Prabowo, Antara Nafsu, Sanjungan dan Kebodohan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Rival utama Jokowi yg bakal mencapreskan diri utk ketiga atau keempat kali ( sampai lupa saiya ) terus membocorkan diri, digadang atau menggadangkan diri sbg orang yg paling nasionalis dan layak mengganti Jokowi saat manusia langka itu sdg dipuncak proses membawa Indonesia kearah kejayaan dan kebenaran sebagai negara yg berdaya guna bagi bangsanya.

3 isu yg pantas disimak dari sosok jendral pecatan dan ex pelarian, yg tiba2 bicara akan membenahi Indonesia yg pernah diobrak abrik mertuanya dan dia ikut andil disana, itu fakta bkn cerita.

 

 

Isu pertama adalah nafsunya yg menggila utk menjadi presiden, entah apa dibenaknya kl sampai gagal dan gagal panen, apakah karena penyakit bawaan atau daya jualnya rendah sbg pemimpin karena bangsa ini trauma atas kelakuannya yg tidak bisa dianggap persoalan biasa. Nafsunya jg menjadi catatan apakah benar dia punya niat baik atas negara yg pernah ditentang bapaknya dan dirusak mertuanya, Kita pasti menolak lupa.

Sebagai ex mantu orang kuat dgn 32 thn menimbun harta bejibun, Prabowo bukanlah orang yg tidak pandai ikut menyamun. Lihat saja kerajaan bisnisnya, asetnya, sampai punya istana megah Hambalang lengkap dengan pasukan dan kuda mahalnya, berapa besar biayanya, kl tidak kaya mana bisa dia punya semuanya.

Isu kedua adalah sanjungan. Dengan kekayaannya dia bak gula dikerubuti semut bersungut, gak perduli dimaki yg penting dana terus ada. Sanjungan dan pujian bisa dibuat apa saja sesuai selera bossnya, sampai2 surveypun mereka punya dgn angka yg dibuat sendiri agar angkanya disesuaikan kpd selera juragannya. Makanya selalu kebalik, Prabowo unggul dari Jokowi menurut versi mereka sendiri. Dan angka manipulasi itu yg selalu membuat Prabowo percaya diri, sekaligus membuatnya nabrak sana sini, padahal dia sedang di kerjai dgn sanjungan asal bunyi. Sanjungan memang menyenangkan sekaligus mematikan.

Ketiga adalah kebodohan. Orang bijak mengatakan ; Orang yg suka menari diatas sanjungan, ibarat hamster berlari didalam putaran rolling case. Seakan berlari naik, padahal jalan ditempat. Otak yg dipenuhi zat kesenangan akan sanjungan biasanya karena proses hidupnya gampangan, selalu kerap dipuji dgn hasil yg bkn berdasarkan prestasi nmn dikasi. Orang2 tipe ini cenderung haus utk selalu dipuji, gampang dikerjai dan bisa terlukai. Beda dgn Jokowi, manusia dgn akal budi yg ditempa oleh himpitan kesulitan. Hidup dibantaran kali, berselimut dinginnya air kali membuat akhlaknya biasa mencermati setiap proses yg dijalani.

Bagaimana orang yg hidupnya dikellingi kemudahan dan pujian bisa berempati kepada kesulitan, kelaparan dan beratnya hidup. Anak elang tak mungkin terbang bila terus menerima makanan dari paruh induknya, tanpa dipaksa keluar dari sarangnya. Kita akan menjadi tolol akut bila manggut2 mendengar retorika manusia yg bicaranya menabrak kebenaran dan kenyataan. Mengatakan rakyat makin miskin, namun dia menyodorkan kotak sumbangan utk pencapresan. Beku akal akal kita kalau ada raja hidup diistana meminta kepada rakyat jelata utk membeli kebohongannya, kita gila sekaligus bodoh pangkat lima kl mau mengikutinya.

# JANGAN GANTI PRESIDEN KL DAPATNYA CUMA KUDA BEBAN.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Tuesday, June 26, 2018 - 07:30
Kategori Rubrik: