Prabowo, Dari Penebar Rasa Pesimis sampai Politisasi Kemiskinan

Oleh : Nadia

Prabowo, calon presiden yang diusung Partai Gerindra, PKS, PAN dan Partai Demokrat tidak hanya sekali menyatakan rasa pesimis, kecil hati  terhadap  bangsa Indonesia. Ia pernah menyatakan dengan gamblang bahwa Negara Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Parahnya pernyataan tersebut menyitir ulasan novel fiksi.

Meskipun banyak ditertawakan, diragukan sumber data, Prabowo makin terlihat tidak memiliki kredibilitas sebagai calon presiden. Tingkahnya yang suka menebar rasa pesimis, kembali diulanginya. Saat Prabow menjadi pembicara  kunci dalam Seminar Nasional dan Bedah Buku "Paradoks Indonesia", yang digelar   oleh Institut Madani Nusantara di Ballroom Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (1/9/2018).
Isi buku itu menampilkan kekayaan alam Indonesia yang belum bisa diolah dengan optimal serta deskripsi tentang masyarakat yang belum sejahtera.

Dalam kesempatan itu Prabowo  menyinggung perihal utang negara yang semakin tambah serta mengungkapkan bahwa utang negara setiap tahun kian naik. Ia menyoroti utang Indonesia pada kuartal I 2018 menyentuh Rp 4.227 triliun atau sebesar 29,79 persen dari produk domestik bruto (PDB). Capres yang kalah dari Jokowi tahun 2014 ini bahkan menyebut utang Indonesia kini Rp 1 triliun tiap hari. Prabowo  berpendapat bahwa  pertumbuhan ekonomi tidak naik, Indonesia terancam negara miskin selamanya.

Prabowo juga menambahkan indikator yang menunjukkan ketimpangan sosial memang terjadi di Indonesia.
Prabowo jelas menutup mata bahwa  Indonesia berhutang  selama ini  untuk kepentingan rakyat Indonesia sendiri seperti untuk pembangunan infrastruktur dan kegiatan produktif pemerintah lain. Untuk membangun infrastruktur di berbagai penjuru negeri pada 2015-2019, Indonesia membutuhkan anggaran sekitar Rp5.000 triliun. Biaya itu tidak bisa semuanya dibiayai APBN atau APBD, sehingga pemerintah mencari jalan lain, yaitu menarik investasi dari luar negeri dengan menerbitkan surat utang.
Pemerintahan Jokowi  telah berhasil membangun di antaranya 2.623 km jalan aspal, sebagian besar di Indonesia  timur yang selama  pemerintah sebelumnya ini tidak tersentuk pembangunan, seperti di Papua, perbatasan Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur".

Selain itu  lebih dari 560 km jalan tol telah selesai dibangun,  lebih 25.000 meter jembatan,  sejumlah bandar udara, juga proyek lainnya seperti  proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek dan Palembang, serta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Selain itu, Jokowi telah mencicil hutang luar negeri hingga Rp 1.600 T selama 4 tahun.

Capres Yang Selalu Pesimis dan Jualan Kemiskinan

Seorang pemimpin  yang mempunyai tanggungjawab besar di pundaknya tentu saja harus  mampu bekerja keras, bertanggungjawab, dan harus mempunyai rasa optimisme yang tinggi. Belum terpilih menjadi orang nomor satu  di negeri ini saja, Prabowo sudah tidak percaya diri, tidak mempunyai rasa optimisme, bagaimana jika memimpin Negara ini?

Berkali-kali rasa pesimis dilontarkan Prabowo kepada publik dan berkali-kali juga ia merasa pernyataanya itu benar. Prabowo seperti segaja ‘berjualan’ kemiskinan sebagai strategi politiknya untuk mempengaruhi simpati  rakyat.

Dengan selalu menyampaikan  persoalan kemiskinan ia rupanya berharap rakyat akan merasa ketakutan, cemas, was-was sehingga berpikir kalau ingin aman harus memilih pemimpin yang akan membawanya keluar dari kemiskinan.
Apakah calon pemimpin  yang mempunyai karakter seperti ini layak untuk memimpin ratusan juta rakyat Indonesia? Rakyat tentu sudah sangat  cerdas untuk menilai dan memilih yang terbaik  yang mampu membawa bangsa Indoensia menjadi bangsa yang lebih besar, jaya, makmur dan rakyat sejahtera .
#2019jangansalahpilih
#2019kerjakerjakerja
#2019JokowiLagi

Monday, September 3, 2018 - 18:00
Kategori Rubrik: