Prabowo Capres Hoax

Oleh : Guntur Wahyu Nugroho

Bagaimana rasanya ditelanjangi habis-habisan di depan publik karena mempercayai kebohongan yang dibuat oleh pendukung militannya yang ditelanjangi secara sempurna sebagai kebohongan atau hoax oleh polri ? Hanya Prabowo dan tim intinya yang tahu. Namun satu hal yang pasti, kredibilitas Capres 02 hancur berkeping-keping. Bukan serangan dari luar yang menjadi penyebabnya melainkan gol bunuh diri yang dilakukan oleh Ratna Sarumpaet.

Ketika Prabowo menebar pesimisme bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 dengan mendasarkan diri pada novel fiksi, Prabowo dan pasukannya nampak percaya diri meladeni serangan kritik dari berbagai penjuru mata angin. Rasionalisasi, justifikasi dan retorika masih cukup ampuh dijadikan perisai dari serangan gelombang kritik yang menggerus kredibilitas Prabowo. Pesan politik yang terselip dari pidatonya adalah prediksi Indonesia bubar pada 2030 tidak akan terjadi apabila ia yang menjadi Presiden. Narsis, bukan ?

Namun untuk klaim penganiayaan terhadap Ratna Sarumpet, Prabowo terlalu cepat melangkah, yang ia akui sebagai "grasa-grusu" yang berakibat salah langkah dan terjerumus dalam perangkap hoax yang dipasang oleh "korban" penganiayaan. Simak saja dalam pidatonya sesudah bertemu dengan Ratna Sarumpaet, ia menghubung-hubungkan "kemalangan demi kemalangan" yang menimpa pendukung militannya dengan pernyataan yang bernada insinuatif kepada pemerintah saat ini. Boleh jadi hal yang tak terduga dan tidak diharapkan adalah respon cepat tanggap polisi dalam membongkar skenario hoax dengan menyediakan data dan fakta secara gamblang kepada publik tentang kebohongan Ratna Sarumpaet.

Konferensi Pers oleh RS makin mengikis habis sekaligus melucuti pesona dan kredibilitas Prabowo sebagai Capres hoax khususnya di kalangan pendukung fanatiknya. Ini menunjukkan kelemahan mendasar dalam Badan Pemenangan Nasional yang lebih memilih melahap suatu isu yang berpotensi menjadi amunisi politik yang mampu memojokkan kubu petahana daripada mengupayakan cek, recek dan klarifikasi dengan mendasarkan diri pada data dan bukti obyektif.

Sungguh suatu kemalangan besar bagi rakyat Indonesia apabila Presiden membuat kebijakan dan keputusan strategis berdasarkan informasi palsu dan bohong. Hanya karena mempercayai informasi bahwa rakyat Papua maupun Aceh melakukan pemberontakan, Presiden berkarakter seperti Prabowo akan dengan sigapnya memberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) di kedua propinsi tersebut. Sungguh sangat berbahaya sekali.

Publik harus berterima kasih kepada polri yang menjadi the real hero, mengantisipasi klaim penganiyaan ini dikultivasi, digoreng dan dikapitalisasi sedemikian rupa untuk mengeskalasi suhu politik. Prabowo mati kutu sebab memakan hoax mentah-mentah. Dan RS pun ditinggal sendiri dalam sepi dan sunyi meratapi kebodohannya. Pernyataan Prabowo yang terakhir sebagaimana dikutip dari kompas.com, " Saya atas nama pribadi dan pimpinan tim kami ini, kami minta maaf kepada publik bahwa saya ikut menyuarakan sesuatu yang belum diyakini kebenarannya". (Rabu, 3 Oktober 2018) menegaskan bahwa ambisi politiknya untuk memblow-up isu penganiayaan RS telah mematikan akal sehatnya melakukan cek dan recek data, tidak sekedar berpegang pada pengakuan subyektif dan klaim sepihak dari RS.

Kerusakan sudah terlanjur terjadi dan dampaknya menggerus kredibilitas Prabowo secara serius. Haruskah rakyat mempercayakan masa depannya dan masa depan Indonesia kepada Capres yang defisit integritas dan kredibilitas ? Kalau anda mempercayai Capres hoax, itu namanya bunuh diri.

 

Sumber : facebook Guntur Wahyu Nugroho

Thursday, October 4, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: