosional seorang Prabowo sudah menjadi rahasia umum. Dan hal ini sesuai dengan hasil survey yang respondennya terdiri dari 204 orang PSIKOLOG dari seluruh Indonesia beberapa waktu lalu. Hasil dari survey tersebut calon presiden Prabowo Subianto dinilai LEBIH EMOSIONAL dibanding rivalnya, Joko Widodo.

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, waktu itu menjelaskan, jika diukur dengan angka 1-10, poin untuk stabilitas emosi Prabowo berada pada angka 5,16. Adapun Jokowi 7,60 dalam hal ketenangan dalam menghadapi persoalan yang berat.
“Jadi, soal stabilitas emosi, Jokowi relatif lebih stabil dibanding Prabowo,” kata Hamdi dalam jumpa pers di Jakarta beberapa waktu lalu.

Demikian pula dalam hal kemampuan menyelesaikan persoalan pelik, poin untuk Jokowi juga lebih tinggi dibanding Prabowo. Jokowi mendapat poin 7,83 dan Prabowo 6,23 poin. Untuk kadar AMBISI BERKUASA Prabowo dinilai lebih berambisi untuk berkuasa dengan poin 8,64, sedangkan Jokowi diberi poin 6,10..

Dekan Fakultas Humaniora Universitas Bina Nusantara, JAA Rumeser, mengatakan, sifat calon pemimpin perlu diketahui oleh publik guna mendapatkan referensi memilih yang sempurna. Akan tetapi, ia berpendapat bahwa ada yang lebih penting ketimbang sifat, yakni perilaku.

“Perilaku memberi contoh, memberi inspirasi, men-challenge proses, membuat orang lain mampu, dan perilaku yang mampu menyentuh hati. Karena menggerakkan itu bukan ke dalam pikiran, tapi ke perasaan,” ujarnya.

Ulasan ini adalah respon saya untuk tidak mau terpancing polemik atas video dari Prabowo sedang meluapkan amarahnya dari atas mobil yang saat ini sedang viral. Karena menurut saya, sifat emosional seorang Prabowo bukanlah merupakan hal yang baru atau mengagetkan. Jadi pembelaan berbusa-busa dari Timses Prabowo di BPN bagi saya ibaratnya seperti "membungkus api dengan kertas". Sesuatu yang sia-sia dan suatu saat akan membakar tangan mereka sendiri.

Sekarang pilihan kita serahkan pada akal waras masyarakat Indonesia. Mau dipimpin seorang Presiden yang tenang dan santun atau seorang yang emosional dan ambisius.

Pilihan yang mudah, kan ?

Salam SATU Indonesia,
Sumber : Status Facebook Rudi S Kamri

Thursday, March 14, 2019 - 07:30
Kategori Rubrik: