Prabowo Bersaksi

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Dalam sepekan ini ada dua kejutan berita. Maksud saya ada dua subjek atau pokok berita yang menjadi perbincangan ramai baik di media sosial maupun media pewartaan.

Dapat dikatakan Prabowo Subianto adalah musuh bebuyutan politik Jokowi. Sudah dua kali berturut-turut Jokowi dan Prabowo berlaga dalam pemilihan presiden. Selama lima tahun menjadi oposisi Prabowo tak pernah mengakui, apalagi memuji, keberhasilan Jokowi membangun infrastruktur, meningkatkan pelayanan pemerintah, dlsb. Prabowo lebih memilih mengangkat semboyan-semboyan basi seperti kebocoran anggaran dan korupsi.

Pada Rabu, 22 April 2020, dengan bergairah Prabowo menyampaikan kesaksian mencengangkan, “Selama saya menjadi anggota kabinet Presiden Joko Widodo saya bersaksi bahwa beliau terus berjuang demi kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia. Saya melihat dari dekat cara-cara pengambilan keputusan beliau dan selalu yang menjadi dasar keputusan beliau adalah keselamatan rakyat yang paling miskin dan rakyat yang paling lemah.”

Belum pernah saya melihat Prabowo Subianto berbicara sebergairah itu. Itu pokok berita pertama.

Pokok berita kedua adalah wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Jokowi. Presiden Jokowi menjelaskan secara gamblang apa itu pulang kampung. Najwa memertanyakan kebijakan Jokowi melarang orang mudik. Padahal, kata Najwa, sudah banyak sekali orang yang sudah mudik sebelum ada larangan itu. Jokowi membantah Najwa. “Itu pulang kampung!” kata Jokowi. Orang-orang sudah tidak punya apa-apa lagi, tidak punya pekerjaan lagi terkena dampak krisis Covid19, maka tak ada pilihan lagi bagi mereka untuk pulang kampung karena anak-istri mereka tinggal di kampung, jelas Jokowi.

Bacaan Injil Minggu Ketiga Masa Raya Paska secara ekumenis diambil dari Lukas 24:13-35. Bacaan Injil Lukas mengisahkan Yesus-Paska menampakkan diri di jalan ke Emaus. Dikisahkan pada hari itu juga (berarti pada hari kebangkitan Yesus) dua orang murid Yesus pergi dari Yerusalem ke sebuah kampung bernama Emaus. Jarak Yerusalem ke Emaus 7 mil atau 11.2 km. Tempo dulu saya sering berjalan kaki dengan jarak seperti itu dan biasa-biasa saja. Apalagi 21 abad lalu berjalan kaki sejauh itu adalah hal yang lumrah.

Sambil berjalan kedua murid itu bercakap-cakap tentang apa yang terjadi beberapa hari terakhir. Hati mereka remuk redam. Guru mereka, Yesus, yang sangat diharapkan menjadi mesias, Raja Israel, dipermalukan dan dihabisi oleh konspirasi Yahudi dan Roma. Para pengikut Yesus juga diburu oleh tentara Roma, karena mereka dituduh menyembunyikan mayat Yesus. Ancaman dan teror dari pasukan Roma membuat para pengikut Yesus gentar dan tercekam. Putus pengharapan. Tak punya apa-apa lagi. Di tengah situasi tak menentu akan masa depan mereka memilih pulang kampung.

Di tengah perjalanan Yesus muncul bergabung dengan mereka dan menyapa,”Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”. Dengan wajah murung mereka menatap Yesus, tetapi mereka (seperti) tidak mengenali-Nya. Ini bukan hal luar biasa. Di masa kini orang-orang sibuk dengan ponsel cerdas sampai-sampai tidak mengenal lagi orang-orang di sekitar mereka. Apalagi jika orang tersebut sedang bermuram durja didera kedukaan dan putus pengharapan mendalam seperti yang dirasakan kedua murid dalam kisah ini. Tentu saja mereka sama sekali tidak berpikiran dan menyangka bahwa mereka sedang berjalan dengan Yesus.

Gaya khas narasi penulis Injil Lukas hanya memberikan satu nama dari dua murid itu, yaitu Kleopas. Penulis Injil Lukas seakan-akan mengajak pembaca untuk menjadi satu murid yang lain. Dalam perjalanan itu Kleopas bertanya kepada Yesus,”Loe orang baru di sini? Loe tidak tahu apa yang terjadi di sini?” Kleopas kemudian menceritakan bagaimana Yesus, guru sekaligus pemimpin rohaninya, yang sudah berbuat banyak bagi kemanusiaan difitnah oleh para pemimpin agama Yahudi. Mereka menyerahkan Yesus kepada Mahkamah Agama serta mengirimnya kepada pemegang otoritas Romawi, Pontius Pilatus, untuk dihukum mati. Pada hari ketiga dikabarkan jenasah Yesus hilang. Para pemimpin agama menyuap tentara Romawi untuk menyebarkan hoax bahwa jenasah Yesus dicuri oleh murid-murid-Nya. “Kami sudah putus asa dan lebih baik kami pulang kampung.” Begitu kira-kira curhat dua murid itu kepada “orang asing itu”.

Dalam perjalanan ke Emaus itu Yesus mengajar mereka bahwa mesias harus menderita sesuai perkataan para nabi. Dapat kita bayangkan bagaimana sulitnya Yesus mengajar dua orang stres ini. Terbukti saat memasuki Kampung Emaus dua orang ini sama sekali tidak tahu dengan siapa mereka bercakap-cakap. Hari menjelang gelap dan menjadi adat orang Yahudi untuk menawarkan tumpangan rumah, maka mereka menawarkan “orang asing itu” untuk menginap sebelum melanjutkan perjalanan esok hari. Yesus menerima penawaran itu.

Tak lama kemudian mereka bersantap malam. Sudah menjadi kebiasaan Yesus saat bersantap bersama dengan murid-murid Ia mengucap berkat, memecah-mecah roti, dan membagikan kepada para murid. Apabila Anda memiliki seorang sahabat tentu sudah sangat hafal akan kebiasaan khasnya dan juga sebaliknya. Demikian juga kedua murid yang bersantap malam bersama dengan “orang asing itu” melihat kebiasaan khas Yesus. Mereka tersentak dari “tidur” dan baru menyadari bahwa “orang asing itu” Yesus. Saat mereka tersadarkan, Yesus menghilang dari hadapan mereka. Stres hilang, hati mereka berkobar-kobar, tanpa menunggu esok hari mereka langsung kembali ke Yerusalem untuk mengabarkan sukacita itu kepada teman-teman mereka.

Dari bacaan di atas menyuratkan bahwa kekristenan tidak menyakralkan penderitaan. Penderitaan adalah manusiawi. Seluruh dunia termasuk Indonesia saat ini menderita atas krisis pandemi Covid19. Saya tidak tahu mengapa dan untuk apa krisis Covid19 ini selain hanya menghasilkan penderitaan. Akan tetapi saya teringat teolog dari Taiwan, Choan-Seng Song, yang mengatakan, ”Penderitaan adalah tempat Allah dan manusia bertemu. Itulah tempat semua orang — raja-raja, imam-imam, orang-orang miskin, dan pelacur-pelacur — menemukan dirinya sebagai manusia yang lemah dan fana, serta membutuhkan kasih Allah yang menyelamatkan.”

Dalam situasi krisis ini amat sangat disayangkan Gereja lebih tertarik pada mesias yang bermahkota emas daripada yang bermahkota duri. Ia dihiasi dengan semarak dan ditinggikan di atas altar di dalam gedung-gedung yang megah penuh kesombongan. Kita sudah menyaksikan laga dua pihak dari dua kelompok gereja: Stephen Tong dari pihak satu dan Gilbert Lumoindong dkk. dari pihak dua. Siapa yang benar dan siapa yang salah? Saya tidak tertarik menilainya. Yang pasti kedua belah adalah pihak penguasa gereja kaya yang menjadikan Kristus bahan dagangan. Kristus yang dimahkotai emas dipenjara di dalam gereja mewah dan megah.

Narasi Emaus mengajak gereja melakukan otokritik. Jalan kepada kemuliaan tidak ditempuh dengan menapaki karpet merah. Seperti yang dilakukan oleh kedua murid itu menawarkan kesanggrahan (hospitality) kepada Yesus. Narasi Emaus mau mengajak gereja untuk membuka pintu-pintunya menolong orang-orang di luar yang menderita akibat krisis Covid19. Akibat sampingan krisis Covid19 ini memang dahsyat: ekonomi masyarakat ambruk dan bangkrut.

Presiden Jokowi sangat menghayati arti penderitaan. Ia mengakui ketika orang-orang sudah tidak punya apa-apa, sudah habis pengharapan, memang sebaiknya pulang kampung. Barangkali Jokowi sudah sebal dan putus harapan kepada lembaga-lembaga agama termasuk gereja kaya yang tidak segera membuka pintu pertolongan. Mereka hanya sibuk saling berebut kedigdayaan seperti yang diperagakan oleh Stephen Tong dan Gilbert Lumoindong dkk.

Saya membayangkan seluruh gereja di Indonesia kompak membuka penawaran kesanggrahan bagi orang-orang yang menderita akibat krisis Covid19. Pada saat itulah sesungguhnya mereka sedang melayani Kristus. Prabowo-Prabowo yang lain muncul dan dan dengn penuh gairah mereka berkata, “Saya bersaksi bahwa Kristen bukanlah agama, melainkan kumpulan orang yang penuh welas asih.”

Quote of the day:
Men who have pierced ears are better prepared for marriage. They've experienced pain and bought jewelry.

Wassalam,

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Saturday, April 25, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: